​In Memoriam Ibu Rusli Aminah Pasaribu Pada Peringatan Ulangtahun Ke 80

 

 

 

Oleh: Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI

 

 

 

Jakarta, Sabtu 27 Agustus 2016 (KATAKAMI) —- Jika ada satu pertanyaan yang sangat sederhana ditujukan kepada kita semua, siapa dan bagaimanakah sosok seorang ibu bagi diri kita?

Ibu adalah wanita paling tinggi derajatnya dalam hidup kita.

Ibu yang mengandung dan melahirkan kita didunia.

Ibu yang menyusui, memmbesarkan dan mendidik kita.

Sehingga tak heran jika ada yang mengatakan, “Surga ada di telapak kaki ibu”.

Dalam ajaran agama Islam, sebuah hadits mengajarkan bahwa kecintaan terhadap sosok ibu harus 3 kali lipat besarnya.

Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548).

 

 

 

 

 

Sedangkan dalam ajaran agama Kristiani, Yesus Kristus pun menempatkan sosok ibu pada derajat yang sangat tinggi dan dimuliakan.

Sampai menjelang akhir hayatnya, Yesus tetap mengingatkan tentang penting dan istimewanya sosok ibu.

Yohanes 19:27:

Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Tepat pada tanggal 12 September mendatang, almarhum ibu saya akan berulang tahun ke 80.

Namanya Rusli Aminah Pasaribu.

Beliau lahir di Pangururan tanggal 12 September 1936.

Di masa mudanya, ibu saya menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Saya anak kelima dari lima bersaudara.

Sebenarnya kami ada 7 bersaudara tetapi yang 2 orang sudah meninggal dunia di waktu mereka kecil.

Dua tahun lalu, persis di bulan Agustus seperti ini pada tahun 2014, saat memasuki penghujung bulan Agustus 2014 ibu saya baru kembali dari rumah sakit setelah diopname selama 3 minggu.

Selama 3 tahun yaitu dari tahun 2011 sampai 2014, saya yang merawat ibu saya yang sakit dimensia.

 

 

 

 

 

Tapi penyakit yang menyebabkan beliau harus masuk rumah sakit adalah penyakit radang paru-paru.

Baru 2 minggu kembali ke rumah, sehari menjelang ulangtahunnya yaitu tanggal 11 September 2014 ibu saya harus masuk rumah sakit lagi.

Badannya panas tinggi.

Dan lemah sekali.

Saya menggendong beliau di punggung saya saat akan memasukkan ke dalam mobil.

Sebab waktu itu tidak ada yang menolong.

Tiga tahun merawat ibu yang sakit, saya sudah terbiasa melakukan semuanya sendirian.

Memandikan ibu saya pagi sore.

Memakaikan atau membukakan pakaian.

Memakaikan dan membuang pampers.

Membersihkan tubuh beliau bila buang air kecil dan buang air besar.

Memberi makan, entah itu sarapan, makan siang dan makan malam.

Memberi obat.

Semua saya lakukan sendiri dengan penuh kasih sayang.

Tanggal 11 September 2014, ibu saya kembali di opname.

Dan dirawat hampir 3 minggu.

Tetap saya yang menunggui beliau 24 jam di rumah sakit.

 

 

 

 

Hingga akhirnya beliau meninggal dunia tanggal 4 Oktober 2014.

Kalimat pertama yang saya ucapkan disaat saya melihat ibu saya meninggal dunia adalah;

“Mama, terimakasih ya Mama, karena aku yang Mama izinkan merawat Mama selama ini. Maafkan aku kalau ada kesalahanku. Yang terbaik yang aku bisa lakukan, sudah aku lakukan”.

Tak terhitung berapa kali saya menangis sejak kematian ibu saya.

Tapi setiap kali saya menangis, suara ibu saya seakan menggema di relung hati saya agar saya jangan menangis dan harus sabar.

Hampir 2 tahun beliau wafat, tak pernah sedetikpun saya melupakannya.

Hampir 2 tahun beliau wafat, tak pernah sedetikpun saya tak merindukannya.

Maka setiap kali saya melihat atau membaca berita, ada orangtua menangis karena kematian anaknya, atau ada istri karena kematian suaminya, siapapun yang berduka karena kematian orang yang sangat dicintainya, saya dapat merasakan bagaimana dan apa yang mereka rasakan.

Ketika kita kehilangan orang yang kita cintai karena mereka sakit, hati dan jiwa kita pasti sangat terguncang.

Apalagi kalau misalnya orang yang kita cintai itu mati karena dibunuh.

Apalagi jika pembunuhan itu adalah pembunuhan berencana.

Lalu jika ada anak didunia ini yang ibunya mati dibunuh, saya yakin anak ini tak akan pernah mau memaafkan pembunuh ibunya.

Lebih mengerikan lagi adalah jika misalnya didalam hidup ini ada seorang lelaki yang sudah membunuh ibu dari orang yang dicintainya, tapi tetap memaksa agar orang dicintainya harus mau kepada dirinya. Jika tidak mau maka ia akan melakukan semua cara kekerasan dan melibatkan sebanyak orang untuk memaksa, terutama untuk menganiaya. Atau misalnya ada yang merasa tak bersalah dan ia menganggap angin lalu tindakan bar bar yang pernah dilakukan di masa lalu.

Seandainya hal seperti ini terjadi dalam kehidupan nyata maka lelaki-lelaki seperti itu pasti merupakan jelmaan setan alias setan dari segala setan.

 

 

 

 

 

 

Jika ibu saya masih hidup maka tanggal 12 September nanti beliau akan berulang tahun ke 80.

Sampai saat ini, sesekali di malam hari, saya suka menatap ke hamparan langit yang tampak hitam dan gelap gulita, lalu saya berteriak memanggil ibu saya.

“MAMAAAAAAAAAAAAAA”.

Menutup tulisan ini, saya hanya ingin mengisi akhir pekan ini dengan mengenang ibu saya menjelang hari ulangtahunnya ke 80.

Setiap tarikan nafas saya, setiap degup jantung saya, setiap denyut nadi saya, isinya selalu berisi kecintaan dan kerinduan yang tak pernah berkesudahan pada ibu saya.

 

 

 

 

 

Doa seorang anak, apalagi doa seorang anak piatu seperti saya, akan selalu didengar dan dikabulkan Tuhan.

Maka saya tak putus mendoakan agar ibu saya bahagia di surga.

Dan dari surga menatap saya dengan penuh cinta.

Menatap anak bungsunya yang masih mengembara dalam hidup.

Menghadapi dan menjalani kehidupan yang tak mudah.

Sebab harus berhadapan dengan kawanan setan pencabut nyawa yang gemar menganiaya umat Tuhan seturut kemauan dan kepentingan mereka masing-masing.

Mama, selamat ulangtahun tanggal 12 September nanti.

Peluk dan cium dari aku, anak perempuanmu yang akan terus mencintaimu sampai selama-lamanya.

Aku rindu Mama, sangat rindu sekali.

Rinduku, tak terhitung banyaknya.

Rinduku, tak tertahankan perihnya.

Rinduku, tak terungkapkan dalamnya. (****)

 

 

 

MS

Advertisements

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: