​Mendiang Tyrone Woods Dan Peringatan 4 Tahun SeranganTeroris Di Benghazi

 

 

 

Oleh: Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI

 

 

 

Jakarta, Senin 22 Agustus 2016 (KATAKAMI) — Sekitar 3 minggu lagi, Amerika Serikat akan memperingati 4 tahun serangan teroris terhadap Kantor Konsulat Amerika Serikat di Benghazi, Libya.

Serangan itu terjadi tanggal 11 September 2012.

Saat itu kelompok radikal Islam menyerang komplek diplomatik Amerika Serikat.

Duta Besar AS Christopher Stevens dan 3 Warga Negara Amerika Serikat tewas pasca serangan terhadap kantor Konsulat AS di Benghazi, Libya tanggal 11 September 2012.

Ketiga Warga Negara AS yang ikut tewas terbunuh adalah:

Sean Smith, pejabat Kemenlu AS yang bekerja di Kantor Konsulat AS di Benghazi.

Kemudian, 2 anggota Pasukan Khusus US NAVY SEAL yang diperbantukan untuk melindungi Markas CIA di Benghazi. Mereka adalah yaitu Tyrone Woods dan Glen Doherty. Kedua mereka ini juga ikut tewas dalam serangan di Benghazi.

 

 

 

 

 

Selama 13 jam, mereka yang ada di Kantor Konsulat Amerika Serikat meminta pertolongan ke Washington tapi bantuan tak kunjung datang.

Maka selama 13 jam itulah, sejumlah Pasukan US NAVY SEAL bertarung nyawa menghadapi kelompok radikal Islam yang menyerang Kantor Konsulat Amerika Serikat dan Markas CIA di Benghazi.

Kisah tentang serangan di Benghazi ini sudah di filmkan berdasarkan kisah nyata.

Film itu berjudul 13 Hours:  The Secret Soldiers of Benghazi.

Film ini bisa dibuat atas prakarsa dari 3 orang mantan Pasukan US NAVY SEAL yang juga berada di lokasi atau di tkp (tempat kejadian perkara) saat serangan terjadi.

 

 

Benghazi Survivor

Benghazi Survivor

 

Full movie: 13 Hours

 

 

Mereka adalah Mark Geist, John Tiegen dan Kris Paronto.

Ketiganya kini disebut sebagai “Benghazi Survivors”.

Apa yang kali ini ingin saya ulas?

Saya menyoroti satu hal yang agak berbeda sudut pandangnya.

Mungkin inipun belum disadari oleh Pihak Amerika Serikat sendiri.

Tapi ketika saya menonton film 13 Hours, saya mencatat 2 kejadian yang sentralnya ada pada sosok Tyrone Woods.

Rone atau Tyrone Woods adalah Pasukan US NAVY SEAL yang ikut gugur dalam serangan itu.

Ia kelahiran tahun 1971, berarti seumuran dengan saya.

Sejak pertama kali saya menonton film 13 Hours ini, 2 kejadian tentang Tyrone Woods ini saya ingat baik-baik.

Setiap kali saya melihat dan membaca berita di media online tentang Dorothy, istri dari mendiang Tyrone Woods mengecam serangan Benghazi, mau tak mau saya jadi teringat pada 2 kejadian tentang almarhum suaminya yang dikisahkan dalam film 13 Hours.

 

 

 

 

Sekilas dari film itu jika disimak dengan sangat cermat, kita harus mengakui berapa hebatnya pasukan-pasukan US NAVY SEAL.

Keberanian mereka yang paling utama.

Ketangkasan dan kecepatan mereka, terutama dalam menggunakan senjata.

Dua kejadian yang sentralnya ada pada Almarhum Tyrone Woods adalah:

Pertama saat ia bertugas menjemput rekannya yang bernama Jack Silva ke bandara karena akan bergabung di Markas CIA (The Annex) di Benghazi.

Saat mobil yang dikendarai Tyrone Woods dan Jack Silva terjebak di lorong sempit dan dalam posisi terkepung oleh pasukan lokal Libya bersenjata, Tyrone Woods meminta pertolongan agar sejumlah anak buahnya yang sedang berada di markas didatangkan untuk menolong.

Permintaan Tyrone Woods dari Handy Talkie ke markas ditolak oleh pimpinan CIA yang ada di markas tersebut.

Terjadilah pertengkaran antara Tyrone Woods dengan sang pimpinan setelah Tyrone Woods dan Jack Silva tiba di markas.

Sang pimpinan ketus mengatakan,

“Anda bukan CIA. Anda disini karena dibayar untuk membantu CIA”.

Dan Tyrone Woods menjawab, “Kalau anda ingin saya bekerja dengan baik, biarkan saya mendapatkan pertolongan dari anak buah saya disaat saya memerlukan mereka”.

 

 

 

 

Kejadian kedua yang sentralnya ada pada Tyrone Woods adalah saat pimpinan CIA memarahi seorang pasukan US NAVY SEAL kedapatan tertidur dalam sebuah rapat dengan Duta Besar Christhoper Stevens.

Yang tidur bukan Tyrone Woods tapi rekannya yang lain.

Tapi Tyrone dengan tegas membela rekannya di hadapan sang pimpinan.

Tyrone memberitahu sang pimpinan bahwa tengah malam rekannya itu harus berangkat tugas dan baru kembali pada pagi harinya.

(Tyrone berusaha menjelaskan bahwa rekannya belum tidur samasekali sejak malam harinya karena harus non stop bertugas).

Karena Tyrone Woods nekat membela rekannya, ia yang kena damprat.

“The last chance, Tyrone” begitu diucapkan pimpinan CIA memarahi Tyrone Woods.

Dua kejadian ini memberikan satu gambaran tentang siapa dan bagaimana sosok yang bernama Tyrone Woods.

Ia sosok yang sangat pemberani, tentara yang luar biasa hebat dan sangat setia kawan.

Ia tidak ingin rekannya dimarahi.

Itu sebab ia memberitahu alasannya mengapa rekannya begitu kelelahan dan tak perlu dimarahi.

 

 

 

 

 

 

Sementara sang pimpinan di Markas CIA Benghazi memang sosok si tukang ngomel.

Ngomel melulu.

Belakangan di akhir film, barulah sang pimpinan menyadari tentang keberanian, kehebatan, tanggung jawab dan jasa yang begitu besar dari para pasukan US NAVY SEAL yang diperbantukan di Markas CIA Benghazi.

Sampai detik terakhir, para pasukan US NAVY SEAL ini terbukti tak kenal kata menyerah dan mati-matian bertarung nyawa dengan gagah berani.

Akhirnya karena merasa terpukul atas kehancuran markas CIA, termasuk karena gugurnya 2 orang dari Pihak CIA dalam serangan itu, sang pimpinan si tukang ngomel itu, sempat tidak mau pulang ke Amerika.

Ia harus dibentak dulu oleh bawahannya agar mau ikut pulang ke Amerika.

 

 

 

 

 

Jadi, peringatan 4 tahun serangan Benghazi, patut digunakan untuk mengenang sisi patriotisme dari mereka yang telah gugur.

Utamanya Tyrone Woods.

Ia mati setelah tuntas melaksanakan sebuah tugas sangat mulia membela negaranya.

Dan sampai tarikan nafasnya yang terakhir, ia menunjukkan sebuah keberanian yang begitu mengagumkan.

Dorothy, yang istri, patut berbangga.

Kehilangan orang yang sangat dicintai, apalagi yang merupakan belahan jiwa, adalah seperti menahan perih yang tak tertahankan dan tak berkesudahan jauh didasar jiwa.

Requiescat In Pace. (****)

 

 

 

MS

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: