Jakarta, 27 Juni 2011 (KATAKAMI.COM) — Dalam pembahasan di rapat kabinet mingguannya pada hari Minggu ( 27/6/2011) kemarin, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tak sedikitpun menyinggung mengenai masalah rencana kedatangan iring-iringan kapal Flotilla Jilid Dua yang kabarnya membawa bantuan kemanusiaan yang sudah bergerak menuju perairan Israel.
Hari Senin, Kapal Flotilla Jilid Dua ini dikabarkan sudah bersiap meninggapkan perairan Yunani untuk segera menuju ke arah Israel guna menyampaikan “bantuan kemanusiaan” untuk rakyat Palestina di Jalur GAZA.
Netanyahu memang menyampaikan beberapa poin kepada media massa mengenai rapat kabinet mingguannya.
Antara lain mengenai masalah penawanan Kopral Gilad Shalit yang memasuki tahun kelima penawanan oleh kelompok militan HAMAS.
Selengkapnya, pernyataan Netanyahu mengenai Gilad Shalit adalah :
“Yesterday was the fifth anniversary of Gilad Shalit’s abduction. He is being held by a brutal enemy, Hamas, which refuses to uphold either the minimal demands of the international treaties or humanitarian conditions. It has refused to allow him even one visit by the International Committee of the Red Cross. It is holding him in harsh conditions and we know how his family is suffering. I think that the entire nation and all fair and just people in the world are incensed at what Hamas is doing.
We have applied heavy international pressure, which has found expression in remarks by the leaders of countries such as the US and in Europe, and in yesterday’s statement by UN Secretary-General Ban Ki-Moon, all of whom are demanding Gilad’s immediate release and a visit by the ICRC beforehand. We have also decided to change the conditions of [Hamas] prisoners; that party is over.
We are involved in many actions, and I do not think that this is the place to go into details, all of which are in order to bring Gilad Shalit back home, safe and sound. The State of Israel is ready to go far, more than any other country, in order to secure Gilad’s release but it is my responsibility, and the responsibility of those who are sitting here, to see to the security and lives of the Israeli people.
We received a proposal from the German mediator. This proposal was harsh; it was not simple for the State of Israel. However, we agreed to accept it in the belief that it was balanced between our desire to secure Gilad’s release and to prevent possible harm to the lives and security of the Israeli people. As of now, we have yet to receive Hamas’s official answer to the German mediator’s proposal.”

Kedua orangtua dari prajurit Gilad Shalit, yaitu Aviva, sang ibu di sebelah kiri, dan sang ayah yaitu Noan Shalit, tengah, membaca surat dari Presiden Perancis Nicolas Sarkozy yang disampaikan oleh Duta Besar Perancis untuk Israel Christophe Bigot, yang disampaikan dalam ranggka peringatan 5 tahun penawanan Gilad Shalit. Gilad Shalit adalah prajurit Israel yang memiliki dua kewarganegaraan yaitu PERANCIS dan ISRAEL
Lima Tahun Penawanan Gilad Shalit, Hamas-Fatah Rebutan Kursi Perdana Menteri Palestina
Netanyahu memang tidak mau mengungkapkan isi detail dari rapat kabinet mingguannya kepada media lokal di Israel.
Tetapi berdasarkan pemberitaan HAARETZ yang mendapat keterangan dari sumber mereka bahwa dalam rapat kabinet mingguan itu, Netanyahu memberikan peringatan kepada kalangan pemerintahannya bahwa tidak akan ada satu kapalpun dari iring-iringan Kapal Flotilla Dua yang akan diizinkan menembus blokade yang akan dibuat oleh Angkatan Laut Israel.
Bahkan dalam rapat kabinet mingguan itu dibahas secara internal bahwa Flotilla Jilid Dua akan diikuti oleh 10 kapal dari berbagai negara, diantaranya adalah aktivis Hak Asasi Manusi dan Jurnalis dari Amerika Serikat, Canada dan beberapa negara Uni Eropa.
Netanyahu memerintahkan militernya bahwa iring-iringan kapal Flotilla Dua itu harus diblokade dan dihalau keluar dari perairan Israel.
Sejak sebulan terakhir militer Israel atau Israel Defense Force (IDF) memang sudah bersiap-siap menyambut kedatangan iring-iringan kapal ini.
Kuatnya tekanan kepada Netanyahu dalam beberapa hari terakhir ini menyangkut masalah Gilad Shalit, tak lain tak bukan karena tanggal 25 Juni kemarin adalah peringatan 5 tahun penangkapan dan penawanan prajurit yang malang ini.
Dan sudah barang tentu, tekanan paling kuat datang dari pihak Keluarga Besar Gilad Shalit.
Ayah, ibu, bahkan kakeknya, melampiaskan kemarahan, kekecewaan dan kepedihan hati mereka dengan cara mengecam Netanyahu sekeras mungkin lewat pernyataan mereka.
Kemarahan, kekecewaan dan kepedihan hati Keluarga Besar Gilad Shalit ini sesungguhnya sangat manusia.
Benar-benar dapat dipahami oleh siapapun dimuka bumi ini !
Lima tahun adalah masa yang sangat panjang untuk menantikan kepulangan seorang anak / cucu dari masa “kehilangannya” dan raib di tangan musuh.
Jadi jangan heran kalau dari semua penjuru angin, Netanyahu diserang dan ditekan dari pihak manapun di negaranya yang ingin agar Pemerintah Israel bergerak lebih dinamis dalam menegosiasikan pembebasan Gilad Shalit.
Seiring dengan itu, Pemerintah Israel, terutama Angkatan Pertahanan Israel (IDF) saat inipun dihadapkan pada sebuah potensi masalah baru yaitu rencana kedatangan Kapal Flotilla Jilid Dua.
Walaupun Kapal Mavi Marmara yang tahun 2010 lalu menjadi “kapal induk” yang memimpin iring-iringan Flotilla Jilid Satu tak ikut pada misi kedua di tahun 2011 ini, rencana kedatangan Flotilla Jilid Dua tetap sangat diminati oleh banyak pihak.
Netanyahu dihadapkan, dan bahkan diuji saat ini, terhadap dua masalah besar yaitu rencana kedatangan Kapal Flotilla Jilid Dua, dan merespon tekanan yang sangat kuat dari dalam negerinya untuk segera berbuat lebih maju dalam perjuangan membebaslan prajurit Gilad Shalit.

Menteri Luar Negeri Perancis ALAIN JUPPE menemui ayah dari Gilad Shalit yaitu NOAM SHALIT untuk menyampaikan keprihatiann dari Pemerintah Perancis atas penawanan yang masih tetap dilakukan Hamas sampai memasuki tahun kelima. Juppe bertemu Noam Shalit tanggal 2 Juni 2011 di Yerusalem, Israel. Gilad Shalit yang sudah 5 tahun ditawan HAMAS adalah pemegang dua kewarganegaraan yaitu ISRAEL dan PERANCIS.
Dua masalah besar yang menerpa Netanyahu ini terjadi hanya beberapa hari menjelang pertemuan yang dimotori Pemerintah Perancis untuk menggelar semacam konferensi untuk melanjutkan perundingan perdamaian antara Israel dan Palestina.
Menurut rencana, Konferensi Paris ini akan digelar pada awal bulan Juli mendatang.
Yang menarik dalam konteks ini, Perancis terkait secara langsung dan tidak langsung dalam tali temali permasalahan ini.
Soal Gilad Shalit misalnya, prajurit ini memang terdaftar sebagai prajurit Israel.
Tetapi Gilad Shalit merupakan warga negara Israel dan Perancis karena ia memang mempunyai 2 kewarga-negaraan.
Lalu sebagai bagian dari kekuatan Kelompok Kwartet Timur Tengah, Perancis berinisiatif untuk menjadi tuan rumah kelanjutan proses perdamaian antara Israel dan Palestina.
Kelompok Kwartet Timur Tengah adalah Amerika Serikat, Rusia, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan negara-negara yang tergabung dalam UNI EROPA.
Itulah sebabnya Pemerintah Perancis mengundang Pemerintah Palestina dan Pemerintah Israel untuk duduk bersama di meja perundingan yang difasilitasi Pemerintah Perancis pada awal bulan Juli mendatang.
( Dan yang menarik disini, salah satu kapal yang ingin bergabung dengan iring-iringan Kapal Flotilla Jilid Dua adalah kapal yang berasal dari PERANCIS ).

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Paris, 5 Mei 2011
Tak cuma itu kaitan langsung dan tidak langsung antara Perancis dengan permasalahan yang menghangat saat ini di Israel.
Jika Konferensi Paris yang akan diselenggarakan pada awal bulan Juli mendatang jadi dilaksanakan, maka akan ada satu lagi nuansa sejarah yang akan mempererat “hubungan bathiniah” antara Perancis dan Israel.
Sebab, tanggal 3 dan 4 Juli mendatang adalah peringatan 35 tahun Operasi Entebbe yaitu Operasi Penyelematan Sandera pada maskapai penerbangan AIR FRANCE yang dilakukan kelompok militan Palestina.
Letnan Kolonel Yoni Netanyahu (kakak / saudara tertua dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu) merupakan komandan PASUKAN KHUSUS ISRAEL yang mendapatkan tugas untuk mengatasi aksi TERORISME pembajakan pesawatAIR FRANCE Flight 138 dengan rute dari TEL AVIV, ISRAEL, menuju PARIS, PERANCIS.
Operasi khusus yang dikenal dengan nama OPERASI ENTEBBE ini, dilakukan untuk menyelamatkan para penumpang yang menjadi sandera dari teroris Palestina.
Misi menyelamatan yang dilakukan oleh Pasukan Khusus Sayeret Matkal ( salah satu unit terbaik yang dimiliki oleh Israel Defense Force atau IDF ).
Dan dalam operasi ini, Yoni Netanyahu bertindak sebagai komandan lapangan.
Bandara Entebbe di Uganda merupakan LOKASI dari operasi penyelamatan sandera oleh Pasukan Khusus Israel Sayeret Matkal.
Peristiwa ini berlangsung pada ( malam hari ) tanggal 3 Juli sampai pagi hari tanggal 4 Juli 1976.
Operasi telah dirancang secara rahasia dan dilakukan menentang negara Uganda, dimana pemimpinnya, Idi Amin mendukung pembajakan tersebut.
Operasi Entebbe berhasil membebaskan 100 orang tawanan yang ada didalam pesawat AIR FRANCE.
Pada tanggal 27 Juni 1976 Pesawat naas AIR FRANCE dengan nomor penerbangan 139 lepas landas dari Tel Aviv ke Paris.
Pesawat itu berhenti di Yunani seperti yang direncanakan, di mana 56 penumpang naik, di antaranya adalah para teroris Palestina.
Para teroris bersenjata menguasai pesawat sepanjang penerbangan yang berisi sebanyak 246 penumpang.
Teroris memerintahkan pilot untuk mendarat pertama di Libya, lalu kemudian mendarat di Bandar Udara Entebbe, Uganda. Lalu untuk melakukan operasi penyelamatan, pada tanggal 3 Juli 1976, empat pesawat Hercules yang berisi 200 tentara IDF lepas landas dari Sharm El Sheikh, Israel menuju Uganda.

Foto Atas : Operasi Entebbe. Operasi Penyelamatan Sandera pesawat AIR FRANCE di Bandar Udara Entebbe, Uganda, tanggal 4 Juli 1976. Tanggal 4 Juli 2011 mendatang adalah peirngatan 35 tahun Operasi Entebbe yang menyelamatkan maskapai penerbangan PERANCIS yang dibajak oleh kelompok militan Palestina. Foto Bawah : Gilad Shalit. Tanggal 25 Juni 2011 adalah peringatan 5 tahun penawanan Gilad Shalit oleh Kelompok Militan Hamas. Gilad Shalit adalah warga negara Israel dan Perancis.
Jadi, dalam suasana peringatan 5 tahun penawanan Gilad Shalit (25 Juni 2011) dan peringatan 35 tahun Operasi Entebbe ( 4 Juli 2011), mau tak mau Perancis terkait secara langsung dan tak langsung dalam upaya membantu proses perundingan perdamaian antara Israel dan Palestina.
Tetapi, yang perlu terus didorong dari Pemerintah Perancis ( khususnya Presiden Nicolas Sarkozy ) untuk membebaskan Gilad Shalit adalah kebijakan yang lebih nyata.
Korespondensi antara Presiden Perancis secara rutin kepada Keluarga Besar Gilad Shalit memang akan sangat menghibur dikala keluarga yang malang ini terus menerus dirundung duka menantikan keajaiban pembebasan anak kesayangan mereka.
Tapi surat-menyurat seperti itu tak akan bisa menolong pembebasan itu secara nyata.
Seharusnya Perancis bisa lebih berperan dalam membebaskan Gilad Shalit mengingat begitu rumit dan buruknya hubungan antara Israel dan Sayap Militer Hamas.
Termasuk misalnya, mendekati Pemerintah Israel untuk menawarkan, bagaimana jika masalah pertukaran tahanan ini diprioritaskan kepada seluruh tahanan perempuan dan anak-anak Palestina yang ada di Israel.
Berapapun jumlahnya, barangkali ide ini bisa dikomunikasikan dengan Pihak Israel.
Sebab, Hamas harus punya skala prioritas dalam masalah pertukaran tahanan.
Apakah harus ikut ditukar misalnya, anggota-anggota HAMAS yang ditangkap karena terindikasi melakukan serangan-serangan militer secara langsung ke wilayah Israel ?
Hamas harus lebih rasional dalam mengajukan persyaratan pertukaran tahanan.
Jangan terlalu berlebihan dan memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan sepihak.
Sebab, masalah pertukaran tahanan ini harus sama-sama seimbang dan berkeadilan bagi kedua belah pihak.
Mau negara manapun yang menjadi mediator akan menemui kegagalan demi kegagalan, jika masalah pertukaran tahanan ini menjadi sangat tak seimbang poin-poin persyaratannya.
Hamas, dan Palestina secara keseluruhan, juga bisa memasukkan dalam persyaratan mereka kepada Israel, agar pihak keluarga dari para tahanan Palestina diizinkan untuk membesuk secara rutin.
Kemudian, para tahanan diberi perlakukan yang baik dan diizinkan untuk melakukan ibadah mereka (sholat) secara layak dan sangat baik saat berada dalam tahanan Israel.
( Walaupun akan sangat kontradiktif situasinya sebab dalam masa penawanan 5 tahun terhadap Gilad Shalit, 1 detikpun pihak keluarga dan kalangan internasional tidak diizinkan oleh HAMAS untuk bisa membesuk Gilad Shalit ).
Kemudian, sampaikan kepada Pihak Israel, agar seluruh tahanan Palestina yang ada di penjara-penjara Israel, diizinkan dan diberi jaminan untuk bisa melaksanakan ibadah puasa sepanjang bulan Ramadhan yang tinggal sebulan lagi.
Dan bahkan kalau bisa, diizinkan untuk bisa bertemu dengan sanak saudaranya jika hendak membesuk dalam suasana Idul Fitri tahun ini.
Hamas juga harus membuktikan bahwa mereka sungguh peduli pada rakyat Palestina yang sedang berada di dalam tahanan Israel. Pikirkan penderitaan rakyat Palestina yang saat ini berada dalam tahanan Israel sehingga jangan ada lagi waktu yang terbuang secara sia-sia.
Kalau Israel berada dalam tekanan untuk membebaskan 1 orang prajuritnya, nah Hamas dan Pemerintah Palestina ?
Ada ribuan rakyatnya yang menunggu pertolongan dan pembebasan.
Kasihan kalau penderitaan mereka jadi bertambah panjang dan bertambah parah.
Jadi, tolonglah, agar Israel dan Hamas khususnya, sama-sama berpikir dan bertindak bijaksana dalam masalah pertukaran tahanan ini.
Jangan adu keras.
Sebab, yang merasakan dampak buruk dari tertundanya masalah pertukaran tahanan ini adalah rakyat mereka sendiri.

Kanselir Jerman Angela Merkel bertemu Presiden Perancis Nicolas Sarkozy di Berlin, 17 Juni 2011. Dalam pertemuan ini, salah satu poin penting yang disampaikan kedua pemimpin Negara Eropa ini adalah desakan kepada HAMAS untuk membebaskan Gilad Shalit yang sudah 5 tahun ditawan
Jadi sekali lagi, Perancis sesungguhnya bisa lebih berperan dalam menjadi mediator perundingan perdamaian antara Israel dan Palestina.
Dibanding Jerman yang selama ini menjadi mediator perundingan pembebasan Gilad Shalit, sesungguhnya yang harus lebih giat maju di garis terdepan proses negosiasi itu adalah Pemerintah Perancis.
Termasuk didalamnya, membujuk Israel agar mau merespon jumlah angka pertukaran tahanan yang diminta Hamas sebagai syarat pertukaran antara Gilad Shalit dan tahanan-tahanan Palestina yang ada di berbagai penjara Israel.
Hamas terus menekan dan mendesak Pemerintah Israel membebaskan seluruh tahanan Palestina yang ada di Israel. Dan sekaligus mengecam intimidasi yang dilakukan Israel terhadap sekitar 6000 sampai 7000 orang tahanan Palestina di Israel.
( Hamas lupa bahwa menawan seorang warga negara asing selama 5 tahun berturut-turut, tanpa pernah mengizinkan pihak keluarga dan komunitas internasional menemui Gilad Shalit, adalah juga tindakan INTIMIDASI yang sangat amat buruk ).
Jika Hamas meminta 6000 sampai 7000 orang tahanan Palestina ditukar dengan 1 orang prajurit Israel, dari segi angka saja sudah sangat tidak sebanding.
Satu banding Tujuh Ribu !
Lalu, mau ditaruh dimana wajah dari Benjamin Netanyahu di hadapan seluruh rakyatnya, jika ternyata ia bisa didikte dan ditekan dengan mudah oleh sayap militer Hamas yang selama ini kerap kali mengancam sisi keamanan Israel sebagai sebuah negara ?
Jika seandainya Netanyahu mengabulkan permintaan Hamas untuk membebaskan seluruh tahanan Hamas di penjara Israel, maka barangkali detik pertama setelah kebijakan ini diambil Netanyahu akan dijatuhkan dari kursi kepemimpinannya dan dianggap tidak layak untuk menjadi pemimpin.
Sebagai pemimpin, ia harus menjaga kredibilitas dan legitimasi di hadapan rakyatnya sendiri.
Sebagai pemimpin, ia akan digugat sebab bisa didikte oleh sebuah kelompok atau grup yang sampai saat ini masih dinyatakan secara resmi oleh Perserikatan Bangsa Bangsa dan komunitas internasional sebagai grup teroris.
Ini fakta !

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy menerima kunjungan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Paris, 21 April 2011
Netanyahu akan mendapat masalah yang sangat berat pada posisi jabatannya saat ini dan karier politiknya, jika ia bisa didikte dan dikendalikan Hamas lewat cara seperti ini.
Tidak mungkin Netanyahu tidak mau melakukan pertukaran tahanan untuk menyelamatkan Gilad Shalit.
Dalam dua tahun masa jabatan kedua Netanyahu sebagai Perdana Menteri sejak tahun 2009 lalu, berulang kali pihak Keluarga Besar Gilad Shalit dan simpatisannya memilih mengadakan aksi unjuk rasa secara rutin di depan rumah Perdana Menteri Netanyahu sebagai desakan agar Gilad Shalit segera dibebaskan oleh Hamas.
Jadi agak mustahil jika Netanyahu tidak peduli pada nasib Gilad Shalit.
Netanyahu pasti sangat amat peduli pada nasib Gilad Shalit tapi barangkali yang menjadi permasalahan disini adalah tuntunan Hamas yang tidak sebanding dengan esensi utama misi pertukaran tahanan itu.
Satu orang tahanan harus ditukar dengan ribuan tahanan.
Lalu bagaimana jika diantara tahanan-tahanan yang harus dilepaskan dari penjara Israel itu memang terindikasi melakukan perbuatan melawan hukum yaitu mengancam keselamatan dan memang terlibat dalam aksi-aksi militer ?
Berdasarkan informasi yang ditulis dalam WIKIPEDIA, diuraikan disana bahwa Gilad Shalit ditangkap bukan karena ia menyerang atau memerangi Palestina !
Tidak samasekali !
WIKIPEDIA menyebutkan bahwa Gilad Shalit ditangkap saat ia melintasi pos penjagaan di wilayah teritorial Israel.
Lalu saat itu, sejumlah anggota sayap militer Hamas yang bersenjata berhasil menyusup masuk dan menyerang kendaraan tempur milik militer Israel.
Disinilah letak ketidak-adilan yang dilakukan Hamas terhadap Gilad Shalit.
Gilad tidak dalam posisi menyerang, menyakiti atau memerangi Hamas saat ia ditangkap di suatu hari Minggu tanggal 25 Juni 2006.
Anggota sayap militer Hamas menyusup masuk ke wilayah Israel, lalu menyerang dan meledakkan kendaraan tempur milik militer Israel, kemudian menangkap prajurit yang sedang berada di kendaraan tempur itu.
Gilad ditangkap di wilayah Kerem Shalom di perbatasan Israel – Gaza.
Wikipedia menyebutkan Gilad Shalit ditangkap di suatu hari Minggu pagi tanggal 25 Juni 2006.
Penangkapan dilakukan oleh sejumlah anggota militan Hamas yang menyusup lewat terowongan bawah tanah untuk bisa menembus masuk ke pos penjagaan Israel di bagian selatan Jalur Gaza.
Terjadilah pertempuran yang menyebabkan dua anggota Hamas dan dua prajurit Israel Defense Forces (IDF) tewas, kemudian 3 prajurit Israel terluka.
Sementara Gilad dikabarkan patah pada tangan kiri dan terluka di bagian bahu, setelah kendaraan tempur (tank) yang membawa prajurit Israel dihajar oleh granat roket milik Hamas.
Penangkapan yang terjadi pada diri Gilad Shalit terjadi terjadi disaat prajurit malang ini baru menjalani masa dinasnya di kemiliteran Israel selama (kurang dari) satu tahun.
Masih berdasarkan informasi Wikipedia, Gilad Shalit bergabung dengan IDF pada bulan Juli 2005 untuk mengikuti jejak sang kakak yaitu Yoel Shalit.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, duduk di tengah, didampingi Menteri Pertahanan Ehud Barak, menghadiri acara perpisahan Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF), dari Letnan Jenderal Gabi Ashkenazi, kiri, kepada Letnan Jenderal Benny Gantz, berdiri pada Februari 2011 di Yerusalem, Israel.
Dari Nakba Sampai Flotilla Mengukur Kemampuan Jenderal Benny Gantz Dan Militer Israel
Jadi kini, menjelang Konferensi Paris yang ditawarkan Pemerintah Perancis kepada Israel dan Palestina, Perdana Menteri Netanyahu masih harus disibukkan ( atau tepatnya sedang di uji ) pada dua masalah besar yang lagi hangat-hangatnya dibicarakan di Israel yaitu masalah Gilad Shalit dan rencana kedatangan Kapal Flotilla Jilid Dua.
Kalau pada tahun 2010 lalu, Netanyahu sedang berada di luar negeri saat kapal Mavi Marmara datang maka di tahun 2011 ini Netanyahu harus ikut ” menyambut” kedatangan Kapal Flotilla Jilid Dua.
Kalau pada tahun 2010 lalu, Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Gabi Ashkenazi yang bertanggung-jawab dalam menjalankan operasi “penyambutan” Kapal Mavi Marmara maka saat ini tugas itu akan dilakukan Letnan Jenderal Benny Gantz.
Seberapa mampu Letnan Jenderal Benny Gantz mengatasi iring-iringan Kapal Flotilla Jilid Dua yang secara hitam di atas putih sudah dinyatakan tidak legal oleh Perserikatan Bangsa Bangsa.
Dan inilah ujicoba pertama bagi Sekjen PBB Ban Ki-moon yang mendapat mandat untuk meneruskan masa jabatannya periode yang kedua.
Sebuah kebijakan dan pandangan yang resmi dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa ternyata tidak didengar dan dianggap tak penting oleh sejumlah pihak yang tetap memutuskan untuk datang ramai-ramai menggertak Israel.
Menggertak Israel sebenarnya tindakan yang sia-sia.
Inilah negara yang paling tidak bisa digertak.
Kapal Flotilla Dua belum sampai ke perairan Israel saja, sebuah peringatan sudah disampaikan oleh Pemerintah Israel bahwa jurnalis manapun yang ikut dalam iring-iringan Kapal Flotilla Jilid Dua ini akan dicekal selama 10 tahun oleh Israel.
Kadang-kadang, kepusingan kita mengamati dan menyaksikan setiap tindakan dan kebijakan Israel ini bukannya tambah sembuh tapi kita malah dibuat tambah sakit kepala.
Seenak mereka saja membuat kebijakan kalau sudah kesal, jengkel dan marah akibat sisi keamanan negara mereka masuk pada zona tak aman.
Jauh hari sebelumnya, Angkatan Laut Israel juga sudah pamer kekuatan yaitu sengaja mempublikasikan simulasi latihan pasukan khusus dari Angkatan Laut Israel tentang bagaimana cara mereka menangani alias MENGUSIR Kapal Flotilla Jilid Dua.
Tak cuma simulasi, penjara pun sudah mereka siapkan jika tetap ada yang nekat memasuki wilayah Israel secara legal.
Israel ini memang paling lihai membuat pihak lain “sakit kepala” alias pusing tujuh keliling.
Kita juga masih ingat saat IDF membuat lagu plesetan dari lagu karya Michael Jackson, WE ARE THE WORLD.
Lagu ini diplesetkan oleh prajurit-prajurit Israel untuk menyindir Kapal Mavi Marmara yang datang ke Israel untuk maksud dan tujuan mengantarkan bantuan kemanusiaan ke Jalur GAZA.
Israel ini memang “gila” !

Foto Dokumentasi : Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, berkemeja hitam di sebelah kiri, didampingi Kepala Staf Militer Israel Letnan Jenderal Gabi Ashkenazi, sedang mengunjungi Pasukan Komando Angkatan Laut Israel yang berperan dalam operasi pengusiran Kapal Mavi Marmara di bulan Mei 2010
Israel juga seakan mampu untuk mengemas berbagai tindakan dan kebijakan yang terkesan semaunya dan sangat berlebihan sebagai wujud dari gigihnya mereka menjaga sisi keamanan nasional negara mereka.
Bahkan tahun lalu, saat semua pihak mengecam Israel karena mengusir iring-iringan Kapal Mavi Marmara ( tahun 2010 ), Perdana Menteri Benjamin Netanyahu malah mendatangi Pasukan Komando dari Angkatan Laut Israel yang ditugaskan mengusir Kapal Mavi Marmara dengan mengatakan kepada para prajuritnya, “You are the best !”
Kini, ujian tentang Flotilla kembali datang menghampiri Israel.
Kepada Israel, khususnya IDF, di harapkan agar penanganan terhadap Kapal Flotilla Jilid Dua ini harus persuasif dan harus menjauhkan tindakan mereka dari segala sesuatu yang bersifat tindakan-tindakan represif.
Kepada Israel, khususnya IDF, di harapkan agar operasi penghalauan terhadap iring-iringan Kapal Flotilla Dua ini tetap mengedepankan penghormatan terhadap nilai-nilai hukum internasional dan kemanusiaan.
Sebab saat ini sebenarnya Israel sudah “menang” dengan adanya kebijakan dan himbauan dari Perserikatan Bangsa Bangsa bahwa semua bentuk bantuan lewat rencana kedatangan Kapal Flotilla harus disampaikan dengan cara yang LEGAL.
Tetapi, Israel tetap harus diingatkan tentang perlunya mereka mengendalikan dan menahan diri dalam menangani Kapal-Kapal Flotilla Jilid Dua.
Kali ini, dunia akan menyaksikan bagaimana Jenderal Benny Gantz, terutama para Jenderal dan Pasukan Komando dari Angkatan Laut Israel dalam menangani “tamu penting mereka” di wilayah perairan Israel.
Semua upaya diplomasi dari Israel yang meminta Perserikatan Bangsa Bangsa melarang konvoi Flotilla akan menjadi sia-sia jika Angkatan Laut Israel terjebak dalam tindakan kekerasan untuk menghalau kapal-kapal Flotilla.
Jangan ada kekerasan yang tidak perlu di wilayah perairan Israel saat Kapal-Kapal Flotilla itu menghampiri dan masuk dalam wilayah perairan Israel.
Hindarilah tindakan represif.
Hindarilah tindakan kekerasan.
Segala sesuatu bisa diselesaikan secara baik … !
Perdana Menteri Netanyahu sudah mendapat tekanan yang sangat berat akibat tindakan Hamas yang terus menerus memperpanjang penawanan terhadap Gilad Shalit.
Tekanan-tekanan itu akan menjadi lebih besar jika operasi penghalauan terhadap kapal-kapal Flotilla tidak ditangani secara persuasif. Dan Netanyahu punya peran yang sangat sentral dalam mengendalikan semua situasi ini.
Sambutlah kedatangan kapal-kapal Flotilla secara lebih manusiawi menjelang pertemuan untuk melanjutkan perundingan perdamaian yang ditawarkan Perancis dalam beberapa hari mendatang.
(MS)