Usia 44 Saat Valentine, Cerita Ayah Soal Ketetapan Hati Hakim

Mega Simarmata dan sang ayah

Mega Simarmata dan sang ayah

Oleh : Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI.COM

Jakarta, Jumat 13 Februari 2015 (KATAKAMI.COM) — Untuk banyak kalangan dalam komunitas internasional, terutama di negara-negara barat, besok adalah Hari Kasih Sayang, atau lazimnya disebut Valentine’s Day.

Perayaan Hari Kasih Sayang atau Valentine itu diperingati setiap tanggal 14 Februari setiap tahunnya.

Saya bukan orang yang pernah, dan bukan orang yang ikut rutin merayakan Valentine’s Day atau Hari Kasih Sayang.

Dari dulu, sampai sekarang, saya tak pernah ikut-ikutan merayakan itu.

Sebab bagi saya, kasih sayang tak harus menunggu pada perayaan Hari Kasih Sayang jika memang ingin diungkapkan dan diekspresikan kepada orang-orang yang kita cintai.

Kasih sayang, bisa disampaikan, diungkapkan, diekspresikan dan diberitahukan kapan saja dan dimana.

Bahkan setiap detik, setiap menit, setiap jam, dan setiap hari, kita bisa mengungkapkan rasa sayang itu.

Tapi tanggal 14 Februari adalah hari yang sangat khusus untuk saya pribadi sebagai anak manusia.

Sebab, itulah hari kelahiran saya.

Dan besok, usia saya akan menjadi lebih tua setahun, yaitu diberi tambahan usia oleh Sang Pencipta, menjadi 44 tahun.

Ada kesedihan yang teramat sangat, karena saya merindukan ibu saya yang wafat 4 bulan lalu, di saat saya akan berulangtahun ke 44.

Tapi ada satu hal yang ingin saya kenang, dan saya bagikan melalui tulisan ini mengenai sebuah cerita yang pernah disampaikan oleh ayah saya.

Ayah saya adalah mantan hakim, dengan jabatan terakhir sebagai Ketua Pengadilan Tinggi Sulawesi Utara.

Beliau pensiun pada tahun 2000.

15 tahun lalu, persis di bulan Februari seperti ini, yaitu bulan Februari tahun 2010, setelah ayah saya resmi pensiun, kami pergi bertiga ke Eropa.

Saya, ayah saya, dan ibu saya,

Pertama ke Belanda, selanjutnya ke Perancis.

Selanjutnya, dari Perancis saya kembali ke Tanah Air, lalu kedua orangtua saya melanjutkan perjalanan mereka ke Amerika Serikat.

Kami punya makanan favorite yang sama, yaitu pancake.

Dan jangan ragukan bagaimana lezatnya pancake di cafe-cafe yang ada di negara-negara Eropa, semacam Belanda, dan Perancis.

Pada  suatu hari, saat kami menikmati indahnya kota Paris, dan sambil menikmati lezatnya pancake dan cappucino, ayah saya bercerita tentang bagaimana ISTIMEWA-nya profesi seorang hakim.

Ayah saya mengatakan seperti ini:

“Hakim itu istimewa. Apapun yang mau disampaikan orang dalam persidangan, apapun yang mau ditunjukkan atau dikasih tahu, hakim tak bisa dipengaruhi karena ada satu hal yang tidak dimiliki oleh orang lain. Hanya hakim yang punya itu. Ketetapan hati. Inilah kelebihan dari hakim. Makanya, hakim dipanggil dengan sebutan Yang Mulia Majelis Hakim. Hakim punya ketetapan hati dalam memutuskan sebuah perkara. Berdasarkan ketetapan hati itulah, hakim memutuskan seseorang itu bersalah atau tidak bersalah. Dikabulkan atau tidak dikabulkannya permohonan yang disampaikan dalam persidangan, semua tergantung dari ketetapan hati si hakim yang menangani perkara”.

Cerita ayah saya tentang betapa istimewanya seorang hakim terkait KETETAPAN HATI tadi, saya ingat dan tetap saya kenang sampai saat ini.

Limabelas tahun sejak cerita itu disampaikan kepada saya, apa yang disampaikan ayah saya itu, membuat saya ikut menunggu apa yang akan menjadi keputusan dari Majelis Hakim Sarpin Rizaldi yang saat ini menangani perkara praperadilan yang diajukan Komjen Budi Gunawan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Keputusan atau vonis dari Majelis Hakim akan disampaikan pada hari Senin tanggal 16 Februari 2015.

Saya meyakini bahwa KETETAPAN HATI yang akan menuntun, membawa dan meyakinkan sang hakim tunggal, tentang keputusan apa yang akan dia ambil dalam perkara praperadilan yang diajukan oleh sahabat saya, Komjen Budi Gunawan.

Termasuk bagaimana KETETAPAN HATI sang hakim dalam memandang dan meyakini tentang kewajiban  untuk mengambil keputusan secara kolektif dan kolegial di jajaran PIMPINAN KPK.

Apapun vonis atau keputusan itu, semua pihak harus menghormati dengan setulus hati.

Selamat Hari Kasih Sayang untuk yang merayakannya.   (*)

MS

Advertisements

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: