​Mengulas Dugaaan Skenario Obama, Michelle Dan Joe Biden Dibalik Penghitungan Ulang

 

 

 

Oleh: Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI

 

 

 

Jakarta, Senin 28 November 2016 (KATAKAMI) — Memang semangat pantang menyerah itu ada bagusnya.

Dan memang kita sebagai manusia harus begitu.

Jangan pernah menyerah.

Itu jugalah yang diduga sedang dilakukan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Sayangnya, yang dilakukan Obama adalah sikap pantang menyerah yang culas dan licik.

Ada indikasi kuat bahwa Obama sangat ingin istrinya yang menjadi Presiden.

Tanpa harus melewati proses penjaringan normal yang dilakukan Democratic National Committee.

 

 

 

 

 

 

Peluang terbesar memaksakan Michelle bisa jadi capres adalah beberapa minggu sebelum Presidential Election dilaksanakan bila Hillary Clinton dinyatakan bersalah oleh FBI dalam kasus email.

Tapi tampaknya skenario ini berubah.

Hillary dibiarkan tetap bertarung dalam presidential election.

Obama membiarkan pencurian suara di 11 negara bagian yang menggunakan mesin suara buatan perusahaan milik George Soros.

Mesin suara di negara bagian lain (yang tidak menggunakan mesin buatan perusahaan George Soros) juga dirusak, dimana suara bisa dialihkan ke Hillary Clinton.

Tapi kecurangan ini gagal total sebab Donald Trump tetap tak bisa dikalahkan melalui electoral vote.

 

 

 

 

 

 

Kini atas prakarsa capres asal Green Party, Jill Stein, mendaftarkan penghitungan ulang kertas suara di 3 negara bagian yaitu Michigan, Winconsin dan Pennsylvania.

Jill yang hanya memperoleh rata-rata 1 hingga 2 persen suara, ternyata ditunggangi George Soros dan Hillary Clinton.

Jill di cemooh habis-habisan di media sosial sebab saat mengunpulkan donasi untuk pencapresannya, ia tak bisa mendapat banyak sumbangan.

Kini untuk membiayai proses penghitungan ulang suara di 3 negara bagian yang harus dibiayai oleh capres pemohon, Jill langsung dapat sumbangan meroket.

Ternyata setelah Jill mendaftarkan permohonannya agar dilakukan penghitungan ulang suara di 3 negara bagian, Pihak Hillary Clinton bergabung.

Hillary mengklaim bahwa ia menang di popular vote.

Padahal tanggal 9 Novdmber 2016, Hillary sudah menyatakan bahwa dirinya kalah dan mengucapkan selamat kepada presiden terpilih.

Apa yang bisa saya ulas?

Singkat saja.

Hillary sudah depresi dan terganggu jiwanya karena tak siap mengalami kekalahan.

Padahal sepanjang ia berkampanye, termasuk di Manchester tanggal 24 Oktober 2016, Hillary memaki maki sangat kasar atas diri Donald Trump.

Menurut Hillary ketika itu, Donald Trump adalah satu satunya Capres pertama dalam sejarah Amerika, baik dari Partai Demokrat atau Partai Republik, yang tak akan mau menerima hasil pemilu dan merusak hasil demokrasi yang akan dihasilkan oleh pemilu.

Dalam kesempatan lain saat ia berkampanye, Hillary mengulangi lagi omongannya bahwa Donald Trump pasti akan merusak demokrasi dengan menolak untuk menerima hasil pemilu.

Ternyata sekarang, politisi perempuan yang sedang sangat stress ini, justru melakukan apa yang ia tuduhkan kepada Donald Trump semasa ia kampanye dulu.

Sementara George Soros juga tampaknya sudah sangat depresi dan terganggu jiwanya karena ia tak bisa lagi berada di lingkaran dalam kekuasaan.

Mendanai aksi protes menentang Donald Trump selama 2 minggu, menggaji para demonstran dan kini mendanai penghitungan ulang suara, termasuk membayar jasa-jasa pihak lain di luar Amerika yang muaranya adalah menggembosi dukungan untuk Donald Trump.

Jadi apa saja, bahkan yang terburuk sekalipun, sedang terus dilakukan George Soros, sangkin ia kaget Hillary tetap saja kalah (padahal semua cara sudah dilakukan untuk mencuri suara).

Saya heran kenapa FBI, CIA dan semua institusi di Amerika membiarkan ada manusia bernama George Soros bisa semaunya menghancurkan Amerika dengan cara terburuk sekalipun.

 

 

 

Mesin suara yang sengaja di setting untuk tidak bisa memilih Donald Trump

Mesin suara yang sengaja di setting untuk tidak bisa memilih Donald Trump

 

 

 

Mesin suara di 11 negara bagian hasil perusahaan milik George Soros untuk melakukan sabotase dan pencurian suara.

Kemudian mesin suara di negara lain juga sudah dirusak dan diatur agar mengalihkan suara untuk Hillary Clinton.

Kertas suara banyak yang tidak mencantunkan nama Donald Trump.

Kertas suara jangan di distribusikan kepada jaringan pemilih dari kalangan militer karena pasti akan memilih Donald Trump.

Tapi hasilnya, Donald Trump tetap menang.

Kini Obama, White House, Partai Demokrat dan Hillary beserta donatur utama mereka George Soros, ingin mencoba trik lain untuk menggagalkan kemenangan Donald Trump.

 

 

 

 

 

 

 

Pertanyaannya, akan iklas dan akan dibiarkan Obamakah Hillary menang dan lantas menjadi Presiden Amerika yang baru?

Menurut prediksi saya, Obama tidak akan membiarkan Hillary mendapatkan White House.

Mengapa?

Sebab saya punya prediksi lain.

Obama ingin istrinya yang menjadi presiden, dengan berwakilkan Joe Biden.

Pihak Obama memang telah mulai mengumumkan dan mengkampanyekan di media sosial bahwa Michelle akan maju sebagai capres tahun 2020.

Tapi Obama pasti sudah berhitung bahwa di tahun 2020 nanti, ia sudah tidak punya pengaruh dan tidak punya POWER apapun.

Maka kalau Michelle mau jadi presiden dengan cara yang cepat, aman, hemat dan sukses adalah saat sekarang Obama masih punya power.

Maka inilah prediksi saya tentang dugaan skenario yang terdapat di balik rencana penghitungan ulang suara.

Obama mengupayakan seolah Hillary menang lebih banyak di popular vote dibanding Donald Trump.

Agar misi rahasianya tak terungkap maka Obama membiarkan Jill Stein yang maju sebagai pendobrak dan mengajukan permohonan ulang.

 

 

 

 

 

 

 

Tak ada yang tahu, kertas suara darimana yang tiba-tiba di klaim lebih banyak untuk Hillary sebab election sudah berlalu hampir 3 minggu.

Ada potensi dimana Obama akan merancang upaya penggagalan atas kemenangan Donald Trump.

Selanjutnya di awal awal inu, diduga Obama memang merekayasa hendak membangun opini publik bahwa ini ambisi pribadi Hillary untuk menang.

Bila skenario liar Partai Demokrat dan White House ini sukses berjalan.

Tapi tak lama kemudian, saya memprediksi Obama akan memerintahkan FBI menyatakan Hillary bersalah dan harus ditangkap.

Jangankan ditangkap, kalau FBI menyatakan Hillary bersalah saja maka Hillary tak berhak menjadi presiden.

Kalau sudah tidak ada presiden terpilih, maka Obama bisa memperpanjang kekuasaannya untuk sementara waktu.

 

 

 

 

 

 

Inilah yang paling mungkin dilakukan Obama yaitu memproklamirkan bahwa kekuasaannya akan diperpanjang atas dasar situasi politik terkini yang tak punya presiden terpilih.

Selanjutnya masing-masing partai diminta mengajukan capres kembali.

Pada fase ini, Michelle Obama akan diajukan sebagai capres berpasangan dengan Joe Biden.

Lalu Presidential Election akan diulang secara nasional di tahun 2017.

Kemudian dengan power yang dimilikinya, Obama akan memenangkan Michelle.

Sehingga selama 8 tahun ke depan, The Obamas akan tetap mondok di WhiteHouse.

Inilah yang diduga sedang terus diupayakan bersama oleh trio Obama, Michelle dan Joe Biden.

Kehilangan kekuasaan yang sudah dinikmati selama 8 tahun, membuat Obama tak siap untuk pensiun.

Obama cukup pintar dalam mengadu domba dan membenturkan banyak pihak.

Obama sangat mahir bermulut manis seolah mendukung hal hal yang positif dan sangat demokratif.

Tapi sesungguhnya Obama sedang berjuang untuk tidak mau keluar dari White House.

Segala cara sedang dilakukan Obama.

Termasuk Obama pun sudah menanda-tangani keputusan bahwa ibu mertuanya, yaitu ibu dari Michelle Obama, akan menerima uang pensiun abadi US$ 180,000 / tahun atas jasanya merawat kedua anak Obama selama 8 tahun.

Dan selama 8 tahun ini, ibu mertua Obama menerima gaji besar sebagai pengasuh untuk kedua cucunya yaitu Malia dan Sasha.

Merawat cucu kandung sendiri, dibisniskan dan diuangkan memakai uang negara.

Itulah Keluarga Obama yang tidak punya malu.

 

 

 

 

 

 

Sekarang, karena tak sanggup membayangkan akan hidup sebagai orang biasa di luar White House, kemenangan Donald Trump diduga hendak dirampas Tuan dan Nyonya Obama.

Pura-pura menggunakan skenario penghitungan ulang untuk mencoba memenangkan Hillary dengan cara curang.

Obama tak mau menunggu 4 tahun lagi karena itu terlalu lama. Apalagi di tahun 2020 nanti, Obama sudah tak berkuasa.

Maka sekaranglah waktu yang tepat, sebelum Donald Trump dilantik tanggal 20 Januari 2017, Obama dan istrinya berusaha menjegal dan merampas kemenangan.

Terlalu menyakitkan rupanya kalau jobless dan harus jadi orang biasa yang tinggal di rumah yang biasa-biasa juga.

Bukan di White House, dengan biaya dan fasilitas dari negara.

Dijaga sangat ketat pula oleh Secret Service.

Hancur Amerika di tangan Partai Demokrat, George Soros, Hillary Clinton dan The Obamas.

Maka kemenangan yang datang dari proses demokrasi yang sangat terpuji, hendak diberangus dan dihancurkan.

Obama dan Hillary sudah sama-sama gelap mata.

Sama-sama kalap.  (***)

 

 

 

MS

 

 

 

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: