Tahun 2010 Bambang Widjojanto Ajari Klien Bohong Pada Polri

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan Kabareskrim Komjen Ito Sumardi

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan Kabareskrim Komjen Ito Sumardi

Oleh : Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI.COM

Jakarta, Sabtu 17 Januari 2015 (KATAKAMI.COM) — Ketika calon tunggal Kapolri yaitu Komjen Budi Gunawan dipersilahkan untuk menunggu saat Komisi III DPR rapat tertutup untuk memutuskan hasil akhir tentang disetujui atau tidaknya pencalonan Komjen BG, saya diminta untuk ikut menemani Komjen BG di ruang tunggu.

Yang meminta tentu Komjen BG karena kami sudah bersahabat lama sejak tahun 2001.

Ada sejumlah polisi ikut menemani juga.

Lalu di ruang tunggu itu, saya ceritakan sebuah peristiwa yang sangat menggelikan mengenai Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bambang Widjojanto.

Peristiwa lucu ini terjadi tahun 2010.

Jadi sudah hampir 5 tahun lalu kejadiannya tapi saya tak akan bisa melupakan peristiwa ini karena lucu dan sangat konyol.

Polisi-polisi dan sejumlah anggota Komisi 3 DPR yang mendengarkan cerita saya ini langsung tersenyum saat saya menceritakan kepada mereka.

Begini ceritanya.

Pada suatu hari, pagi-pagi benar, saya sudah membawa laptop saya ke Starbucks di Melawai, yang letaknya tidak jauh dari Hotel Mahakam.

Mengapa pagi-pagi saya sudah di Starbucks?

Sebab disana ada fasilitas WIFI sehingga saya bisa tenang mengetik berita.

Karena saya cuma sendirian, maka saya cari kursi yang agak di pojok dan menghadap ke dinding.

Kira-kira sejam setelah saya berada di Starbucks, tiba-tiba ada satu rombongan besar yang masuk.

Kebanyakan berseragam salah satu televisi swasta.

Lalu dengan ekor mata, saya lihat ada salah seorang penasehat hukum yaitu Bambang Widjojanto (BW).

Mungkin, karena saya cuma sendirian, dan posisi badan saya menghadap ke dinding, mereka tidak mengenali saya.

Sambil saya mengetik, saya dengarkan omongan mereka.

Oh, rupanya setelah nanti selesai kumpul di Starbucks, mereka akan langsung ke Bareskrim Polri untuk memenuhi panggilan penyidik untuk sebuah kasus hukum.

Saya sms Kabareskrim Ito Sumardi dan Wakabareskrim Dikdik Mulyana Arif.

Saya memberitahu mereka bahwa saya berada di lokasi yang sama dengan rombongan sebuah televisi swasta yang didampingi BW.

Saya dengarkan semua wejangan BW kepada kliennya, yang pada intinya mengajari klien untuk bohong bila nanti ditanya penyidik.

Lalu BW memberi briefing juga bahwa ada celah seperti ini untuk menghantam balik Polri dan lain sebagainya.

Semua saya dengarkan.

Saya sms poin-poin omongan BW ke Kabareskrim dan Wakabareskrim, yang kebetulan sedang menggelar rapat juga untuk menyambut kedatangan rombongan televisi swasta yang akan diperiksa pada hari itu.

Bahkan sempat Wakabareskrim menelepon ke saya, disaat BW sedang bicara kepada kliennya.

Suara BW yang cukup keras ketika sedang bicara, didengar oleh Pak Dikdik (Wakabreskrim) yang ada di ujung telepon.

Jadi yang lucu buat saya adalah BW tidak tahu bahwa pada hari itu, disaat ia dan rombongannya bertemu dengan para penyidik di Bareskrim Polri, dari mulai Kaba dan Wakaba (Kabareskrim dan Wakabareskrim maksudnya), sampai ke penyidik Polri, semua sudah tahu bahwa klien mereka sudah diajari berbohong oleh BW.

Sialnya BW pada saat itu adalah ia mengadakan konsolidasi di sebuah cafe yang ternyata sudah lebih dulu didatangi oleh seorang wartawati senior yang punya kedekatan dengan polisi.

Mengapa saya memberitahu polisi tentang kebohongan BW?

Sebab aneh buat saya, jika seorang pengacara justru mengajari kliennya untuk berbohong kepada penyidik.

Kabareskrim dan Wakabareskrim memerintahkan penyidiknya untuk bersikap biasa saja jika mulai memeriksa. Sehingga tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya polisi sudah tahu bahwa mereka akan dibohongi.

Jadi itulah peristiwa yang terjadi di tahun 2010 lalu.

Peristiwa yang tak terlupakan oleh saya.

MS

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: