​Saat Catatan Seorang Jurnalis Yang Tertinggal Di Mako Kopassus Cijantung

Danjen Kopassus Mayjen Agus Sutomo

Danjen Kopassus Mayjen Agus Sutomo

 

 

Oleh: Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI

 

 

 

 

Jakarta, Jumat 28 Oktober 2016 (KATAKAMI) —- Ini kisah nyata yang terjadi pada diri saya dua tahun lalu yaitu pada bulan Agustus 2014.

Ketika itu saya diundang dan diizinkan melakukan liputan khusus ke Mako Kopassus di Cijantung, Jakarta Timur.

Yang mengundang sudah barang tentu Danjen Kopasus yang menjabat saat itu yaitu sahabat saya, Mayor Jenderal Agus Sutomo.

Agus adalah Mantan Dan Grup A, sekaligus Mantan Komandan Paspampres di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Saya adalah wartawan Istana sejak tahun 1999 sampai 2009.

Dari mulai era Gus Dur samlai era Pak Sby.

 

 

Komandan Paspampres Mayjen Agus Sutomo

Komandan Paspampres Mayjen Agus Sutomo

 

 

 

Saya kenal Mas Agus ini ya sejak beliau jadi Komandan Grup A Paspampres.

Oleh karena saya adalah wartawan istana maka tiap hari liputan di Istana, yang pasti saya jumpai adalah jajaran menteri dan terutama Paspampres.

Agus Sutomo ini orangnya sangat kalem.

Santun dan rendah hati.

Dibanding semua wartawan istana, saya yang paling sering berbincang dengan Mas Agus Sutomo di koridor Kantor Presiden.

Maka ketika ia menjadi Danjen Kopassus, saya tak kesulitan untuk meminta liputan eksklusif di Cijantung.

Maka datanglah saya ke Mako Kopassus.

Mas Agus Sutomo menyambut dengan sangat ramah.

Selama 3 jam, saya diizinkan meliput dan meninjau semua sudut Mako Kopassus Cijantung.

Ada 2 anggota yang diperintahkan mendampingi dan menjelaskan kepada saya yaitu Korspri dan perwakilan dari Sat Gultor 81 Kopassus.

Semua hal penting, nama-nama dan penjelasan yang saya dapat, saya tulis di catatan saya.

Sebab saya takut lupa kalau pas nanti harus menuliskan hasil liputan saya.

Di akhir liputan, saya diterima di ruang kerja Danjen Kopassus.

Ngobrol lama.

Penuh canda tawa.

Mas Agus Sutomo juga menceritakan pada saya saat ia menghadiri pertemuan Para Danjen Kopassus Sedunia yang diadakan di Hawaii, Amerika Serikat.

Disela-sela acara itu, Mas Agus dipanggil khusus oleh seorang pejabat dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon).

Mereka senang karena Danjen Kopassus dari Indonesia menyampaikan sesuatu yang positif terkait kerjasama dengan Amerika Serikat.

Kemudian pejabat Pentagon itu juga menunjukkan kepada Mas Agus Sutomo print out hasil wawancara Mas Agus Sutomo dengan diri saya.

Memang sebelum Mas Agus Sutomo berangkat ke Amerika Serikat untuk memenuhi undangan dari USSOCOM tahun 2012, saya mewawancarainya untuk media saya KATAKAMI.COM.

Pejabat Pentagon itu mengatakan bahwa mereka (Pentagon) mengikuti perkembangan Indonesia, salah satunya adalah dengan membaca tulisan dan hasil wawancara saya di KATAKAMI.COM.

Saya terharu sekaligus bangga mendengarnya.

Begitulah hasil percakapan saya dengan Danjen Kopassus pada hari itu.

Dan akhirnya saya membawa pulang kue-kue yang ada di ruang kerja Danjen Kopassus.

Nastar terutama.

 

 

 

 

 

Tapi begitu saya sampai dirumah dan akan menulis.

Saya sadar bahwa catatan saya tampaknya tertinggal di toilet Mako Kopassus.

Sebelum pulang, saya buang air dulu di toilet lantai dasarnya.

Wah, saya agak panik juga, bagaimana saya bisa menulis kalau semua data dan hasil liputan saya, ada di catatan itu.

Saya kirim pesan sms ke Mas Agus Sutomo untuk mengabarkan bahwa catatan saya tertinggal di toilet Mako Kopassus.

Mas Agus memerintahkan anggotanya mencari.

Setelah semua disisir, catatan itu tak ketemu.

Mas Agus Sutomo memberitahu saya bahwa anggotanya sudah mencari tapi tak ketemu.

Mungkin disimpan oleh petugas cleaning service.

Oleh karena saya datang hari Jumat, dan para petugas cleaning service sudah berpulangan (saya berkiriman sms pada malam hari).

Hari Senin baru masuk kembali.

Akhirnya saya termenung sejenak malam yang semakin larut.

Kemampuan saya sebagai seorang jurnalis dan penulis seperti mendapat tantangan.

Mampu atau tidak saya menuliskan hasil liputan saya, walau catatan saya hilang.

 

 

 

 

 

Akhirnya saya mulai menulis mengandalkan ingatan saya.

Saya urut satu persatu, kemana dulu saya berkunjung.

Lalu setelah saya mendapat gambaran, apa yang paling bagus menjadi angle tulisan, mulailah saya menulis.

Dan Tuhan maha baik.

Tak ada satupun yang saya lupa.

Semua terekam dengan sangat baik dalam ingatan saya.

Tulisan tentang hasil kunjungan saya selama 3 jam ke Mako Kopassus Cijantungpun bisa saya selesaikan dengan sangat baik.

Yang berkesan bagi saya dari liputan itu adalah betapa Kopassus sangag menjaga kesterilan Markas Sat Gultor 81.

Dari semua bagian yang ada di Mako Kopassus, hanya 1 yang tidak boleh dimasuki dan tidak boleh diliput yaitu Markas Sat Gultor 81.

Bagian anjing pelacak saja boleh saya masuki dan saya liput.

Pokoknya khusus untuk Markas Sat Gultor 81, tidak boleh.

Setelah membaca tulisan saya, Mas Agus Sutomo memberikan apresiasi dan pujian.

Saya terharu sebab walaupun catatan saya hilang tapi saya masih bisa mengingat dengan sangat baik, detail hasil kunjungan saya.

Seorang jurnalis, termasuk penulis, di belahan dunia manapun, harus all out dalam menekuni dunia yang mereka pilih.

Hati, pikiran, jiwa dan segenap rasa, harus berbaur menjadi satu, serta bersiaga saat di medan tugas.

Sehingga dalam situasi darurat seperti yang saya alami, saya tak kesulitan menuliskan secara runtut dan baik.

Menjadi seorang jurnalis, termasuk menjadi seorang penulis, harus mampu menyampaikan sesuatu yang utuh menyeluruh dan benar.

Bukan dan jangan omong kosong.

Bukan dan jangan mengada-ada.

Bukan dan jangan fatamorgana.

Tuliskan dan sampaikan saja sebuah kebenaran.

Komando!   (****)

 

 

 

 

MS

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: