Jokowi, Kemeja Putih, Sederhana Dalam Kesederhanaan

Presiden Joko Widodo, didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Wapres Jusuf Kalla, dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla

Presiden Joko Widodo, didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Wapres Jusuf Kalla, dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla

Oleh : Mega Simarmata, Editor in Chief of KATAKAMI.COM & Chief of INDONESIA MILITARY WATCH

Jakarta, Sabtu 20 Desember 2014 (KATAKAMI.COM) —  Memang masih 11 hari lagi, kita berada di tahun 2014 yang sangat bersejarah ini.

Tapi izinkan di akhir pekan ini, saya menyoroti tentang penampilan seseorang yang cukup fenomenal dalam dunia perpolitikan di Indonesia di tahun 2014 ini yaitu Joko Widodo alias Jokowi, yang sejak tanggal 20 Oktober 2014 telah resmi dilantik menjadi Presiden Indonesia yang ke 7.

Bagian mana dari tugas atau kehidupan Jokowi yang ingin saya soroti lewat tulisan ini?

Penampilannya.

Saya ingin menyoroti penampilan Jokowi, terutama ciri khasnya menggunakan kemeja putih dalam keseharian.

Jadi ceritanya kemarin siang (Jumat 19/12/2014), saya “ngopi” di sebuah cafe yang sangat nyaman.

Ada Teguh Santosa, sahabat lama saya dari Rakyat Merdeka Online.

Lalu ada Bang Fritz Simanjuntak dari Rajawali Grup.

Sambil menikmati hidangan sederhana berupa pisang goreng dan calamary, kami bertiga ngobrol panjang lebar dalam suasana yang sangat menyenangkan.

Tapi ada satu obrolan yang begitu berkesan dan menyentuh hati saya, yaitu saat Bang Fritz Simanjuntak bercerita tentang keluguan dan kejujuran ibunda tercintanya (Ibu Boru Pardede) yang kini berusia sekitar 80 tahun.

“Fritz, kau bilang dulu sama presiden kau itu, kenapa pakaiannya kemeja putih terus? Aku memang tak setinggi kau sekolahnya. Tapi aku ingin bangga melihat presidenku kalau kelihatan ganteng” kata Ibu Boru Pardede kepada anak lelakinya.

Fritz Simanjuntak tersenyum mendengar sang bunda tercinta berbicara seperti itu.

Dan saat kemarin hal ini diceritakan, saya pun tersenyum dan hati saya tersentuh mendengar cerita ini.

Hati saya tersentuh karena seorang kawan baru bernama Fritz Simanjuntak begitu mencintai sang ibu.

Dan Ibu Boru Pardede yang sudah berusia 80 tahun inipun, tetap mengikuti perkembangan “politik” di tanah air.

Saya salut dan terharu, itu saja.

Presiden Joko Widodo, didampingi Kepala BIN Marciano Norman

Presiden Joko Widodo, didampingi Kepala BIN Marciano Norman

Tak ada yang salah dari keluguan dan kejujuran dari Ibu Boru Pardede tadi.

Tapi kalau saya boleh lebih lugu dan lebih jujur lagi, Jokowi memang tidak ganteng.

Jokowi, adalah seseorang yang biasa-biasa saja dalam penampilan, tetapi kini menjadi “tak biasa” karena ternyata berhasil memenangkan Pemilu Kepresidenan di Indonesia dengan hasil yang gemilang.

Jokowi, adalah seseorang yang biasa-biasa saja dalam penampilan, tetapi kini menjadi “tak biasa” karena dari keberadaannya yang semula hanya didaulat untuk memimpin Solo tapi kini naik kelas memimpin Indonesia.

Hari ini tepat 2 bulan, Jokowi menjadi Presiden di Indonesia.

Selama 2 bulan ini, Jokowi tetap menjadi dirinya yang akan tetap meluangkan waktu berbicara dan berdialog dengan masyarakat dari hati ke hati.

Kemampuan yang harus dipuji dari seorang Jokowi adalah kekuatan dan ketajaman nalurinya bahwa ketika seorang pemimpin berada di puncak kekuasaan, ia harus tetap memberikan sebuah ruang bagi rakyat untuk bisa “datang dan bicara” kepada presidennya tanpa harus melalui protokoler yang kadang terlalu berlebihan.

Kekuatan dan ketajaman naluri seperti yang Jokowi punya, akan meminimalisir potensi lahir dan berkembangnya laporan berbau ABS (Asal Bapak Senang) atau AJS (Asal Jokowi Senang).

Presiden Joko Widodo berbicara dengan petani Banjarnegara dalam perjalanan menuju lokasi longsor, 14 Desember 2014. Presiden menuju Banjarnegara unutk meninjau lokasi longsor yang menewaskan 17 orang. TEMPO/Andi Widjajanto

Presiden Joko Widodo berbicara dengan petani Banjarnegara dalam perjalanan menuju lokasi longsor, 14 Desember 2014. Presiden menuju Banjarnegara unutk meninjau lokasi longsor yang menewaskan 17 orang. TEMPO/Andi Widjajanto

Satu contoh yang sangat mengejutkan dan pantas dihargai adalah saat Presiden Jokowi meninjau lokasi longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kabupaten Banjarnegara, hari Minggu (14/12/2014) lalu.

Setelah mendarat di Bandara Cilacap, Jokowi melanjutkan perjalanan ke lokasi longsor dengan menggunakan mobil Toyota Jeep.

Di tengah perjalanan, dari Cilacap ke Banjarnegara, saat melewati sawah, mendadak Jokowi turun dari mobil untuk berdialog dengan para petani yang sedang membajak sawah.

“Presiden bermobil ke wilayah longsor. Di perjalanan, mendadak berhenti untuk ngobrol dengan petani yang mulai musim tanam,” kata Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto yang ikut rombongan, Ahad, 14 Desember 2014.

Tanpa dikawal, Jokowi langsung turun kemudian berjalan kaki ke hamparan sawah, menghampiri beberapa petani yang sedang membajak sawah atau menanam padi.

Jokowi sesekali jongkok di atas pematang sawah untuk berbincang dengan para petani.

Para petani langsung mengerubuti sang Presiden.

Ada yang mengkritik bahwa Jokowi melakukan pencitraan.

Bukan, itu bukan pencitraan.

Tindakan Jokowi itu adalah wujud dari kekuatan dan ketajaman nalurinya bahwa ia yang harus datang kepada rakyat, dan mendengarkan secara langsung apa yang sesungguhnya ingin disampaikan rakyat kepada dirinya.

Jokowi boleh dituduh melakukan pencitraan jika di sekitar sawah yang didatanginya akan penuh dengan kamera-kamera wartawan untuk mengabadikan peristiwa tersebut.

Tapi yang terjadi pekan lalu saat Jokowi turun dari mobil kepresidenan dan datang menghampiri kalangan petani, adalah sebuah pemandangan yang menyentuh hati.

Presiden Jokowi saat berkunjung ke Sinabung

Presiden Jokowi saat berkunjung ke Sinabung

Jadi, singkat kata, wajah Jokowi memang tak ganteng ganteng amat.

Tapi ada seorang wanita bernama Iriana yang begitu mencintainya dengan begitu tulus.

Dan di balik kemeja putih yang tetap menjadi pakaian kesukaannya dalam keseharian, Jokowi membiarkan dan memang memberikan kesempatan kepada rakyat untuk bisa bertemu serta berbicara langsung dengan sang presiden.

Jokowi tak sedang membual bahwa ia memang ingin sederhana dalam kesederhaan.

Jokowi harus tetap mempertahankan spirit dan motto bahwa ia ingin selalu sederhana dalam kesederhaan.

Sebab yang dibutuhkan rakyat bukanlah pemimpin berpakaian necis dan modis.

Apalah artinya kostum yang necis dan modis, kalau presidennya cuma duduk ongkang ongkang di Istana untuk mendengarkan laporan-laporan bertipe ABS (Asal Bapak Senang) atau AJS (Asal Jokowi Senang).

Tetaplah dengar apa keluhan, curahan hati, pengaduan dan permohonan rakyatmu, Bapak Presiden.

Demi keamanan dan keselamatan presiden, memang akan selalu berlakukan dan dilaksanakan standar dan cara pengamanan baku yang penuh protokoler.

Tapi hati, jiwa dan pikiran Jokowi, jangan sampai berjarak dengan rakyat Indonesia.

Jokowi yang ingin tetap sederhana dalam kesederhanaan, harus tetap memastikan bahwa ia akan selalu mau dan siap mendengarkan apa saja yang ingin disampaikan rakyatnya.

Kemeja putih yang menjadi ciri khasnya, tak perlu dipermasalahkan.

Sebab apalah arti sebuah warna dari pakaian kalau ternyata pada faktanya seorang presiden (seperti Jokowi) memang akan selalu ada untuk rakyatnya.

Kapan saja.

Dimana saja.

Dan dalam keadaan apa saja.  (*)

MS

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: