​Obama Dan Hillary Bisa Di Tangkap Dan Dihukum Karena Serangan Benghazi 

Serangan Benghazi 2012

Serangan Benghazi 2012

 

 

 

 

Oleh: Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI

 

 

 

Jakarta, Senin 21 November 2016 (KATAKAMI) —- Presiden Terpilih Amerika Serikat Donald Trump akan menunjuk Jenderal James Mattis yang dijuluki “MAD DOG” sebagai Menteri Pertahanan Amerika Serikat.

Kemudian Kepala Intelijen Amerika Serikat akan dipegang oleh Laksamana Purn. Mike Rogers, yang saat ini masih menjabat sebagai Direktur NSA.

Selanjutnya Direktur Dinas Rahasia CIA akan dipegang oleh Mike Pompeo.

Mike Pompeo saat ini adalah anggota House Representative Kongres Amerika.

Mike Pompeo merupakan Anggota Komite Benghazi di House Representative.

 

 

 

Mike Pompeo, Mike Rogers and James "Mad Dog" Mattis

Mike Pompeo, Mike Rogers and Gen. James “Mad Dog” Mattis

 

 

 

 

Dengan komposisi seperti ini, bagaimanakah masa depan intelijen dan militer Amerika Serikat bila Donald Trump menjadi Commander in Chief atau PANGLIMA TERTINGGI?

Pasti akan menjadi lebih baik, lebih kuat, lebih hebat dan lebih solid.

Empat tahun pasca Serangan Benghazi 2012, militer dan intelijen Amerika (CIA khususnya) masih belum bisa memaafkan dan melupakan bagaimana luka dalam hati dan jiwa mereka saat 3 tentara mereka mati dibunuh dengan sangat mengenaskan.

Serangan Benghazi adalah saat ratusan teroris Al Qaeda menyerang Kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Markas Perwakilan CIA di Benghazi.

 

 

 

 

 

4 orang Amerika tewas terbunuh yaitu:

1. Duta Besar Chris Stevens

2. Sean Smith, Veteran US Air Force yang bekerja di Kementerian Luar Negeri.

3. Glen Doherty, Veteran US NAVY SEAL yang dipekerjakan CIA menjadi Pasukan Keamanan

4. Tyrone Woods, Veteran US NAVY SEAL yang dipekerjakan CIA menjadi Pasukan Keamanan

 

 

Almarhum Duta Besar Christopher Stevens

Almarhum Duta Besar Christopher Stevens

 

 

 

Empat tahun berlalu, kini baru terungkap bahwa Obama dan para pejabatnya di White House menyaksikan secara langsung LIVE STREAMING saat serangan itu dilakukan.

Kini terungkap ada video yang mengabadikan momen saat Obama dan para pejabatnya asyik menontoni ke 4 warga Amerika tadi mati dibunuh.

Sehingga mau tak mau,  terjawablah sebuah misteri mengapa Valerie Jarrett sebagai penasehat utama Obama bisa langsung tahu situasi di lapangan ketika Pasukan Keamanan CIA hendak menuju Kedutaan Besar Amerika Serikat guna menolong Duta Besar Chris Stevens dan semua staf di Kedutaan.

 

 

Valerie Jarrett

Valerie Jarrett

 

 

 

Valerie Jarrett melarang CIA menolong ke EMBASSY dan memberikan perintah: “STAND DOWN“.

Duta Besar Chris Stevens dan Markas Perwakilan CIA di Benghazi meminta pertolongan ke Washington DC bahwa mereka butuh Pasukan Tambahan sesegera mungkin.

Bahkan Duta Besar Chris Stevens mencoba menghubungi Menteri Luar Negeri Hillary Clinton sebanyak 600 kali.

Tapi tak ada satupun yang di respon Hillary dengan alasan sudah tidur.

Ternyata Wikileaks membocorkan semua email yang dikirim Hillary Clinton pada malam dimana Serangan Benghazi terjadi.

Ternyata Hillary tidak tidur.

Sama seperti Obama, Hillary pun menyaksikan langsung saat serangan itu terjadi.

 

 

 

Donald Trump

Donald Trump

 

 

 

Kini, hanya tinggal hitungan hari Obama menjabat sebagai Presiden.

Potensi dimana Obama dan Hillary bisa diseret ke hadapan hukum terkait Serangan Benghazi terbuka lebar.

Masalahnya adalah terabadikan dan di dokumentasikan saat Obama dan Para Pejabat White House saat mereka asyik menontoni 4 orang AMERIKA mati dibunuh di Benghazi.

Mereka, Obama Administration maksud saya, tidak bersedia mengirimkan bantuan Pasukan Keamanan ke Benghazi.

Dan ternyata mereka menontoni secara langsung.

Kalau Obama orang awam silahkan.

Tapi Obama adalah COMMANDER IN CHIEF atau Panglima Tertinggi di Amerika Serikat.

Baru pertama kali dalam sejarah didunia, ada seorang Panglima Tertinggi menyaksikan secara langsung saat pasukan militernya dibunuh.

2 yang dibunuh adalah US NAVY SEAL yaitu Glen Doherty dan Tyrone Woods.

1 orang lagi adalah Veteran US Air Force yaitu Sean Smith.

 

 

 

Kris Paronto, John Tiegen dan Mark Geist

Kris Paronto, John Tiegen dan Mark Geist

 

 

Jika kasus ini dibuka dan di investigasi kembali di era pemerintahan Donald Trump maka terbuka kemungkinan Obama dan Hillary di seret ke muka hukum.

Mereka harus mempertanggung-jawabkan tindakan mereka yang sangat tidak manusiawi terhadap ke 4 orang Amerika yang mati dibunuh di Benghazi.

Bukti sudah ada yaitu video saat Obama dan para pejabatnya asyik menontoni Serangan Benghazi.

Tapi selama 4 tahun ini, Obama dan para pejabatnya mengaku bahwa mereka sudah tidur saat Serangan Benghazi terjadi.

Ternyata bohong.

Mereka tidak tidur. Boro-boro tidur sebab mereka menonton langsung.

Sama seperti saat Obama dan Hillary menonton Pasukan US NAVY SEAL menyerbu dan menyerang Osama Bin Laden.

Bedanya, dulu yang ditonton adalah Operasi Penumpasan terhadap gembong teroris nomor 1 dunia.

Sedangkan yang terjadi di Benghazi adalah pembunuhan terhadap 4 orang Amerika, dimana 3 orang diantaranya adalah tentara.

 

 

 

Benghazi Survivors John Tiegen and Kris Paronto

Benghazi Survivors John Tiegen and Kris Paronto

 

 

 

Menutup tulisan ini.

Obama dan Hillary harus siap terhadap segala kemungkinan yang bisa terjadi di era Pemerintahan Trump.

Terutama harus siap dihukum atas perbuatan mereka yang bar bar dan tidak manusiawi.

Itu sebab mengapa militer dan intelijen di Amerika Serikat tak akan pernah memaafkan dan tak akan pernah melupakan saat ke 4 orang Amerika mati dibunuh dengan sangat mengerikan.

Never Forget Benghazi !    (*****)

 

 

 
MS

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: