Marwan Effendy : Tidak Pernah Rekening Terpidana Dipindahkan Ke Rekening Kejaksaan

Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan (JAMWAS) Dr. Marwan Effendy ( Foto : Eksklusif KATAKAMI.COM )

 

Marwan : Fitnah Soal Penggelapan Uang 500 Miliar Isapan Jempol Dan Pembunuhan Karakter

 

Jakartam 29 Juni 2012 (KATAKAMI.COM)   —-   Untuk menindak-lanjuti perkembangan dari kasus fitnah yang menimpa Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan (JAMWAS) Dr. Marwan Effendy, KATAKAMI.COM kembali melakukan wawancara eksklusif.

Di temui di ruang kerjanya di Kejaksaan Agung, Kamis (28/6/2012), Marwan Effendy menginformasikan bahwa saat ini kalangan jaksa siap untuk memberikan keterangan kepada pihak kepolisian.

Marwan Effendy sudah melaporkan kasus fitnah yang menimpa dirinya ke Badan Reserse & Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri.

Persoalan ini berpangkal dari kasus yang ditangani Marwan saat ia menjabat sebagai Asisten Bidang Pidana Khusus (Apidsus) di Kejaksaan TInggi DKI Jakarta tahun 2003. Kasus tersebut adalah kasus pembobolan terhadap Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Cabang Pembantu Segitiga Senen.

Seorang pengacara mengirimkan surat kepada Kejaksaan Agung dan Komisi III DPR-RI bahwa Marwan telah menggelapkan uang Rp., 500 Miliar saat menangani kasus tersebut.

Inilah hasil WAWANCARA EKSKLUSIF kami dengan Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan (JAMWAS) Dr. Marwan Effendy :

 

Jamwas Marwan Effendy menunjukkan sebuah surat yang dikirimkan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Segitiga Senen Jakarta Pusat. Lewat surat yang dikirimkan ke Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta tertanggal 20 Juni 2012 ini, BRI memberikan konfirmasi bahwa rekening atas nama PT DELTA MAKMUR EKSPRESINDO statusnya masih tetap di blokir sampai dengan saat ini. Dan pada bagian bawah, termuat penggalan rekening koran yang menunjukkan bahwa saldo dari rekening koran tersebut tetap sama saat sebelum di blokir sampai saat ini. Saldo rekening sebelum dilakukan pemblokiran adalah Rp. 129.596.226. Dikurangi pajak sekitar Rp. 2,9 juta. Sehingga, posisi rekening koran dari tahun 2003-2012 tetap sama yaitu Rp. 126 juta. Rekening ini sudah “dikosongkan” oleh pemiliknya sebelum dilakukan pemblokiran. Artinya, tercatat pengambilan puluhan miliar oleh pemiliknya sendiri sebanyak beberapa kali, beberapa bulan sebelum rekening di blokir.

 

 

KATAKAMI (K)  :  Apa perkembangan yang terjadi dalam beberapa hari ini terkait laporan yang Pak Marwan sampaikan kepada pihak Kepolisian ?

MARWAN EFFENDY (ME)   :  Saya sudah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian dalam kapasitas saya sebagai saksi pelapor. Lalu beberapa jaksa juga akan dimintai keterangannya oleh kepolisian. Salah satunya adalah mantan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat dan penyidik yang menangani kasus pembobolan BRI. Lalu, Kasi Pidsus di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat juga akan dipanggil sebab dia yang memang berwenang untuk menyimpan semua file tentang kasus ini.

Nah, mengapa mereka-mereka ini yang akan dipanggil sebagai saksi ?

Sebab dalam Surat Perintah (SP) terkait kasus itu hanya bertindak sebagai koordinator. Saya tidak melakukan penyidikan langsung. Penyidiknya ada beberapa orang. Nah, hasil penyidikan itu kami serahkan kepada Kejaksaan Negeri untuk menindak-lanjuti.

Jadi tugas saya sebagai Apidsus pada saat itu, selain mengkoordinir penyidikan, setelah berkas jadi sudah diserahkan kepada Kejaksaan Negeri. Apalagi saya sudah diserah-terimakan dari jabatan sebagai Apidsus sehingga saya tidak mengikuti lagi kasus pembobolan BRI.

(K)  :   Lalu, apakah ada perkembangan lain seputar pengaduan Bapak kepada pihak Bareskrim Polri soal fitnah yang disampaikan melalui jejaring sosial TWITTER terkait fitnah soal penggelapan uang Rp. 500 Miliar ini ?

(ME)  :  Perkembangan lainnya ada. Setelah selama ini saya diserang lewat beberapa akun TWITTER. Sekarang tiba-tiba, muncul sebuah akun TWITTER atas nama saya dan memakai foto diri saya. Lalu, lewat akun fiktif atas nama diri saya itu, dituliskan pesan bahwa seolah-olah saya mengkritik pihak Kepolisian. Saya tidak punya akun twitter. Nah ini kok bisa muncul akun twitter atas nama saya. Tidak cuma twitter, sekarang muncul juga akun facebook atas nama diri saya. Apalagi facebook, saya tidak pernah membuat akun facebook. Dulu, saya pernah punya email untuk mempermudah saya berkomunikasi dengan mahasiswa-mahasiswa saya kalau mereka ingin berkomunikasi. Tetapi setelah dulu saya diangkat menjadi Jampidsus, email itu sudah saya hapus agar jangan di hacked. Nah, kembali ke masalah twitter yang mengatas-namakan diri saya, polisi harus mengusut ini. Supaya jangan dibiarkan hal ini berlarut-larut.

(K)  :  Jadi seakan-akan, kejaksaan mau diadu-domba dengan pihak kepolisian ?

(ME)  :  Ya betul. Saya ingatkan kepada pelakunya, jangan mengadu-domba kejaksaan dengan kepolisian. Saya tetap mengharapkan agar Bareskrim Polri menangani kasus ini secepatnya. Itulah sebabnya, kenapa kasus ini saya lapokan ke Bareskrim Polri.

Saya yakin, di Mabes Polri lebih lengkap tim-nya. Mereka punya divisi Cyber untuk menangani kasus-kasus semacam ini.

Jadi Polri harus cepat menangani.

Karena apa ?

Sebab bisa-bisa pejabat lain di Indonesia ini juga kena. Atau bahkan kepala negara dan kepala lembaga-lembaga negara. Bayangkan kalau masyarakat awam tidak tahu, mereka akan percaya saja atas berita-berita bohong. Jadi kalau Polri menangani kasus ini secepatnya, ini bukan untuk kepentngan saya pribadi atau Kejaksaan. Ini akan bermanfaat untuk mengantisipasi agar jangan ada lagi pejabat-pejabat lain yang dizalimi. Jangan sampai ada korban-korban lain yang difitnah dan dibusuk-busukkan. Atau diadu-domba antara satu dengan yang lain. Makanya Polri harus bekerja keras membongkar kasus ini.

Pengacara dari terpidana kasus pembobolan BRI tahun 2003 ini, sudah sering menggulirkan fitnah ini selama bertahun-tahun. Dan selalu saya yang jadi targetnya. Dalam suratnya kepada Kejaksaan Agung dan Komisi III DPR-RI, dituliskan bahwa saya menggelapkan dana milik terpidana. Bagaimana mungkin ? Rekening itu sudah terblokir sampai saat ini. Dan sebelum diblokir oleh Kejaksaan, mereka sudah mengosongkan rekeningnya. Jadi jangan memutar-balikkan fakta. Saya tidak senang difitnah seperti ini.

(K)  :  Masalah ini erat kaitannya dengan kasus pembobolan BRI tahun 2003. Terpidananya saja sudah meninggal dunia yaitu (Alm) Deden Gumilar Sapoetra, mantan Kepala Cabang BRI Cabang Segitiga Senen. Selama 9 tahun, kasus ini terus digulirkan oleh seseorang yang mengaku pengacara dari terpidana lain dalam kasus ini yaitu Hartono Tjahjadjaja. Mengapa masalah ini terus menerus diangkat ke permukaan ?

(ME)  :   Kasus ini sudah pernah mereka ceritakan kepada beberapa pengurus partai politik besar waktu saya masih menjabat sebagai Jampidsus. Lalu, pengurus parpol itu menanyakan kepada kami. Ketika itu kami jawab secara baik. Kemudian, ada juga dua mantan Jaksa Tinggi menanyakan kasus ini. Kami jelaskan juga. Harusnya mereka tanyakan saja kasusnya kepada Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta karena mereka yang menangani.

Intinya, tidak ada satupun rekening atas nama terpidana yang kami pindahkan ke dalam rekening Kejaksaan.

Tidak pernah samasekali !

Tidak pernah rekening nasabah, khususnya untuk kasus BRI ini, dipindahkan k rekening nasabah.

Semua sudah sangat jelas data dan faktanya. Rekening itu masih terblokir sampai saat ini. Dulu sebelum di blokir oleh pihak Kejaksaan, terpidana yang menjadi pemilik rekening itu yang mengosongkan rekeningnya sampai ratusan miliar. Kok malah kami yang dituduh memindahkan uangnya. Jadi, memang tidak ada pemindahan rekening untuk kasus pembobolan BRI ke dalam rekening jaksa. Mereka  jangan memfitnah kejaksaan tanpa disertai data dan fakta. Untungnya, Kejaksaan masih tetap menyimpan semua file tentang kasus ini.

(K)  :  Apakah Bapak tetap ingin melanjutkan kasus ini untuk diproses secara hukum ?

(ME)  :  Saya yakin. Saya ingin kasus ini diungkap secara tuntas oleh Kepolisian. Saya juga yakin dan percaya, Polri bisa mengungkap kasus ini. Saya punya banyak bukti secara lengkap. Lalu, tindakannya menyebar-luaskan suratnya ke banyak pihak bahwa saya menggelapkan uang terkait kasus pembobolan BRI tahun 2003, saya minta agar polisi juga menangani kasus itu.

(K)  :  Apakah Pak Jaksa Agung juga terus mengikuti perkembangan kasus fitnah soal penggelapan uang ini, Pak ?

(ME)  : Oh jelas. Saya sudah bertemu lagi dengan Pak Jaksa Agung. Beliau yang justru menanyakan terlebih dahulu kepada saya. “Bagaimana perkembangannya ? Itu harus dipantau terus. Coba di komunikasikan terus ke pihak kepolisian karena kasus-kasus semacam ini sudah sangat meresahkan”. Begitu kata Pak Jaksa Agung. Menurut Pak Jaksa Agung, sudah banyak pejabat lain yang sudah melaporkan kepada Jaksa Agung bahwa mereka difitnah juga. Bahkan kata Pak Jaksa Agung, Pak Todung Mulia Lubis juga sudah berkeluh kesah bahwa jejaring sosial bisa dipakai untuk saling memfitnah. Jadi Pak Jaksa Agung kuatir bahwa nantinya bisa berkembang ke arah pemerasan. Itu sebabnya Pak Jaksa Agung meminta kepada saya agar kasus ini terus dipantau. Sebab Indonesia ini negara hukum. Dan hukum harus ditegakkan.

(K)   :  Baik, terimakasih Pak Marwan untuk informasi terbarunya mengenai kasus ini.

(ME)  : Terimakasih sama-sama.

 

 

 

MS

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: