Gedung Tua Bareskrim Warisan Bung Karno Sudah Saatnya Diganti

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti berjabatan tangan dengan Presiden Joko Widodo, disaksikan Wapres Muhammad Jusuf Kalla

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti berjabatan tangan dengan Presiden Joko Widodo, disaksikan Wapres Muhammad Jusuf Kalla

Oleh : Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI.COM

Jakarta, Jumat 5 Juni 2015 (KATAKAMI.COM) — Thank God It’s Friday. Tak terasa kita sudah sampai lagi di penghujung minggu.

Yang menarik untuk saya ulas adalah rencana dari Mabes Polri untuk membangun gedung baru 17 lantai yang akan digunakan oleh jajaran Bareskrim Polri.

Biaya dari pembangunan gedung baru ini masih diupayakan dan baru bisa direalisasikan pembangunannya mulai tahun 2016 mendatang.

Lalu pembangunan gedung itu dijadwalkan selama 2 tahun.

Sehingga, Bareskrim baru bisa berkantor di gedung yang baru pada pertengahan tahun 2018 mendatang.

Anggaran pembangunannya sekitar Rp. 300 Milyar.

Dari anggaran Rp 300 Milyar itu, Polri akan membangun kantor untuk Bareskrim dan Puslabfor.

Mabes Polri tidak menjelaskan, apakah didalam anggaran Rp. 300 Milyar ini akan termasuk pembangunan rumah tahanan atau rutan yang menyatu pada Bareskrim sebagai tempat untuk menahan orang-orang tangkapan jajaran Bareskrim.

Tetapi yang pasti, gedung baru ini akan menampung kelima Direktorat yang ada di bawah Bareskrim yaitu :

1. Direktorat Tipidum

2. Direktorat Tipideksus

3. Direktorat Tipidter

4. Direktorat Tipidnarkoba

5. Direktorat Tipidkor

Kapolri Badrodin Haiti, dan Wakapolri Budi Gunawan

Kapolri Badrodin Haiti, dan Wakapolri Budi Gunawan

Yang menarik disini adalah ditariknya Direktorat Narkoba untuk bergabung dan berkantor di Gedung Bareskrim.

Padahal selama bertahun-tahun, Direktorat Narkoba Polri merantau dan seakan menjadi anak tiri yang kantornya terpisah jauh dari Bareskrim Polri.

Selama ini, Direktorat Narkoba berkantor di kawasan Cawang, Jakarta Timur, satu komplek dan satu pekarangan dengan Badan Narkotika Nasional (BNN).

Menumpangnya Direktorat Narkoba di wilayah perkantoran BNN, sekitar 6 tahun lalu pernah saya kritik dan saya sarankan untuk ditarik ke Mabes Polri, sebab sangat riskan menumpang di kantor orang lain yang terindikasi mempunyai semangat persaingan yang tidak sehat.

Direktorat Narkoba versus BNN.

Kerap terjadi di masa lalu, BNN diduga dan memang terindikasi menelikung dan menyabot sejumlah hal yang harusnya akan dilakukan oleh Direktorat Narkoba.

Sehingga, rencana Mabes Polri menyatukan kelima Direktorat yang ada dibawah Bareskrim untuk berkantor di gedung yang sama, adalah sebuah rencana sangat bagus dan positif.

Gedung baru itu akan termasuk untuk membangunkan kantor baru bagi Pusat Laboratorium Forensik atau Puslabfor.

Puslabfor Polri ini dibentuk tahun 1954.

Sejak tahun 2002, berdasarkan surat keputusan Kapolri No.Pol.: Kep/53/X/2002 tgl 17 Oktober 2002, Puslabfor adalah unsur pelaksana teknik Bareskrim Polri.

Dalam upaya jajaran Kepolisian untuk mencari dan mengumpulkan bukti dalam proses penyidikan, polisi memang diberi kewenangan untuk melakukannya guna menemukan tersangka dari kasus yang sedang ditangani.

Sampai dengan saat ini, Puslabfor Polri mempunyai beberapa cabang di berbagai wilayah di Indonesia, antara lain di Palembang, Semarang, Surabaya, Makassar dan Denpasar. Selanjutnya Puslabfor Polri juga akan mempunyai cabang di Balikpapan, Pontianak, Pekanbaru dan Papua.

Strategisnya tugas dari para ahli forensik dari jajaran Puslabfor Polri berperan dalam tahapan penyelidikan, penindakan, pemeriksaan, penyelesaian berkas perkara, penuntutan dan peradilan.

Puslabfor Polri ini melayani kebutuhan aparat penegak hukum dan masyarakat umum yang memang membutuhkan jasa pemeriksaan ahli-ahli forensik kepolisian, antara lain:

1. Bidang Dokumen dan Uang Palsu Forensik

2. Bidang Balistik dan Matulurgi Forensik

3. Bidang Fisika dan Komputer Forensik

4. Bidang Kimia, Toksikologi, dan Biologi Forensik

5. Bidang Narkotika, Psikotropika, dan Obat Berbahaya Forensik

Kabareskrim Komjen Polisi Budi Waseso

Kabareskrim Komjen Polisi Budi Waseso

Jadi bayangkan, betapa banyak dan begitu beragamnya, bidang-bidang tugas yang akan berkantor di Gedung Baru Bareskrim.

Gedung baru itu, bukan hanya melulu untuk menjadi kantor bagi para penyidik Bareskrim, tetapi juga dialokasikan untuk membangun sebuah Pusat Laboratorium Forensik yang akan sangat menentukan peningkatan dan prestasi kerja jajaran kepolisian dalam upaya penegakan hukum.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti akan pensiun tanggal 1 Agustus 2016.

Gedung Bareskrim yang baru ini  akan selesai pembangunannya pada pertengahan tahun 2018.

Artinya apa?

Badrodin akan mewariskan sesuatu yang akan sangat berguna dalam menunjang peningkatan kinerja dan profesionalisme bagi junior-juniornya.

Termasuk Kabareskrim Komjen Budi Waseso.

Walau usulan untuk dibangunnya gedung baru ini adalah dari Kabareskrim Budi Waseso.

Kemungkinan besar, Budi Wasesopun tak akan sempat menikmati kemegahan kantor baru 17 lantai yang akan dibangun untuk jajaran Bareskrim Polri.

Sebab belum tentu sampai pertengahan tahun 2018 mendatang, Budi Waseso masih menjabat sebagai Kabareskrim.

Yang bahu membahu dilakukan oleh jajaran pimpinan di Mabes Polri, yaitu Kapolri, Wakapolri dan Kabareskrim, adalah memberikan yang terbaik untuk diwariskan dan digunakan oleh para junior mereka di jajaran kepolisian.

Megawati Soekarnoputri

Megawati Soekarnoputri

Ini sama dengan apa yang pernah dilakukan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri yang menjabat dari tahun 2001 sampai 2004.

Bu Mega sangat ingin seorang presiden punya kantor tersendiri yang menjadi tempat pengambilan keputusan oleh pemerintah pusat.

Di era Bu Mega, disusunlah rencana pembangunan Kantor Presiden yang letaknya di sayap kiri Istana Kepresidenan (bila kita menghadap ke Tugu Monas).

Persis disaat Kantor Presiden itu selesai dibangun dan siap digunakan, pemerintahan di Indonesia sudah berganti dari Megawati Soekarnoputri ke Susilo Bambang Yudhoyono.

Dua periode pemerintahan Sby yaitu dari tahun 2004 sampai 2014, kantor yang digunakannya untuk bekerja, rapat kabinet dan menerima berbagai tamu dari dalam dan luar negeri, adalah kantor yang merupakan ide dan warisan sangat membanggakan dari Megawati.

Hal yang sama, akan terjadi di Mabes Polri.

Apa yang akan mereka bangun yaitu Gedung Bareskrim dan Puslabfor yang baru, adalah warisan yang akan sangat membanggakan untuk junior-junior mereka yang kelak akan bertugas di Bareskrim dan jajarannya.

Yang ingin mereka bangun bukan rumah dinas mewah atau menyulap ruang kerja para pejabat utama yang saat ini menjabat, menjadi ruang kerja yang sangat lux dan glamour.

Yang ingin mereka bangun adalah sebuah kantor yang akan sangat berguna dalam menunjang kinerja jajaran Bareskrim sebagai jantungnya Mabes Polri.

Pertanyaannya, mengapa harus dikritik dan mengapa harus dihambat?

Gedung Bareskrim saat ini adalah sebuah gedung tua yang sudah berdiri selama 61 tahun.

Kantor yang sekarang menjadi tempat kerja Komjen Budi Waseso adalah gedung yang dibangun para era kepemimpinan Bung Karno sebagai Presiden Pertama di negara ini.

Sementara kita tahu bersama, sampai dengan saat ini sudah 7 orang yang bergiliran menjadi Presiden Indonesia.

KPK yang didirikan tahun 2002 saja, sudah meminta dan akhirnya diberi anggaran sebesar Rp. 225 Milyar untuk membangun gedung baru.

BNPT atau Badan Nasional Penanggulangan Teror yang didirikan tahun 2010 saja, sudah mengajukan anggaran senilai Rp. 300 milyar untuk membangun 2 kantor baru agar tidak terus menerus menyewa rumah mewah milik seorang pengusaha wanita.

Bandingkan dengan Gedung Bareskrim yang didirikan tahun 1954.

Wajar dan pantaskah, jika mereka menginginkan sebuah gedung yang baru?

Mari kita jawab sesuai kata hati kita masing-masing.

Dan jangan dijawab dengan bahasa-bahasa politik.   (*)

MS

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: