Ode Untuk Almarhum Prof Marwan Effendy, Selamat Jalan

Prof Marwan Effendy

Prof Marwan Effendy

Oleh : Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI.COM

Jakarta, 10 Maret 2015 (KATAKAMI.COM) — Sebuah kabar mengejutkan saya baca hari ini bahwa Mantan Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan, Prof Marwan Effendy, telah meninggal dunia.

Marwan, yang juga adalah mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus), meninggal dunia di Malaysia diduga karena serangan jantung.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Tony Tribagus Spontana mengatakan almarhum meninggal dunia di Prince Court Medical Centre Kuala Lumpur Malaysia pada Senin (9/3/2015) pukul 23.35 Wita.

Persis sebulan lalu, tepatnya pada hari Rabu 11 Februari 2015, saya bertemu dengan Prof Marwan Effendy di sebuah Restoran Jepang.

Berbincang selama satu jam mengenai polemik yang menimpa institusi Kepolisian atau Polri.

Dalam pertemuan kami yang terakhir itu, Pak Marwan sungguh kecewa dan ikut prihatin karena Polri begitu disudutkan dan sangat dijatuhkan moralnya lewat berbagai serangan di media.

Saya mengenal Pak Marwan sejak beliau menjadi Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan (Kapusdiklat) Kejaksaan Agung di era tahun 2007.

Dan di awal tahun 2008 silam, saya pernah hampir mati di tabrak oleh orang yang tak bertanggung-jawab menggunakan mobil Kijang di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, karena lewat tulisan-tulisan saya terus disampaikan dukungan dan pembelaan terhadap Pak Marwan yang dipromosikan menjadi Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus atau Jampidsus.

Konon diduga, orang yang tak senang jika Pak Marwan menjadi Jampidsus, merasa ketakutan dan tak nyaman dengan dukungan serta pembelaan saya pada Pak Marwan Effendy.

Sepanjang Pak Marwan menjadi Jampidsus dan Jamwas atau Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan, saya adalah salah seorang dari sedikit wartawan senior yang kerap kali diberi kesempatan berdiskusi dengan beliau di ruang kerjanya.

Bahkan ketika beliau memutuskan untuk mengajukan pensiun dini di tahun 2013, saya adalah satu-satunya jurnalis yang diberitahu lebih dulu saat kami bertemu di ruang kerjanya.

Tiga bulan sebelum Pak Marwan pensiun diri, saya sudah tahu lebih dulu dari media massa lainnya.

Yang saya kenang dari sosok seorang Marwan Effendy adalah kesungguhan dan ketulusan hatinya mendukung sang istri untuk berjualan brownies untuk menambah penghasilan keuangan keluarga.

Sampai beliau menjabat sebagai Jampidsus, Pak Marwan masih menumpang di rumah ayah mertuanya.

Setiap Sabtu dan Minggu, Pak Marwan pulang ke Bandung sebab keluarganya tinggal di Bandung.

Dulu, sepanjang beliau jadi Jampidsus, berkotak-kotak brownies hasil buatan istri tercintanya, dibawakan untuk saya dari kota Bandung.

Dan itu rutin dilakukan beliau sebagai tanda persahabatan dan persaudaraan.

Yang menjadi ciri khasnya sepanjang menjadi Jampidsus dan Jamwas, setiap sholat Jumat Pak Marwan pasti mengenakan baju koko dan peci.

Ia ingin anak lelakinya meneruskan jejaknya sebagai jaksa.

Tapi sampai menjelang Pak Marwan pensiun dini, belum ada penerimaan di lingkungan Kejaksaan Agung.

Ia pernah difitnah melakukan plagiat terhadap disertasi doktornya, padahal fitnah itu tidak benar samasekali.

Ia pernah difitnah menerima suap, padahal fitnah itupun tidak benar samasekali.

Sepanjang ia menjadi Jamwas, Pak Marwan tidak mengizinkan Kejaksaan Negeri dan Kejaksaan Tinggi setempat di daerah yang akan dikunjungi Pak Marwan membayari kunjungan rombongan Jamwas.

Tingginya tingkat disiplin Pak Marwan sepanjang menjadi Jamwas, membuat begitu banyak jaksa-jaksa nakal yang ketakutan.

Ia tak segan memerintahkan Satgas di bawah Jaksa Agung Muda Pengawasan untuk menangkap oknum jaksa yang mencoba memeras.

Pak Marwan jugalah yang mengetatkan peraturan di lingkungan Gedung Bundar, pasca terungkapnya kasus suap Artalyta Suryani kepada Jaksa Urip.

Bahkan pada saat kasus Urip terungkap, Pak Marwan memerintahkan kepada bawahannya untuk mencatat semua nomor telepon para jaksa yang sedang menangani kasus-kasus korupsi di lingkungan Gedung Bundar.

Semua nomor telepon itu diserahkan kepada Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen atau Jamintel, untuk diawasi oleh bagian intelijen guna mencegah terulangnya kasus Urip di lingkungan Kejaksaan Agung.

Kabar tentang wafatnya Prof Marwan Effendy, buat saya adalah sebuah kabar yang begitu menyedihkan.

Sebagai sahabat baik yang tahu betul bahwa ia adalah salah satu jaksa terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia, saya sungguh merasa sangat kehilangan.

Ode adalah sebuah puisi yang penuh pujian kepada orang yang berjasa.

Itu sebab mengapa tulisan ini saya beri judul “Ode Untuk Almarhum Prof Marwan Effendy, Selamat Jalan”.

Marwan Effendy pantas dikenang sebagai jaksa terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia.

Ia tidak cuma omong kosong sepanjang menjabat sebagai Jampidsus, saat ia mengatakan bahwa Gedung Bundar berhasil mengembalikan uang negara pada rilis akhir tahun.

Sebab angka uang yang dikembalikan ke dalam kas negara itu, sudah langsung dicatatkan.

Dan bukan untuk gagah-gagahan termuat di media massa.

Selamat jalan Pak Marwan.

Terimakasih untuk tempura dan perbincangan yang sangat positif pada bulan lalu.

Hati saya sungguh tersentuh sebab diberi kejutan dan hadiah ulang tahun yang sangat mengejutkan dari seorang tokoh dan kawan yang begitu saya hormati.

Beristirahatlah dalam damai, Prof.

Salut dan sungguh saya menghormati anda.   (*)

MS

Jakarta,

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: