​Ironi Di Balik Kasus Ahok, Staf Khusus Jokowi Penghujat Dan Penindas Umat Islam

Jokowi dan Gories Mere

Jokowi dan Gories Mere

 

 

 

Oleh: Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI

 

 

 

Jakarta, Senin 5 Desember 2016 (KATAKAMI) — Kasus hukum terkait penistaan agama menimpa Ir. Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok.

Pemerintah, termasuk di dalamnya Polri yaitu Bareskrim dan Kejaksaan Agung, bekerja marathon semua demi menuruti tekanan massa.

Puncaknya saat Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla, menembus hujan untuk ikut sholat jumat bersama dengan umat muslim di Silang Monas Jakarta pada hari Jumat tanggal 2 Desember 2016.

Ternyata kerumuman massa, juga di isi oleh para PNS yang diwajibkan hadir oleh semua instansi pemerintah.

Tapi ada satu hal fakta yang perlu di ungkap kepada publik tentang kemunafikan Pemerintah, dalam hal ini Presidem Jokowi.

Jokowi ingin terus terlihat sempurna meladeni kemauan Presiden Barack Obama yang sudah tiba di akhir kekuasaanya.

Dan Indonesia adalah negara favorite Obama untuk menghibur kepenatan dirinya yang sudah masuk pada tahap stress yang luar biasa menjelang lengser.

Fakta yang perlu di ungkap kepada rakyat Indonesia, khususnya kepada UMAT ISLAM di Indonesia adalah di Istana Presiden, terdapat seorang staf khusus yang memiliki track record sebagai penghujat dan pembantai umat Islam nomor 1 di Indonesia.

Dia adalah Komjen Pol. Purn. Gories Mere.

Terhitung sejak bulan Juli, Gories Mere diangkat sebagai Staf Khusus Presiden di bidang intelijen.

Tak ada pengalamannya di bidang intelijen.

Kariernya di kepolisian sangat amat rusak dan mengerikan.

 

 

 

 

 

 

Inilah polisi yang membantai umat Islam dengan memerintahkan Densus 88 Anti Teror menembaki Pondok Pesantren persis di malam takbiran.

Pondok Pesantren yang ditembaki Gories Mere di malam takbiran tahun 2006 adalah Pondok Pesantren Al Amanah, Tebang Rejo, Poso, Sulawesi Tengah yang dipimpin oleh Ustadz Adnan Arsal.

Komnas HAM menetapkan bahwa telah terjadi pelanggaran HAM berat dalam kasus ini.

Akibat perbuatan Gories Mere ketika itu, semua BRIMOB diminta keluar dari Poso.

Beberapa bulan kemudian. Gories Mere kembali membantai umat Islam di Poso.

Dari Amerika Serikat, Gories Mere memberikan perintah lisan via telepon agar Densus 88 Anti Teror melakukan serangan.

Penembakan brutal di Tanah Runtuh, Poso, terjadi 2 kali dalam sebulan pada bulan Januari 2007.

Salah satunya terjadi pada tanggal 22 Januari 2007.

Alasannya untuk mencari buronan terorisme yang masuk dalam DPO.

Penembakan brutal yang membabi buta dari Tim Anti Teror Polri ini menewaskan 13 orang umat Islam di Tanah Runtuh, Poso yang tidak bersalah. Dari korban tewas sebanyak 13 orang itu, tidak ada satupun yang masuk dalam DPO terorisme versi Polri.

Semua yang mati dibunuh adalah umat Islam alias warga sipil.

Kombas HAM kembali menetapkan bahwa terjadi pelanggaran HAM dalam kasus ini.

Beberapa bulan kemudian, kembali Gories Mere melakukan kebrutalan.

Ia memerintahkan Abu Dujana ditembak jarak dekat pada bagian paha d  hadapan istri dan anaknua yang masih dibawah umur.

Istri dan anak Abu Dujana menyaksikan peristiwa penembakan sadis itu.

Lalu kepada saya, Gories Mere pernah mengirimkan sebuah sms yang menghina umat Islam.

Isi sms itu kira-kira sepertk ini bunyinya, “Bagusnya ditembak ketika sedang nungg**g sholat, ditembak di bagian pantat, supaya tembus ke kepalanya”.

Gories Mere juga yang mengacak-acak Pondok-Pondok Pesantren di Pulau Jawa untuk alasan pengejaran terhadap teroris.

Ia jugalah yang menggunakan pola pemeriksaan yang super sadis.

Terperiksa ditelanjangi, di setrum alat kelaminnya dan diminta melakukan sodomi.

Padahal ratusan orang yang ditangkapi, tidak diproses hukum.

Dan kalaupun ada yang disidang, hanya sedikit sekali yang terbukti melakukan kesalahan.

 

 

 

 

 

 

Gories Mere juga yang pernah menuding Jenderal Purn. Wiranto dan TNI sebagai pihak yang mendalangi aksi-aksi peledakan bom di Indonesia.

Gories Mere juga yang menghujat Jenderal Purn. Ryamizard Ryacudu sebagai jenderal sontoloyo yang tak pernah mau mempercayai omong kosong Gories Mere terkait Al Jamaah Al Islamyah.

Gories Mere juga yang diduga bekerja rangkap untuk Kepolisian Australia.

Sehingga, saat Densus 88 Anti Teror menangkap Abu Dujana pada tahun 2007, pihak pertama yang dilapori Gories Mere adalah Pemerintah Australia dam Australian Federal Police.

Akibat tindakan Gories Mere, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sangat murka dan tidak bersedia memberikan ucapan selamat kepada Polri atas keberhasilan penangkapan Abu Dujana.

Lalu karena ingin mencari muka kepada Amerika, ia mengirimkan seorang keponakannya untuk menyamar sebagai supir taksi online untuk bisa mengantar seorang wartawati yang sedang gereja di Balai Sarbini.

Wartawati itu adalah saya !

Apa yang bisa saya sampaikan dan saya ulas disini?

Pecat Gories Mere !

Indonesia tidak membutuhkan berandalan mafia seperti ini di dalam Istana.

Jika Ahok dihujani dengan tekanan demi tekanan yang sedemikian hebat karena kealpaannya dalam bertutur kata.

Maka, algojo dan pembantai umat Islam nomor 1 di Indonesia ini, harus dicampakkan keluar dari Istana.

Jangan munafik.

 

 

 

Barang bukti kasus narkoba Liem Piek Kiong aliaa Monas

Barang bukti kasus narkoba Liem Piek Kiong aliaa Monas

 

 

 

Bersihkan Istana dari kotoran yang track recordnya sangat buruk dan penuh pelanggaran HAM.

Dan jangan terus menerus berkolaborasi dengan seorang oknum PATI bintang 2 di Kalimantan untuk mengganggu kehidupan seorang jurnalis yang dijadikan komoditi dagangan untuk cari muka ke pihak lain.

Sampai ke rumah kontrakan jurnalis itu pun, diduga disusupi.

Bahkan ke gereja.

Ngintil sana ngintil sini.

Sok merasa jadi operator lapangan paling jitu untuk melakukan kepentingan politik asing.

Otaknya cuma duit, duit dan duit.

Penghujat dan pembantai unat Islam nomor 1 bernama Gories Mere ini tidak punya malu.

NAJIS !  (****)

 

 
MS

Advertisements

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: