Di Iringi Lagu Di Timur Matahari, Ingatlah Bahwa Amien Rais Pahlawan Reformasi

image

 

 

Oleh: Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI

 

 

Jakarta, Jumat 29 April 2016 (KATAKAMI) — Datang lagi berita besar yang mengejutkan ke tengah-tengah kita semua.

Berawal dari pernyataan Amien Rais soal Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok.

Amien Rais menilai Ahok adalah sosok yang arogan, Ahok senang menantang berbagai pihak dan keras kepala.

Amien pun menyebut Ahok sebagai satu-satunya pemimpin yang merasa paling benar dan ingin memboyong kebenaran menurut kacamatanya sendiri. Karena itu, Amien menyatakan Ahok tidak layak menjadi seorang pemimpin.

“Ini bukan masalah SARA, tetapi dia memang tidak layak menjadi pemimpin. Jangankan presiden, gubernur saja bagi saya kurang pantas,” kata Amien, Minggu (24/4/2016).

Ahok tidak terima dengan komentar Amien itu.

Ahok lantas menyinggung penghargaan aktor demokrasi yang pernah diberikan Amien kepadanya pada akhir 2006.

Saat itu, Ahok masih menjadi Bupati Belitung Timur.

Ahok juga masih ingat bahwa Amien pernah menitipkan perjuangan demokrasi reformasi Indonesia kepadanya.

“Dia ngomong sama saya, ‘Saya titipkan perjuangan demokrasi reformasi Indonesia kepada kamu.’ Saya dikasih pin, pakai emas lagi,” kata Ahok, Senin (25/4/2016).

“Kamu ingatkan saja ke dia, mungkin dia sudah tua, pikun,” ucap Ahok menambahkan.

 

 

Amien Rais

Amien Rais

 

 

Saya pribadi tak ingin masuk pada murka banyak pihak atas kelancangan Ahok mencerca Amien Rais.

Tapi saya punya kedekatan historis dengan Amien Rais.

Tahun 1998, saat saya masih jadi reporter dan penyiar di Radio Trijaya FM, saya diminta untuk menjadi pembawa acara atau MC pada acara deklarasi Partai Amanat Nasional.

PAN dideklarasasikan di Jakarta pada 23 Agustus 1998 di Istora Senayan Jakarta oleh 50 tokoh nasional, di antaranya mantan Ketua umum Muhammadiyah Prof. Dr. H. Amien Rais, , Goenawan Mohammad, Abdillah Toha, Dr. Rizal Ramli, Dr. Albert Hasibuan, Toety Heraty, Prof. Dr. Emil Salim, Drs. Faisal Basri, M.A., A.M. Fatwa, Zoemrotin, Alvin Lie Ling Piao, dan lainnya.

Saya yang menjadi MC.

Hanya saya yang menjadi MC tunggal dalam acara itu.

Ribuan orang datang memenuhi Istora Senayan Jakarta.

Didalam dan diluar gedung Istora Senayan Jakarta, penuh sesak melimpah ruah manusianya merayakan dan menghadiri pendeklarasian berdirinya Partai Amanat Nasional.

Dan Pak Amien Rais masih ingat bahwa saya yang menjadi MC saat PAN di dirikan.

Saya pun berulang kali wawancara dengan Pak Amien Rais sebelum dan setelah era reformasi.

Bahkan Pak Amien ikut masuk dalam kedua buku kumpulan wawancara saya sebelum era reformasi yang berjudul “Kebebasan Bersuara Di Radio” dan “Anak Bangsa”.

Lalu kami sangat sering bertemu menjelang Pilpres 2014.

PAN ada dalam barisan Koalisi Merah Putih atau KMP yang mengusung pasangan capres dan cawapres, Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa.

Saya rutin meliput di Rumah Polonia dan di berbagai tempat yang menjadi lokasi kampanye pasangan Prabowo-Hatta.

Saya pasti duluan disapa oleh Pak Amien.

“Mbak Mega, apa kabarnya” Pak Amien selalu bertanya begitu kalau bertemu dengan saya.

Dari dulu, dari mulai sebelum reformasi, sampai dengan sekarang, bila bertemu dengan Pak Amien Rais, komentar saya cuma 1 tentang beliau ini.

Beliau ini sederhana luar biasa, begitu rendah hati dan sangat mumpuni.

Senyum beliau adalah senyum seorang bapak yang sangat menentramkan hati.

Tutur kata beliau kalau berbicara menunjukkan tingkat kecerdasan yang sangat tinggi dan memiliki karakter serta integritas yang sangat mengagumkan.

Apa yang menjadi jeritan hati rakyat, didengar.

Apa yang menjadi penderitaan rakyat, dirasakan.

Apa yang menjadi kebutuhan rakyat, disuarakan.

Dan itu akan tetap menjadi sebuah perjuangan panjang dari Amien Rais.

Ketika rakyat dibentak dan dicaci maki.

Ketika banyak kalangan ditantang dan dilecehkan.

Ketika kepedihan dan kesengsaraan rakyat dianggap lumrah, Amien Rais bangkit membela rakyat.

Pertanyaannya, itukah yang dimaksud dengan sebuah kepikunan?

Jawabannya, TIDAK.

Saya tutup tulisan ini dengan menyanyikan sebuah lagu yang berjudul, Di Timur Matahari”.

Inilah lagu yang kami nyanyikan dulu, saat Partai Amanat Nasional di deklarasikan di Istora Senayan Jakarta tahun 1998.

Pak Amien, anda adalah Pahlawan Reformasi.

Pelaku sejarah yang berjasa pada bangsa ini.

Terimalah salam hormat dan rasa kagum saya yang begitu tulus setulus-tulusnya.

Di timur matahari

Mulai bercahaya

Bangun dan berdiri

Kawan semua

Marilah mengatur

Barisan kita

Seluruh Pemuda Indonesia (****)

MS

Advertisements

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: