​Brigjen Raja Erizman, Reserse Hebat Yang Menangani Kasus Pembunuhan Theys Eluwai

Brigjen Raja Erizman

Brigjen Raja Erizman

 

 

 

Oleh: Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI

 

 

 

 

Jakarta, Jumat 28 Oktober 2016 (KATAKAMI) —-  Sepanjang 11 tahun saya meliput di Mabes Polri, salah satu sahabat saya di jajaran kepolisian adalah Brigjen Raja Erizman.

Pekan lalu ia sudah dilantik oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebagai Kepala Divisi Hukum Polri.

Pengangkatan dirinya sebagai Kepala Divisi Hukum Polri sempat dipertanyakan sebab ia pernah bermasalah dengan Kasus Gayus Tambunan.

Saya tahu persis bahwa Raja tidak bersalah dalam Kasus Gayus Tambunan.

Satu rupiahpun, ia tidak menerima dan tidak menikmati uang hasil suap.

Pada saat Kasus Gayus Tambunan terjadi, Raja baru 2 hari menjadi Direktur di Bareskrim.

Persis pada hari pertama ia menjabat, Bareskrim harus melakukan tahap 2 pelimpahan berkas perkara yang sudah P21 dan menyerahkan Gayus Tambunan kepada Pihak Kejaksaan.

Maka pekerjaan pertama Raja Erizman di hari pertama ia menjadi Direktur adalah menanda-tangani surat pelimpahan berkas dan penyerahan tersangka ke Kejaksaan.

Setelaj proses pelimpahan tahap 2 selesai, maka berkas yang tidak termasuk sebagai BARANG BUKTI, dikembalikan oleh Raja atas nama Bareskrim.

Salah satu yang dikembalikan adalah surat pemblokiran rekening bank Gayus Tambunan kepada bank masing-masing.

Diterangkan disitu adalah rekening tersebut tidak termasuk menjadi barang bukti sehingga silahkan pemblokiram dibuka oleh bank masing-masing.

Raja dinyatakan bersalah karena dianggap merusak citra Polri.

Dengan hukuman, tidak boleh bertugas selama 1 tahun di jajaran Bareskrim.

Hukumannya hanya itu.

Tapi tidak ada unsur pidana korupsi yang disangkakan dan ditujukan pada diri Raja Erizman.

Sebab ia memang tidak bersalah samasekali.

Kasus Gayus Tambunan bukan ditangani oleh Raja Erizman.

Tapi oleh Direktur sebelumnya.

Kasus Gayus Tambunan sudah dinyatakan P21 oleh Kejaksaan Agung, dan Bareskrim harus melakukan Proses Pelimpaham Tahap 2, barulah Raja masuk ke ditunjuk sebagai Direktur yang baru.

Ia baru dua hari menjabat sebagai Direktur setelah berkas perkara Gayus dinyatakan  P21 oleh Kejaksaan Agung.

Jadi tidak ada urusan Raja Erizman dengan Kasus Gayus Tambunan.

Ia hanya ketimpa sial bahwa sebagai Direktur baru, salah satu perkara yang ditangani adalah kasus kontroversial semacam Gayus Tambunan.

Sebelum ia menerima vonis dari Sidang Propam, saya ada di ruang kerja Raja Erizman sebagai staf ahli Kapolri.

Dan setelah ia mendengar apa hukuman yang diterimanya, Raja menceritakan pada saya bahwa ia dihukum tidak boleh bertugas selama 1 tahun di Bareskrim Polri.

Kesalahannya cuma 1 yaitu dianggap merusak citra Polri.

Nasehat saya waktu itu, “Sabar aja Bang Raja”.

Selanjutnya, di hari hari berikutnya, saya dan sejumlah wartawan senior di Mabes Polri tetap rutin datang ke ruang kerja Raja.

Ngobrol.

Becanda.

Seperti keluarga.

 

 

Kapolri Tito Karnavian

Kapolri Tito Karnavian

 

 

 

Kini ia mendapat amanah baru sebagai Kepala Divisi Hukum Polri.

Saya mengapresiasi keputusan Kapolri Tito Karnavian.

Sebab saya tahu, sahabat saya Raja Erizman tidak bersalah.

Kecuali kalau Raja adalah koruptor, polisi kotor, doyan malak dan punya rekening gendut misalnya, silahkan ia dihujat dan dihukum.

Sedangkan yang punya rekening gendut saja, bisa lolos selamat sekarang jadi Kepala BIN.

Raja Erizman, bukan orang baru di Bareskrim.

Penugasannya hanya bolak balik antara Polda Metro Jaya dan Bareskrim.

Untuk diketahui, Raja Erizmanlah Ketua Tim Penyidik kasus pembunuhan Theys Eluwai.

Saya saja baru tahu.

Maka saya bingung, mengapa sepanjang Luhut Pandjaitan menjadi Menko Polhukam, saat melakukan rapat-rapat tentang penuntasan kasus pelanggaram HAM di Papua, mengapa Raja Erizman tidak diundang?

Sebab Ketua Tim Penyidik Kasus Pembunuhan Theys Eluwai adalah Raja Erizman.

Dalam sebuah pertemuan saya dengan Raja Erizman, saya tanya kepadanya, jadi seperti apa dan dengan cara apa Theys Eluwai dibunuh?

Pada suatu malam, Theys dan supirnya baru kembali dari acara di markas tentara.

Di perjalanan, tiba tiba mereka dicegat 4 orang tentara.

Ke empatnya memberhentikan mobil dan langsung masuk.

Kepala Theys Eluwai disekap oleh tentara-tentara sadis itu dan dibungkus dengan 2 bungkus kantong plastik hitam.

Karena disekap dan ditutup rapat sampai kehabisan nafas, matilah Theys.

Sang Supir dibawa ke Markas Tentara.

Sejak itu supir Theys tak pernah keluar lagi dari markas itu sampai detik ini.

Polisi tak tahu dan tidak bisa menemukan ditaruh dimana jenazah supir Theys Eluwai.

Saya bertanya kepada Raja Erizman, apakah ada tekanan dari BIN dan TNI saat menangani kasus ini?

Tidak ada kata Raja Erizman.

Bahkan Pangdam yang bertugas di Papua, tidak tahu menahu dan tidak terlibat dalam kasus ini.

Sebab Operasi ini bukan dilakukan oleh Kodam. Kodam tidak terlibat samasekali.

Operasi ini dilakukan oleh Badan Intelijen Negara yang saat itu Kepala BIN nya adalah AM Hendropriyono.

Menutup tulisan ini, saya ikut senang, sahabat saya Raja Erizman mendapat tugas baru dari Kapolri.

Sebagai Kadivkum baru, Raja Erizman diperintahkan oleh Kapolri Tito menggodok sejumlah Undang Undang.

Saya katakan pada Raja Erizman, saya salut pada Kapolri untuk keputusannya menunjuk Raja Erizma  sebagai Kadivkum Polri.

Kapolri langsung yang memberitahu Raja, 3 minggu sebelum TR keluar.

Tito mengatakan pada Raja, “Bang, bantu saya, Abang jadi Kadivkum ya”.

Itu sebab, hati saya tersentuh mendengar bagaimana Tito bisa dengan bijak dan sangat tepat memberikan kepercayaan pada Raja Erizman sebagai Kepala Divisi Hukum Polri.

Doa saya agar semua tugas dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.  (****)

 

 

 

 

MS

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: