​3 Kecerobohan Sangat Ekstrim Hillary Clinton Berkampanye Dalam Sepekan

Hillary Clinton saat mengejek pendukung Donald Trump seperti sekeranjanh orang-orang sangat menyedihkan

Hillary Clinton saat mengejek pendukung Donald Trump seperti sekeranjanh orang-orang sangat menyedihkan

 

 

 

Oleh: Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI

 

 

 

Jakarta, Minggu 11 September 2016 (KATAKAMI) — Entah apa yang sebenarnya terjadi pada diri Hillary Clinton sebagai nominasi capres dari Partai Demokrat.

Tiga kali berturut-turut dalam sepekan terakhir ini, Hillary Clinton telah memgalami dan melakukan kecerobohan yang sangat ekstrim atau extremely careless dalam rangkaian kampanye politiknya.

Pertama.

Saat beberapa hari lalu Hillary berkampanye di Cleveland, Ohio, dan saat menggelar konferensi pers di atas pesawatnya.

Hillary terserang batuk kronis sangat memalukan tapi tetap ngotot menghina Donald Trump bahwa setiap kali memikirkan tentang Donald Trump, Hillary mengejek bahwa ia akan langsung mengalami alergi.

Tapi kejadian serangan batuk kronis di dua tempat beberapa hari lalu, di panggung kampanyenya dan di atas pesawat, Hillary sangat dipermalukan oleh kondisi sakitnya sehingga ia harus berhenti bicara. Kamera televisi sedang merekam saat ia terbatuk-batuk sangat parah sehingga akhirnya semua orang yang menonton tayangan batuk tadi mencemooh dan mentertawakan.

Semakin Hillary menghina Donald Trump, semakin ia terbatuk-batuk sangat mengerikan sehingga tidak bisa melanjutkan bicara.

Kedua.

Saat beberapa hari lalu Hillary Clinton menghadiri debat capres yang diadakan stasiun televisi NBC lewat acara “Commander in Chief Forum”.

Mengenakan baju berwarna merah, Hillary ketahuan menggunakan alat bantu pendengaran atau earpiece sepanjang berdebat.

Dan dalam debat NBC ini, ia kembali mengatakan bahwa tidak ada satupun korban dari Pihak Amerika Serikat saat terjadi Serangan Benghazi 2012.

Padahal ada 4 warga negara Amerika Serikat yang tewas dalam Serangan Benghazi 2012. Dan 2 diantaranya adalah bawahan langsung Hillary Clinton sebagai Menlu yaitu Duta Besar Christopher Stevens dan Sean Smith, seorang pejabat Kemenlu Amerika yang bertugas di  Kantor Konsulat Amerika Serikat di Benghazi, Libya.

Ketiga.

Kemarin dalam sebuah acara penggalangan dana, Hillary menyebut pendukung Trump sebagai sekaranjang orang yang menyedihkan atau A basket of deplorabels.

Kemudian, Hillary juga mengatakan para pendukung Trump rasis, seksis, xenophobia, Islamofobia.

“Untuk menilai secara general, Anda bisa menempatkan setengah dari pendukung Trump ke dalam apa yang saya sebut ‘keranjang yang menyedihkan’. Sayang sekali ada orang-orang seperti itu, dan ia telah mengangkat mereka,” kata Hillary Clinton, Sabtu (10/9/2016).

Hillary kemudian melanjutkan dengan mengatakan sisa pendukung calon Partai Republik itu adalah individu-individu yang merasa dikecewakan oleh perekonomian dan pemerintahan serta putus asa terhadap perubahan.

“Mereka tidak bisa membeli apa yang mereka katakan, tetapi mereka menyimpan harapan hidup mereka akan berbeda. Kita harus memahami dan berempati kepada mereka,” kata Hillary Clinton.

Tapi beberapa jam kemudian, Hillary menyesal untuk ocehan yang disampaikannya.

Ia mengeluarkan pernyataan tanda penyesalan.

Hillary mengaku menyesal usai menyebut setengah dari pendukung rivalnya Donald Trump sebagai kelompok “menyedihkan”.

”Tadi malam saya terlalu generalistik, dan itu tidak pernah jadi ide yang baik. Saya menyesal mengatakan ‘setengah’ (pendukung Trump), itu hal yang salah,” ucap Hillary dalam sebuah pernyataan.

 

 

Hillary Clinton terserang batuk kronis dalam kampanyenya di Cleveland, Ohio, Senin 5 September 2016

Hillary Clinton terserang batuk kronis dalam kampanyenya di Cleveland, Ohio, Senin 5 September 2016

 

 

 

Apa yang bisa saya ulas dari ketiga kecerobohan ekstrim atau extremely careless Hillary Clinton dalam sepekan terakhir ini?

Ini mengindikasikan kepanikan akut Hillary dalam menghadapi persaingannya merebut White House untuk bisa dikuasai.

Hillary yang sedang tidak fit alias sakit.

Ia harus menghadapi situasi yang tampaknya sudah serba menakutkan dirinya.

Fakta di lapangan memang sangat tidak berpihak pada Hillary.

Walau didukung sejumlah media besar sebagai corong kampanyenya, Hillary tak bisa menyembunyikan fakta tentang sedikitnya minat masyarakat Amerika menghadiri kampanye-kampanyenya.

 

 

 

Lokasi kampanye Hillary Clinton yang kosong melompong

Lokasi kampanye Hillary Clinton yang kosong melompong

 

 

Sehingga mau didukung oleh kekuatan media seperti apapun, semua pihak menyaksikan sendiri dengan mata dan kepala mereka bahwa pendukung riil Hillary sangat sedikit.

Jauh sekali bedanya jika dibandingkan kampanye Donald Trump.

Contohnya beberapa hari lalu.

Di dua tempat Hillary berkampanye dalam sepekan ini, di kedua lokasi itu hanya sekitar 200 orang yang hadir.

Sedangkan saat Donald Trump berkampanye, hampir 20 ribu orang memenuhi stadion tempatnya berkampanye.

Wajar Hillary stress.

 

 

Inilah kondisi gedung saat Donald Trump berkampanye beberapa hari lalu yang dihadiri hampir 20 ribu orang

Inilah kondisi gedung saat Donald Trump berkampanye beberapa hari lalu yang dihadiri hampir 20 ribu orang

 

 

 

Saya sudah pernah menulis ulasan tentang ini bahwa Hillary harus berkonsentrasi dulu menyembuhkan sakitnya.

Jika ia sudah sehat dalam arti yang sesungguhnya, maka ia akan mampu bertarung.

Persaingan politik tidak hanya ditentukan di media sosial.

Kekuatan massa pendukung di lapangan dan di akar rumput akan sangat menentukan, adakah dan benarkah sang capres didukung rakyat Amerika.

Seberapa banyak massa pendukung yang hadir akan sangat menentukan.

Disini Hillary gagal total.

Polling bisa dibeli.

 

 

Respon Donald Trump terhadap ejekan Hillary Clinton bahwa para pendukung Donald Trump adalah sekeranjang oranh-orang yang menyedihkan

Respon Donald Trump terhadap ejekan Hillary Clinton bahwa para pendukung Donald Trump adalah sekeranjang oranh-orang yang menyedihkan

 

 

Tapi jumlah massa dan antusiasme masyarakat menghadiri kampanye demi kampanye Donald Trump di berbagai negara bagian, memang sangat luar biasa banyak.

Minimal ribuan, belasan ribu, puluhan ribu bahwa pernah ratusan ribu orang hadir berbondong-bondong di setiap kampanye Donald Trump.

Dan kondisi ini memang bisa menjadi tolak ukur tentang seberapa besar peluang kemenangan dari capres tersebut.

Entah mengapa, setiap Hillary berkampanye, yang hadir hanya ratusan orang.

Dalam sepekan ini, di dua lokasi kampanye Hillary Clinton, hanya 200 orang yang bersedia dan bisa hadir.

Dan mungkin juga saat ini Hillary sedang gugup menjelang peringatan 4 tahun Serangan Benghazi 2012.

Pada tanggal 11 dan 12 September 2012, Komplek Kediaman Duta Besar Amerika Serikat dan Markas CIA (The CIA Annex) di Benghazi, Libya, diserang kelompok teroris bersenjata. Empat warga negara Amerika tewas dalam serangan teroris itu.

Maka setiap memasuki tanggal 11 dan 12 September, Hillary tampaknya menjadi orang yang ketakutan untuk terus dipersalahkan terkait Serangan Benghazi 2012.

Sebab memang ia harus bertanggung-jawab atas penolakannya memberi bantuan saat Kedutaan Besar Amerika Serikat di Benghazi diserang teroris.

13 jam Duta Besar Chris Stevens dan stafnya meminta pertolongan dari Benghazi ke Hillary tapi tak digubris.

 

 

Serangan Benghazi 2012

Serangan Benghazi 2012

 

 

Empat tahun berlalu sejak Peristiwa Serangan Benghazi 2012, Hillary terlihat gamang.

Kadang ia mengatakan bahwa Amerika berduka telah kehilangan 4 warga negaranya.

Tapi kadang ia mengatakan bahwa Amerika tidak kehilangan 1 nyawa pun di Benghazi.

Menutup tulisan ini, Hillary harus lebih banyak mawas diri.

Berturut-turut sebanyak 3 kali dalam sepekan mengalami malapetaka di panggung pertarungan politiknya, adalah sebuah isyarat.

Bahwa tangan Tuhan bekerja untuk mendengar, memihak dan mengabulkan doa dari jutaan rakyat Amerika yang memohonkan pembelaan serta keperpihakan Tuhan pada calon yang mereka dukung.

Vox Populi Vox Dei. Suara rakyat adalah Suara Tuhan.

Matthew 18:20.   (*****)

 

 
MS

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: