​Kesaksian Mengharukan Diplomat Amerika Serikat Gregory N. Hicks Tentang Benghazi

Jenazah Duta Besar Christopher Stevens

Jenazah Duta Besar Christopher Stevens

 

 

 

Oleh: Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI

 

 

 

Jakarta, Senin 13 Septemher 2016 (KATAKAMI) —  Jika diplomat ini belum pensiun dari Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, kesaksian ini pasti tak akan pernah terpublikasikan.

Gregory N. Hicks namanya.

Bulan Juli 2016 ia pensiun dari Kementerian Luar Amerika Serikat, setelah bekerja selama 25 tahun.

Gregory N. Hicks adalah Foreign Service Officer di Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.

Dan dialah yang menjabat sebagai Wakil Kepala Misi Amerika Serikat untuk Libya atau Deputy Chief of Mission for Libya.

Gregory N. Hicks adalah orang terakhir yang bicara dengan Duta Besar Christopher Stevens sebelum terbunuh dalam serangan teroris di Komplek Kediaman Duta Besar pada tanggal 11 September 2012.

 

 

Gregory N. Hicks dan Hillary Clinton

Gregory N. Hicks dan Hillary Clinton

 

 

 

Untuk memperingati 4 tahun Serangan Benghazi 2012, Gregory N. Hicks menuliskan dalam sebuah kolom opini FOXNEWS.COM dengan judul:

 
What the Benghazi attack taught me about Hillary Clinton

 

Last month, I retired from the State Department after 25 years of public service as a Foreign Service officer. As the Deputy Chief of Mission for Libya, I was the last person in Tripoli to speak with Ambassador Chris Stevens before he was murdered in the Sept. 11, 2012 attack on our Benghazi post. On this, the fourth anniversary of the Benghazi tragedy, I would like to offer a different explanation for Benghazi’s relevance to the presidential election than is usually found in the press.

Just as the Constitution makes national security the President’s highest priority, U.S. law mandates the secretary of state to develop and implement policies and programs “to provide for the security … of all United States personnel on official duty abroad.” 

This includes not only the State Department employees, but also the CIA officers in Benghazi on Sept. 11, 2012. And the Benghazi record is clear: Secretary Clinton failed to provide adequate security for U.S. government personnel assigned to Benghazi and Tripoli.

The Benghazi Committee’s report graphically illustrates the magnitude of her failure. It states that during August 2012, the State Department reduced the number of U.S. security personnel assigned to the Embassy in Tripoli from 34 (1.5 security officers per diplomat) to 6 (1 security officer per 4.5 diplomats), despite a rapidly deteriorating security situation in both Tripoli and Benghazi. Thus, according to the Report, “there were no surplus security agents” to travel to Benghazi with Amb. Stevens “without leaving the Embassy in Tripoli at severe risk.” 

Had Ambassador Stevens’ July 2012 request for 13 additional American security personnel (either military or State Department) been approved rather than rejected by Clinton appointee Under Secretary of State for Management Pat Kennedy, they would have traveled to Benghazi with the ambassador, and the Sept. 11 attack might have been thwarted.

U.S. law also requires the secretary of state to ensure that all U.S. government personnel assigned to a diplomatic post abroad be located at one site. If not, the secretary — and only the secretary — with the concurrence of the agency head whose personnel will be located at a different location, must issue a waiver. The law, which states specifically that the waiver decision cannot be delegated, was passed after the 1998 bombing of two U.S. embassies in Africa, when deficient security was blamed for that debacle under Bill Clinton’s presidency.

When asked about security at Benghazi on Sept. 11, Mrs. Clinton has repeatedly asserted her lack of responsibility. Initially, she said that she never read any of the reporting on security conditions or any of the requests for additional security, claiming that “she delegated security to the professionals.” More recently, she stated that “[I]t was not my ball to carry.” But the law says otherwise. Sound familiar?

Her decision to allow the Benghazi consulate to be separate from the CIA annex divided scarce resources in a progressively deteriorating security environment. U.S. personnel assigned to Benghazi tried to overcome this severe disadvantage through an agreement that the security personal from each facility would rush to the other facility’s aid in the event it was attacked. The division of our security resources in Benghazi is the root cause of the “stand down” order controversy so vividly portrayed in the movie “13 Hours.”

Notably, one of the primary goals of Ambassador Stevens’ fatal visit was to begin consolidating our Benghazi personnel into one facility, which would have concentrated our security posture in Benghazi’s volatile and violent environment.

There are no punitive measures for breaching these two laws. Mrs. Clinton will not have to appear before judge and jury to account for her failures. Is this why she felt these laws could be ignored? Because she is now the Democratic presidential candidate, only the American electorate will have the opportunity to hold her accountable.

Candidate Clinton and her campaign point to her record as secretary of state as a positive qualification for the presidency.

However, the record shows that Secretary Clinton persuaded the president to overthrow Qaddafi and advocated maintaining a diplomatic presence in Benghazi after the Libyan revolution. And then she abandoned her diplomats by ignoring her security obligations. She sent Ambassador Stevens to Benghazi during the 2011 revolution and then induced him to return in the first few months of his tenure, which accounted for his September visit there. Despite the fact that Sidney Blumenthal had alerted her to the increasing danger for Americans in Benghazi and Libya, Mrs. Clinton apparently never asked security professionals for an updated briefing on the situation in Libya. Either she could not correlate the increased tempo of attacks in Libya with the safety of our diplomats, demonstrating fatal incompetence, or she was grossly negligent.

If Mrs. Clinton was unable to fulfill her security obligations to the federal employees she was legally obligated to protect as secretary of state, how can we trust her with the security of our entire country? I won’t. (*)

 

Gregory N. Hicks retired in 2016 from the State Department after 25 years of public service as a Foreign Service officer. As the Deputy Chief of Mission for Libya, he was the last person in Tripoli to speak with Ambassador Chris Stevens before he was murdered in the Sept. 11, 2012 attack on the Benghazi post.

 

 

 

Duta Besar Amerika Serikat untuk Libya, Chris Stevens, setibanya di Benghazi pada tanggal 10 September 2012, langsung mengadakan pertemuan dengan pemimpin lokal di Benghazi

Duta Besar Amerika Serikat untuk Libya, Chris Stevens, setibanya di Benghazi pada tanggal 10 September 2012, langsung mengadakan pertemuan dengan pemimpin lokal di Benghazi

 

 

 

Apa yang bisa saya ulas kali ini?

Kesaksian Gregory N. Hicks memberikan pencerahan dan informasi baru tentang apa sebenarnya yang terjadi di Libya, khususnya tentang Serangan Benghazi 2012.

Seorang diplomat dengan masa pengabdian 25 tahun bekerja untuk negaranya, tentu akan mengungkapkan sebuah kebenaran dengan jujur sejujur jujurnya.

Tulisan Gregory N. Hicks memberikan beberapa poin penting:

1. Ternyata atas bujukan Hillary Clinton-lah selaku Menteri Luar Negeri maka Presiden Barack Obama menyetujui misi dan operasi penggulingan terhadap Muammar Gaddafi.

2. Permohonan Duta Besar Chris Stevens agar Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menyetujui penambahan jumlah personil keamanan bagi Kedutaan Besar di Libya ditolak oleh Menlu Hillary Clinton.

(Di kemudian hari, Hillary Clinton mengaku bahwa ia tidak tahu, tidak sempat dan tidak pernah membaca permohonan Duta Besar Chris Stevens yang mengajukan permohonan soal penambahan personil keamanan).

3. Permohonan Duta Besar Chris Stevens agar ditunda misi penugasannya ke Benghazi, juga ditolak oleh Menlu Hillary Clinton.

Oleh karena eskalasi gangguan keamanan di Libya, khususnya di Benghazi, sedang meningkat dan akan sangat membahayakan, Duta Besar Chris Stevens mengusulkan agar diplomat Amerika jangan dulu dikirim ke Libya, khususnya ke Benghazi.

Tetapi Hillary Clinton tetap bersikeras memerintahkan Duta Besar Chris Stevens harus datang ke Benghazi pada peringatan Serangan 9/11 (Nine Eleven) di tahun 2012.

4. Karena Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat tidak bersedia memberikan tambahan personil keamanan bagi para diplomat Amerika Serikat di Benghazi, demi keamanan dan keselamatan Duta Besar Chris Stevens juga pernah meminta agar mereka digabungkan kantornya dengan The CIA Annex atau Markas (Rahasia) CIA di Benghazi yang letaknya tidak jauh dari Kediaman Duta Besar.

Tetapi permintaan ini juga ditolak oleh Hillary Clinton.

Ke-empat poin ini adalah kebijakan Hillary Clinton sebelum terjadinya serangan teroris di kediaman Duta Besar Chris Stevens pada tanggal 11 September 2012.

 

 

 

Film 13 Hours: Sepulang dari pertemuan dengan Pemimpin Lokal Benghazi, Duta Besar Chris Stevens duduk di tepi kolam renang untuk menuliskan pengalamannya pada hari itu di buku hariannya. Tetapi pada penjaga lokal (warga negara Libya) sudah terlihat memotret kediaman Duta Besar dari sisi atas kolam renang

Film 13 Hours: Sepulang dari pertemuan dengan Pemimpin Lokal Benghazi, Duta Besar Chris Stevens duduk di tepi kolam renang untuk menuliskan pengalamannya pada hari itu di buku hariannya. Tetapi pada penjaga lokal (warga negara Libya) sudah terlihat memotret kediaman Duta Besar dari sisi atas kolam renang

 

 

Film: 13 Hours, The Secret Soldiers Of Benghazi

 

 

Maka ketika saya membaca artikel yang dituliskan Gregory N. Hicks ini, terjawablah rasa penasaran saya saat pertama kali menonton “Film 13 Hours, The Secret Soldiers Of Benghazi” pada akhir bulan Juli lalu.

Film 13 Hours adalah Kisah Nyata tentang Serangan Benghazi 2012.

Film itu diprakarsai oleh 3 Veteran US NAVY SEAL dipekerjakan untuk menjaga keamanan dan melindungi Markas CIA atau The CIA Annex di Benghazi.

Mereka adalah Mark Geist, John Tiegen dan Kris Paronto.

Mereka termasuk selamat dari serangan teroris di Benghazi.

Sehingga kini mereka disebut sebagai “Benghazi Survivors”.

Film 13 Hours ini sudah ditayangkan serentak di seluruh bioskop yang ada di Indonesia pada bulan Maret 2016.

Tapi saya sendiri baru tahu bahwa ada film tentang Serangan Benghazi ini pada akhir bulan Juli 2016.

Saya mendownload film itu dari handphone saya dan sudah menonton berkali-kali dari handphone saya.

Dari pertama kali saya menonton film ini, saya berpendapat bahwa ada indikasi kuat unsur kesengajaan menjerumuskan Duta Besar Chris Stevens agar terbunuh dalam serangan teroris itu.

Duta Besar Chris Stevens datang ke Benghazi persis sehari menjelang peringatan 11 tahun serangan 9/11 (Nine Eleven).

Ia tiba di Benghazi pada tanggal 10 September 2012.

Sejak ia datang ke Benghazi, termasuk sejak ia berpidato di hadapan pimpinan lokal di Benghazi, Duta Besar Chris Stevens terlihat sudah di incar oleh sekelompok radikal bersenjata di Benghazi.

Tapi sepanjang Duta Besar dikawal oleh para Pasukan US NAVY SEAL, maka ia aman.

Sebab ketika segerombolan radikal bersenjata hendak menyerbu Duta Besar Chris Stevens saat berpidato, pasukan keamanan Amerika Serikat (notabebe yang dikomandoi Veteran US NAVY SEAL), sudah pasang badan sehingga tak ada satupunyang bisa menyentuh sang Duta Besar.

 

 

 

Film 13 Hours, The Secret Soldiers Of Benghazi

Film 13 Hours, The Secret Soldiers Of Benghazi

 

 

 

Saya sudah pernah menuliskan analisa saya tentang Serangan Benghazi 2012 setelah menonton Film 13 Hours.

Sangat jelas indikasinya bahwa Duta Besar Chris Stevens memang sudah di incar untuk dibunuh.

Saat Duta Besar Chris Stevens pulang ke kediamannya, ia memilih duduk di tepi kolam renang untuk menulis buku hariannya tentang apa yang terjadi seharian itu.

Ia sudah mencurigai mengapa ada 2 orang personil lokal dari pihak Libya memotreti kediaman Duta Besar dari arah atas kolam renang.

Duta Besar Chris Stevens pun memanggil personil keamanan dari pihak Amerika Serikat, Nick, dan memerintahkan untuk mengecek mengapa sudah 2 kali ia difoto diam-diam oleh petugas lokal Benghazi?

Chris Stevens duduk di tepi kolam itu, sepulang dari pertemuan dengan pemimpin lokal di Benghazi.

Di kediaman Duta Besar, juga ada Sean Smith, pejabat Kemenlu (yang akhirnya ikut tewas bersama Duta Besar).

Para Veteran US NAVY SEAL yang seharian mengawal Duta Besar juga ada di Kediaman Duta Besar pada sore hari di tanggal 10 September 2012.

Tetapi karena markas dan tempat mereka tidur ada di Markas CIA atau The CIA Annex, maka mereka pun meninggalkan Kediaman Duta Besar.

 

 

 

 

 

 

 

Awal mula tragedi serangan teroris itu terjadi adalah saat dilakukan jam pertukaran penjaga di gerbang masuk kediaman Duta Besar.

Saya saja heran, mengapa para penjaga di kediaman Duta Besar terdiri dari petugas lokal pihak Libya.

Harusnya Pasukan Keamanan Amerika ikut menjaga di gerbang utama karena sangat penting penjagaan di gerbang depan.

Gerbang kediaman Duta Besar, terlihat sengaja dibiarkan terbuka alias tidak dikunci dari arah dalam oleh petugas lokal yang berjaga di gerbang.

Padahal harusnya dikunci sangat rapat.

Kalau gerbang itu terkunci rapat maka tak akan ada yang bisa masuk jika gerbang terkunci.

Tragedi serangan teroris di Benghazi tahun 2012 ini, berawal dari kesengajaan para petugas lokal yang membiarkan gerbang utama di kediaman Duta Besar tidak dikunci kembali saat dilakukan pergantian penjaga.

Di dalam rumah, Chris Stevens hanya dijaga oleh beberapa Pasukan Keamanan Amerika.

Tidak sebanding jumlahnya dengan musuh.

Maka ketika terdengar suara orang berteriak teriak histeris, Duta Besar Chris Stevens sangat terkejut, mengapa ada orang asing bisa masuk?

Tiba-tiba ratusan teroris bisa masuk secara mudah ke dalam Kediamanan Duta Besar.

 

 

 

Muammar Gaddafi

Muammar Gaddafi

 

 

 

Rumah Dinas Duta Besar Amerika Serikat di Benghazi sangat amat besar luasnya.

Rumah itu adalah salah satu rumah yang dulu menjadi tempat kediamaan Muammar Gaddafi.

Ratusan teroris yang masuk membawa senjata tajam dan senjata api.

Mereka juga sudah membawa bensin dan korek api.

Tanpa ada pasukan keamanan yang cukup, teroris-teroris itu bisa melenggang kangkung masuk.

Mereka menyiram sekeliling kediaman Duta Besar Chris dengan bensin.

Kemudian menyalakan api.

Duta Besar Chris Stevens dan Sean Smith mati terbunuh dalam peristiwa itu secara mengerikan.

Para Pasukan Keamanan dari US NAVY SEAL dan tim mereka, mayoritas ada di Markas CIA atau di The CIA Annex.

Letaknya tidak jauh dari Kediaman Duta Besar.

Sistem pengamanan di Markas CIA atau The CIA Annex sangat amat canggih untuk mendeteksi siapa yang hilir mudik lewat di sekitar markas mereka, dan siapa yang keluar masuk di arah gerbang.

 

 

Film 13 Hours: Pemeran Kris Paronto dan Mark Geist saat serombongan orang datang menggunakan 40 truk ke Markas CIA di pagi hari tanggal 12 September 2012

Film 13 Hours: Pemeran Kris Paronto dan Mark Geist saat serombongan orang datang menggunakan 40 truk ke Markas CIA di pagi hari tanggal 12 September 2012

 

 

 

Dari Film 13 Hours itu, kita dapat menyaksikan bagaimana spontanitas Pasukan Keamanan Amerika Serikat yang terdiri dari Para Veteran US NAVY SEAL yang berada di Markas The CIA Annex.

Mereka ingin segera bergegas untuk menyelamatkan dan melindungi Duta Besar Chris Stevens dan staf Kedutaan di kediaman Duta Besar.

Para bagian inilah keluar perintah “Stand Down“.

Artinya, mereka dilarang menolong Duta Besar Chris Stevens.

Dan harus menunggu dulu sampai ada perintah selanjutnya.

Tapi karena situasi sudah sangat memburuk, mereka menerobos pergi karena Duta Besar dan para Staf Kedutaan memang harus ditolong.

Integritas dan moral mereka yang “berbicara” bahwa Duta Besar harus ditolong dan serangan teroris itu tidak boleh didiamkan.

Keputusan Pimpinan CIA di Markas CIA atau di The CIA Annex juga dapat dipahami.

Kalau Pasukan Keamanan pergi semua menolong Duta Besar Chris Stevens dan Staf Kedutaan di kediaman Duta Besar, lantas siapa yang harus menjaga Markas CIA yang keberadaannya harus sangat amat dirahasiakan?

Sementara di Markas CIA itu, isinya senjata-senjata canggih dan peluru.

Ada puluhan staf disitu.

Sehingga mau tak mau, akhirnya keberadaan Markas CIA yang sangat dirahasiakan ini, akhirnya ketahuan.

Para teroris ikut menyerang Markas CIA.

Disinilah letak permasalahan.

Pasukan keamanan Amerika Serikat tidak cukup.

CIA memperkerjakan para veteran US NAVY SEAL adalah untuk misi CIA.

Antara lain untuk melindungi kepentingan, kantor dan warga Amerika di Libya.

Sehari-hari tugas para Veteran US NAVY SEAL itu memang mengawal dan melindungi Duta Besar serta semua fasilitas Amerika disana, termasuk melindungi Kediaman dan Kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Tapi kalau mereka sudah tidak bertugas, mereka harus kembali ke Markas CIA.

Dalam kondisi darurat saat ratusan teroris bersenjata menyerang, stok jumlah pasukan keamanan yang dimiliki CIA tidak cukup jumlahnya untuk mengamankan 3 pos penting yaitu Kedutaan Besar, Kediamanan Duta Besar dan Markas CIA.

Oleh karena pasukan keamanan kurang, itulah sebabnya selama 13 jam Duta Besar Chris Stevens, Pimpinan dan Staf CIA di Benghazi menghubungi Washington untuk meminta bantuan keamana lewat udara sesegera mungkin.

13 jam mereka menunggu bantuan.

Tapi bantuan tak kunjung tiba.

Mereka coba terus menerus menelepon Hillary Clinton.

Tapi Hillary Clinton tak bersedia menjawab telepon dengan alasan karena mereka menghubungi jam 3 dinihari.

Pertempuran itu terjadi selama 13 jam.

Persis memasuki pagi hari tanggal 12 September, saat semua sudut Markas CIA sudah porak poranda.

Dua orang sudah tewas di Markas CIA yaitu Glen Doherty dan Tyrone Woods.

Tiba-tiba puluhan truk dan puluhan orang datang lagi ke Markas CIA.

 

 

Kris Paronto

Kris Paronto

 

 

 

Kris Paronto, Veteran US NAVY SEAL, menjadi satu satunya pasukan yang tersisa di bagian atas Markas CIA.

Ia melaporkan melalui Handy Talkie kepada Pimpinan CIA di Markas Benghazi (pimpinannya ada di lantai bawahnya), bahwa mereka harus siap-siap mati dibunuh karena tiba-tiba ada puluhan truk yang membawa orang-orang bersenjata datang lagi ke Markas CIA.

Dalam keadaan siap menembak, Kris Paronto menunggu tembakan dari arah lawan yang sudah bergerombol di depan pagar.

Tunggu punya tunggu, tak ada tembakan dari Pihak Lawan.

Akhirnya Kris Paronto mencoba memberi kode jari tangan kelingking dan jempol diacungkan.

Ini kawan atau lawan?

Ternyata kawan.

Setelah saling memberi kode jari tangan  jempol dan kelingling, barulah Kris Paronto paham bahwa yang datang itu adalah BALA BANTUAN untuk untuk menyelamatkan semua warga negara Amerika agar bisa segera di evakuasi ke Bandara.

Belasan truk yang datang di pagi hari itu adalah kiriman dari loyalis Muammar Gaddafi.

Maka ini menjadi ironi.

Hillary Clinton yang mengusulkan penggulingan terhadap Muammar Gaddafi.

Tapi ternyata yang menyelamatkan semua warga negara Amerika pasca Serangan Teroris tanggal 11-12 September 2012 adalah pasukan loyalis Pihak Muammar Gaddafi.

 

 

Film 13 Hours: Puluhan Staf Kedutaan dan Staf CIA di evakuasi dan ditolong oleh para loyalis Muammar Gaddafi untuk dibawa ke bandara. Kemudian diterbangkan untuk pulang ke Amerika Serikat

Film 13 Hours: Puluhan Staf Kedutaan dan Staf CIA di evakuasi dan ditolong oleh para loyalis Muammar Gaddafi untuk dibawa ke bandara. Kemudian diterbangkan untuk pulang ke Amerika Serikat

 

 

 

Akhirnya puluhan truk loyalis Muammar Gaddafi itulah yang membawa semua staf Kedutaan Amerika dan semua staf CIA ke Bandara.

Jadi yang menyelamatkan dan mengevakuasi warga negara Amerika dari Benghazi bukan pihak pemerintah lokal yang saat itu berkuasa di Libya.

Yang menyelamatkan mereka adalah orang-orangnya Muammar Gaddafi.

Maka ketika saya membaca artikel Gregory N. Hicks, saya akhirnya paham.

Oh, berarti Duta Besar Chris Stevens sudah punya firasat tentang betapa berbahayanya ancaman keamanan di Benghazi.

Terlebih saat Hillary Clinton sebagai Menlu memutuskan bahwa CIA dilarang melindungi dan dilarang menyatu kantornya dengan Pihak Kedutaan.

Kalau kantor Kedutaan dan kediaman  Duta Besar berada dalam satu komplek dengan Markas CIA, tidak dipisahkan antara Kedutaan dan Markas CIA, maka tak musuh bisa nyelonong masuk dan menyerang.

Sebab yang menjaga The CIA Annex adalah para Pasukan US NAVY SEAL.

Menyaksikan Film 13 Hours itu, siapapun pasti akan trenyuh hatinya.

Film ini memperlihatkan pada kita bagaimana perjuangan para pasukan keamanan itu menghadang dan menghadapi teroris agar jangan semakin banyak korban di Pihak Amerika Serikat.

 

 

 

Kris Paronto dan Merk Geist

Kris Paronto dan Merk Geist

 

 

Dalam keadaan yang sangat mengerikan, Mark Geist yang terluka parah masih bisa sangat sigap mengambil lagi senjatanya saat Kris Paronto mengabarkan melalui Handy Talkie bahwa musuh datang lagi.

Ketika Kris Paronto memberitahu bahwa puluhan teroris itu datang lagi, Mark Geist sebenarnya sedang tergeletak di tempat tidur untuk diobati lukanya yang sangat amat parah.

Sekujur tubuhnya luka dimana-mana.

Darah mengalir dimana-mana.

Tapi begitu diberitahu oleh Kris Paronto bahwa musuh datang lagi, semua luka itu tidak diperdulikan oleh Mark Geist.

Dengan spontan, ia mengambil senjata apinya dan mengintai dari balik jendela.

Dan saat semua warga negara Amerika di evakuasi, Mark Geist atau Oz dipapah rekannya dalam keadaan terluka parah.

Satu pesawat khusus didatangkan untuk mengevakuasi semua warga negara Amerika, baik itu Staf Kedutaan ataupun Staf CIA.

Sedangkan Kris Paronto pulang dengan pesawat yang berbeda, yaitu pulang dengan pesawat yang membawa jenazah dari ke 4 korban yaitu Duta Besar Chris Stevens, Sean Smith, Glen Doherty dan Tyrone Woods.

 

 

 

Ilustrasi gambar: John Tiegen dan Kris Paronto. Keduanya adalah veteran US NAVY SEAL yang selamat dari serangan teroris di Benghazi pada tanggal 11-12 September 2012.

Ilustrasi gambar: John Tiegen dan Kris Paronto. Keduanya adalah veteran US NAVY SEAL yang selamat dari serangan teroris di Benghazi pada tanggal 11-12 September 2012.

 

 

 

Pasukan keamanan Amerika Serikat yang berperang melawan teroris di Benghazi tahun 2012 itu yang adalah tentara-tentara yang luar biasa hebat.

Khususnya Para Veteran US NAVY SEAL dan semua tim nya.

Saya kagum sekali.

Entah bagaimana mengungkapkan betapa saya hormat sekali dan mengagumi mereka.

Tapi sehebat apapun mereka, mereka tetap manusia biasa.

Mereka menangis saat melihat rekan mereka ternyata ada yang mati yaitu Glen Doherty dan Tyrone Woods.

Ada juga diantara tentara mereka yang menangis saat menelpon istrinya untuk mengabarkan bahwa ia akan pulang tapi ada rekannya yang mati.

Kini, empat tahun memang sudah berlalu.

Wajar jika tragedi itu tetap dikenang dan sangat membekas di hati mereka yang mengalami langsung serangan tersebut.

Wajar jika keluarga korban masih sangat berduka sampai saat ini.

Wajar jika Gregory N. Hicks tak bisa melupakan semua kenangannya tentang Duta Besar Chris Stevens.

Sebab Greg adalah orang terakhir yang berbicara dengan Almarhum Duta Besar Chris Stevens sebelum ajal menjemput.

Sayang yang ditulisnya cuma sebuah artikel singkat.

Seandainya ia menuliskan semua informasi, pengalaman dan kenanganannya dalam sebuah buku, tentu akan lebih bagus.

 

 

Hillary Clinton

Hillary Clinton

 

 

 

Yang saya pertanyakan adalah:

Mengapa terlalu sulit bagi Hillary Clinton untuk berbela-sungkawa dan menghormati ke 4 orang yang gugur dalam tugas?

Mengapa Hillary Clinton terlalu berkeras hati untuk mengakui bahwa membiarkan ke-empat korban tewas yang mati terbunuh di Benghazi adalah sebuah kesalahan.

Dan untuk itu, perlu disampaikan juga permohonan maaf setulus hati.

Lalu hargai siapa saja yang memang telah berjasa bertarung dalam serangan itu demi menyelamatkan warga negara Amerika yang lainnya yang ikut terancam keselamatannya dalam Serangan Benghazi.

Jangan lukai perasaan keluarga korban dan mereka-mereka yang sudah berjasa dalam pengabdian mereka kepada negaranya.

Saya saja yang cuma wartawan dan bukan warga negara Amerika, trenyuh dan tersentuh hati saya.

Saya kagum pada tentara-tentara yang gagah berani bertarung mati-matian untuk kehormatan negaranya dan untuk keselamatan rekan-rekan mereka yang saat itu bertugas di Benghazi.

Rest In Peace Ambassador Stevens, Sean Smith, Glen Doherty and Tyrone Woods.  (******)

 

 

 

 

MS

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: