​Muammar Gaddafi, Benghazi Dan Trio Geist-Tiegen-Paronto

John Tiegen dan Mark Geist saat tampil berbicara dalam acara Konvensi Nasional Partai Republik di Cleveland, Ohio, Amerika Serikat, Senin 18 Juli 2016

John Tiegen dan Mark Geist saat tampil berbicara dalam acara Konvensi Nasional Partai Republik di Cleveland, Ohio, Amerika Serikat, Senin 18 Juli 2016

 

 

 

Oleh: Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI

 

 

 

Jakarta, Rabu 20 Juli 2016 (KATAKAMI) —  Dari tayangan live streaming yang bisa saya saksikan dari internet, saya bisa menyaksikan penyelenggaraan acara Konvensi Nasional Partai Republik di Cleveland, Ohio.

Di hari pertama konvensi, Senin malam 18 Juli 2016 (di Jakarta sudah Selasa pagi 19 Juli 2016) ada 2 pembicara yang mencuri perhatian saya yaitu Mark Geist dan John Tiegen.

Mereka ini ada eks pasukan US NAVY SEAL yang menjadi saksi hidup untuk kasus Benghazi di Libya tanggal 11 September 2012.

Saat itu kelompok radikal Islam menyerang komplek diplomatik Amerika Serikat.

Duta Besar AS Christopher Stevens dan 3 Warga Negara Amerika Serikat tewas pasca serangan terhadap kantor Konsulat AS di Benghazi, Libya tanggal 11 September 2012.

Ketiga Warga Negara AS yang ikut tewas terbunuh adalah:

Sean Smith, pejabat Kemenlu AS yang bekerja di Kantor Konsulat AS di Benghazi.

Kemudian, 2 anggota Pasukan Khusus US NAVY SEAL yaitu Tyrone Woods dan Glen Doherty, juga tewas dalam serangan di Benghazi.

 

 

 

 

Serangan itu terjadi pada Selasa (11/9/2012) malam waktu setempat.

Massa sempat terlibat bentrokan dengan pasukan keamanan Libya sebelum akhirnya mundur akibat mendapat serangan hebat.

Sejumlah wartawan di lokasi unjuk rasa melaporkan mereka melihat peserta unjuk rasa melakukan penjarahan. Mereka mengambil meja, kursi hingga mesin cuci dalam dalam kantor konsulat.

Yang menjadi permasalahan adalah Kantor Konsulat Amerika di Benghazi ini sudah meminta pertolongan ke Washington setelah terjadi serangan.

Tapi bantuan tak kunjung datang.

Selama 13 jam, sejumlah Pasukan US NAVY SEAL bertarung nyawa menghadapi kelompok radikal Islam yang menyerang Kantor Konsulat.

Akibat tidak seimbangnya jumlah personil yang melindungi Kantor Konsulat Amerika, maka 2 pasukan khusus US NAVY SEAL ikut tewas bersama sang duta besar dan 1 pejabat kedutaan.

Di hari pertama Konvensi Nasional Partai Republik kemarin, ibu dari Almarhum Sean Smith (pejabat Konsultas AS di Benghazi yang tewas terbunuh dalam serangan tanggal 11 September 2012), menjadi pembicara dalam Konvensi Partai Republik.

Selain itu, 2 anggota Pasukan Khusus NAVY SEAL yang selamat dari serangan mengerikan di tanggal 11 September 2012 itu, juga menjadi pembicara dalam konvensi Partai Republik yaitu Mark Geist dan John Tiegen.

 

 

 

 

Mark Geist dan John Tiegen, serta 1 rekan mereka sesama NAVY SEAL yaitu Kris Paronto, adalah saksi hidup.

Mereka yang berperang selama 13 jam di Benghazi.

Bertaruh nyawa untuk melindungi Kantor Konsulat Amerika di Benghazi.

Kisah Nyata dari perjuangan Pasukan Khusus US NAVY SEAL yang hebat ini sudah di filmkan dan dirilis perdana tanggal 15 Januari 2016.

Judul film tersebut adalah : “13 Hours: The Secret Soldiers of Benghazi”

Pada filmnya dikisahkan bahwa Duta Besar Amerika Serikat Christoper Stevens dan 3 staff lainnya meninggal dunia akibat serangan yang dilakukan oleh kelompok Radikal Islam yang menyerang dan melakukan kontak senjata.

Pada keadaan inilah muncul enam orang anggota Pasukan Khusus US NAVY SEAL  berjuang mati-matian menjaga keselamatan orang yang ada di dalam Kedutaan Besar Amerika tersebut.

Mereka dikirim ke lokasi konflik untuk mempertahankan properti Amerika dan meredam kekacauan di Libya.

Film ini disutradarai oleh Michael Bay.

Film 13 Hours : The Secret Soldiers of Benghazi ini diperankan oleh John Kransinki, James Badge Dale, Max Martini, Pablo Shcreiber, dan David Denman.

 

 

 

 

 

Apa yang bisa saya sampaikan?

Saat saya menonton siaran langsung ketika kedua orang Benghazi Survivors Mark Geist dan John Tiegen berbicara di Konvensi Partai Republik, saya teringat pada mantan Pemimpin Libya, Muammar Gaddafi.

Saya tidak pernah ke Timur Tengah.

Dimana letak Libya pun, saya tidak tahu.

Tapi TWITTER, menjadi jembatan bagi saya bisa sehingga bisa dikenal dan berkawan dengan banyak orang didunia.

Termasuk dengan Kolonel Muammar Gaddadi, Pemimpin Libya.

Gaddafi dan anak lelakinya memfollow salah satu akun twitter saya.

Bahkan beberapa kali Gaddafi mengirim pesan mention kepasa saya.

Termasuk saat Rusia menolak untuk memveto Resolusi Dewan Keamanan PBB yang memutuskan kebijakan No Fly Zone untuk Libya.

Gaddafi berharap Rusia memveto.

Tapi ternyata tidak.

Di akun twitter yang sama, saya pun di follow oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.

Mungkin karena saya wartawan yang juga berkawan dengan Pemimpin Rusia maka Gaddafi berusaha curhat.

Hingga akhirnya, saya baca berita bahwa Gaddafi tewas terbunuh.

Gaddafi, yang memimpin Libya selama 42 tahun mulai tahun 1969 hingga 2011, meninggal pada tanggal 20 Oktober 2011 pada usia 69 tahun di tengah-tengah Perang Saudara Libya.

Gaddafi ditemukan meninggal dunia pada sebuah pertempuran di Sirte.

Sejak itu, tak pernah lagi ada mention untuk saya di Twitter.

Beberapa kali saya menulis soal konflik di Libya.

Termasuk di masa masa akhir hidup Muammar Gaddafi.

 

 

 

 

Dan di dalam sebuah tulisan, saya pernah mengatakan bahwa yang terpenting dilakukan untuk rakyat Libya adalah mewujudkan perdamaian dan keamanan.

Semua itu hanya bisa dilakukan jika para pemimpin, Gaddafi terutama, mau dan bisa menggunakan HATI yang penuh cinta untuk mengasihi seluruh rakyat Libya.

Bahkan saya cantumkan di salah satu tulisan saya dulu, lirik lagu dari Mariah Carey, “I Want To Know What Love Is” judulnya.

Konflik di Libya, hanya menyisakan derita berkepanjangan untuk rakyat sipil disana.

Dan ke 6 Pasukan US NAVY SEAL yang terperangkap dalam perang sangat mengerikan selama 13 jam, adalah pahlawan.

Namun dari 6 orang itu, ada 2 orang yang tewas dan 4 orang selamat.

Walau mereka dibayar secara khusus untuk bertugas di Libya, tapi mereka adalah pahlawan bagi Amerika.

Sejarah mencatat bahwa mereka mempertaruhkan hidup mati mereka demi menjaga kehormatan Amerika.

Yang menjadi permasalahan adalah Pemerintah Amerika Serikat, utamanya Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, melakukan pembiaran selama 13 jam.

Disini letak dosa Hillary pada rakyat Amerika, utamanya kepada ke-4 korban yang tewas.

Kalau ada yang berspekulasi bahwa Film 13 Hours: The Secret Soldiers of Benghazi bukan merupakan kisah nyata dan berbau politik.

Menurut saya tidak.

Film 13 Hours: The Secret Soldiers of Benghazi adalah sebuah kisah nyata.

Berbicara tentang fakta.

Dan fakta itu tercantum dalam lembaran sejarah.

 

 

 

Ketiga Pasukan US NAVY SEAL ini tak mungkin berbohong mengenai sebuah tragedi kemanusiaan yang melibatkan diri mereka untuk bertarung nyawa melawan teroris.

Mereka pantas disebut pahlawan.

Malah menurut saya, mereka layak diberi tanda kehormatan.

Film ini difitnah berisi dusta

Yang menuduh bahwa film ini penuh dusta pasti memiliki kekuatiran dan ketakutan yang sangat besar jika rahasia di balik kelambatan mengirim bantuan selama 13 jam menjadi bocor ke publik.

Saya berpendapat bahwa ketiga lelaki hebat ini yaitu Mark Geist, John Tiegen dan Kris Paronto tak mungkin berbohong tentang sesuatu hal yang mereka alami didalam hidup mereka.

Dimana ketika mereka mengalami tragedi itu, hidup mati pasti sudah dipasrahkan kepada Tuhan demi mempertahankam kehormatan negara mereka.

Rasa tanggung jawab dan loyalitas yang sangat besar adalah dorongan kuat di balik keberanian mereka.

13 jam Hillary Clinton sebagai Menteri Luar Negeri tak merespon dan tak memberi bantuan bagi Kedutaan Besar Amerika yang sedang diserang teroris bersenjata.

Menurut pendapat saya itu adalah kesalahan sangat fatal yang menunjukkan kesengajaan untuk terjadinya sebuah pembiaraan yang sungguh tragis.

 

 

 

Menutup tulisan ini, siapapun dan dimanapun pemimpin dunia berada, cintailah rakyat kalian setulus hati.

Perdamaian dan keamanan harus diwujudkan.

Janganlah pernah berdusta kepada rakyat.

Jangan korbankan keselamatan jiwa raga rakyat yang tak berdosa.

Walaupun misalnya yang dikorbankan itu adalah bawahan dan tentara.

Pemimpin bukanlah pemimpin jika memiliki kekejaman hati sehingga menjadi lebih tak bermoral melebihi teroris.

Dan jangan biarkan peluru berbicara menghabisi nyawa rakyat sipil.
I Want To What Love Is – Mariah Carey

I gotta take a little time

A little time to think things over

I better read between the lines

In case I need it when I’m colder

In my life there’s been heartache and pain

I don’t know if I can face it again

Can’t stop now, I’ve traveled so far

To change this lonely life

I wanna know what love is

I want you to show me

I wanna feel what love is

I know you can show me

(*****)

 

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: