​Dari Tim Transisi Ke Tim Landing, Donald Trump Menggodok Kabinet 

 

 

 

Oleh: Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI

 

 

 

 

Jakarta, Jumat 18 November 2016 (KATAKAMI) — Apa kabarnya Presiden Tepilih Amerika Serikat Donald J. Trump?

Kalau mengikuti semua pemberitaan di media, khususnya di media sosial semacam twitter, instagram dan facebook, kabar beliau sangat amat baik.

Donald Trump lebih banyak menghabiskan waktu di Trump Tower pasca kemenangannya yang sangat gemilang dalam Presidential Election 2016.

Trump menang mutlak pada sistem electoral dan popular.

Jadi bukan cuma menang di electoral vote.

Tapi juga menang di popular vote.

Ini untuk mengoreksi salah satu media besar di Indonesia yang di salah satu beritanya kemarin mencantumkan bahwa Trump hanya menang di electoral.

Maka banyak-banyaklah membaca dan mengikuti perkembangan berita dunia agar jangan terlihat gagap sebagai media besar.

 

 

 

 

 

Apa yang bisa saya ulas tentang Donald Trump?

Pertama, Presiden Terpilih Donald Trump memutuskan setelah di inagurasi nanti, ia akan lebih banyak bekerja di New York City.

Bukan di Washington DC, utamanya di Oval Office.

Sebab selama 8 tahun Presiden Barack Obama berkantor di Oval Office,  ternyata sudah terlalu banyak dilakukan perubahan dan peningkatan sistem keamanan (?) di Oval Office semau-mau Obama pribadi.

Saya bisa memahami keputusan Donald Trump.

Menghadapi Obama yang tabiatnya memang culas dan sangat licik (ditambah lagi Michelle Obama juga berambisi maju sebagai capres pada tahun 2020), kemudian mempelajari bagaimana Obama menyadap semua komunikasi Hillary Clinton sepanjang menjabat sebagai Menlu pada tahun 2009 sampai 2013, Donald Trump memang harus sangat berhati-hati.

Obama ini memang sangat liar dan berbahaya.

Maka untuk menyikapi dugaan tentang tidak sterilnya Oval Office adalah setelah nanti Trump resmi di inagurasi pada tanggal 20 Januari 2017, Oval Office bisa di renovasi dan di bersihkan secara TOTAL oleh Tim Gabungan yaitu oleh Secret Service dan Tim Terpadu Intelijen Amerika Serikat untuk memastikan Oval Office clear dari semua potensi penyadapan.

Saya sangat yakin bahwa saat ini semua informasi intelijen sudah mulai masuk ke telinga Presiden Terpilih Donald Trump.

Termasuk saran agar jangan dulu berkantor di Oval Office.

 

 

 

 

 

 

Maka keputusan Donald Trump untuk tidak berkantor dulu di Oval Office pasca inagurasinya, memang menandakan bahwa Obama pribadi (setelah lengser) tak akan pernah bisa mencurangi Presiden Amerika Serikat yang baru.

Apalagi yang bisa saya ulas?

Di hari Jumat 17 November 2016, sejumlah tokoh telah diundang untuk datang bertemu dengan Donald Trump di Trump Tower, New York City.

Media menspekulasikan bahwa Donald Trump akan mempertimbangkan untuk memberikan posisi jabatan untuk Mantan Capres Partai Republik tahun 2012 Mitt Romney dan Gubernur South Carolina Nikki Haley.

Tak cuma itu, Nikki Haley juga masuk dalam Tim Landing yang dibentuk Donald Trump untuk mempersiapkan transisi pemerintahan dari Obama Administrasi.

Setelah beberapa hari lalu membentuk Tim Transisi, ini satu Tim Khusus dibentuk lagi yaitu Tim Landing.

Tim Landing adalah tim yang akan menjembati komunikasi terhadap jajaran pemerintahan dalam kabinet Obama.

 

 

 

 

 

Diantara nama-nama yang masuk dalam Tim Landing itu, saya mencatat 2 nama yaitu Gubernur South Carolina Nikki Haley dan Direktur NSA Michael S. Rogers.

Dalam analisa saya, nama Nikki Haley dimasukkan dalam Tim Landing ini adalah sebagai strategi sangat cantik dari Donald Trump untuk merangkul sebanyak mungkin pihak guna memperkuat pemerintahannya.

Diantaranya adalah merangkul Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan konco-konco sekutu pribadinya di Amerika Serikat.

Sepanjang PM Netanyahu masih memegang kekuasaannya di Israel maka mau tak mau ia memang harus dirangkul oleh Trump Administration guna memperkuat pemerintahan baru di Amerika Serikat.

Nikki Haley, sangat akrab dengan Mitt Romney dan PM Netanyahu.

Dan Mitt Romney, sahabat lama yang memang sangat akrab dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Trump sepertinya ingin memberi sinyal kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa konco-konco terdekatnya di Amerika Serikat mendapat atensi dan sangat dihargai oleh Donald Trump.

 

 

Nikki Haley and Mitt Romney

Nikki Haley and Mitt Romney

 

 

 

Maka dengan adanya sinyal ini diharapkan PM Israel bisa lebih beritikat baik meningkatkan kerjasama dan dukungan pada Trump Administration.

Lalu masuknya nama Direktur NSA Michael S. Rogers sebagai anggota Tim Landing, buat saya juga menarik.

Ini menandakan Trump tahu bahwa didalam pemerintahan Obama, cukup banyak yang punya integritas dan dapat dipercaya oleh Donald Trump.

Trump tidak ingin ada informasi yang terlewatkan.

Maka ia berusaha menunjuk orang-orang yang sudah diyakininya bisa dipercaya.

Mike Rogers akan sangat berguna mensukseskan proses “landing” bagi Trump Administration.

 

 

 

 

 

Intinya, Donald Trump masih menggodok pembentukan kabinet.

Banyak yang sudah di panggil datang ke Trump Tower.

Sampai saat ini belum ada keputusan tentang siapa-siapa yang akan duduk dalam kabinet.

Calon boleh banyak tapi keputusan final ada di tangan Donald Trump.

Termasuk tentang siapa yang akan memimpin di Institusi Intelijen Tertinggi levelnya di Amerika Serikat yaitu DNI.

Direktur DNI James Clapper mengundurkan diri dari jabatannya di hari Jumat 17 November 2016.

Saya yakin tidak akan ada gangguan pada inagurasi Donald Trump di bulan Januari mendatang terkait pengunduran diri Direktur DNI James Clapper.

Sebab intelijen di Amerika pasti akan tetap bekerja dengan sangat baik di semua lini.

Secret Service juga pasti akan bekerja sangat baik melindungi Presiden Terpilih.

Dengan mundurnya James Clapper, berarti Donald Trump audah bisa mempertimbangkan satu nama untuk ditugaskan menempati posisi yang ditinggalkan James Clapper sebagai Direktur DNI.

 

 

 

Direktur FBI James Comey (paling kiri), Direktur CIA John Brennan, Direktur DNI James Clapper dan Direktur NSA Michael Rogers

Direktur FBI James Comey (paling kiri), Direktur CIA John Brennan, Direktur DNI James Clapper dan Direktur NSA Michael Rogers

 

 

 

Begitu juga tentang siapa yang akan menjadi Direktur FBI, Direktur CIA, Direktur NSA dan Direktur-Direktur lainnya dalam sejumlah institusi penting di Amerika.

Tapi untuk menjadi catatan, jangan pernah ada siapapun yang minta-minta jabatan kepada Donald Trump lewat wawancara di media.

Contohnya ada yang meminta jabatan sebagai Direktur CIA lewat wawancara di Stasiun Televisi CNN.

Semua harus menunggu dengan tenang dan dalam senyap.

Saat ini Donald Trump pasti sedang memikirkan semua itu.

Yang pasti, Donald Trump pasti akan memilih orang-orang terbaik yang sangat dapat dipercaya.

Faktor KEPERCAYAAN atau TRUST adalah syarat nomor 1 dalam memilih sejumlah Menteri dan Direktur.

Selanjutnya, faktor lain yang sangat penting adalah bagaimana integritas dan loyalitas dari masing-masing kandidat.

Masih ada waktu yang cukup panjang yaitu sepanjang 1 bulan ke depan.

 

 

 

Donald Trump bersama putranya, Don, berfoto dengan petinju legendaris Floyd Mayweather yang datang ke Trump Tower di NYC

Donald Trump bersama putranya, Don, berfoto dengan petinju legendaris Floyd Mayweather yang datang ke Trump Tower di NYC

 

 

 

Sehingga di harapkan menjelang Natal nanti, formasi kabinet Trump sudah bisa terbentuk.

Donald Trump ingin ada persatuan atau unity didalam Partai Republik.

Itu sebab Trump ingin kemenangannya ini menjadi kemenangan bersama untuk Partai Republik.

Ibarat kata, Trump Force One siap landing di landasan White House.

White House akan segera dipimpin oleh Presiden baru dari Partai Republik untuk membawa Amerika menjadi lebih baik, lebih kuat dan lebih aman.

Make America Great Again. (****)

 

 
MS

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: