​Selamat Hari Ibu Dan Selamat Natal, Mama Rusli Aminah Pasaribu

 

 

 

Oleh: Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI

 

 

 

Jakarta, Kamis 22 Desember 2016 (KATAKAMI) — Di Indonesia, tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu.

Saya pun ingin ikut ambil bagian memperingati dan mendedikasikan artikel saya ini untuk Almahum Ibu saya, Rusli Aminah Pasaribu yang meninggal dunia tanggal 4 Oktober 2014.

Apa yang saya kenang dari sosok ibu saya?

Yang paling utama yang saya ingat dari sejak masa kecil saya dulu adalah rutinitas ibu saya untuk selalu bangun setiap tengah malam.

Duduk sendirian di ruang tamu.

Di depannya selalu ada buku injil dan buku ende (buku nyanyian rohani gereja).

Selama beberapa jam, ibu saya berdoa dan menyanyikan lagu-lagu rohani.

Saya selalu terbangun setiap ibu saya berdoa dan menyanyikan lagu rohani di ruang tamu rumah kami.

Saya mendengar nama saya, nama semua saudara saya, disebut dalam doa-doa ibu saya.

Doa adalah bagian yang terpisahkan dari ibu saya.

Doa adalah hal paling utama diajarkan oleh ibu saya pada diri saya.

Dan beliau memberi contoh langsung tentang bagaimana kita sebagai manusia harus sangat mengandalkan doa dalam setiap situasi.

 

 

 

Lourdes

Lourdes

 

 

 

 

Tahun 2001, saya dan kedua orangtua saya, berlibur bersama ke Eropa.

Destinasi pertama adalah Belanda.

Kemudian kami ke Paris, Perancis

Lanjut ke Lourdes, di Perancis Selatan, tempat penampakan Bunda Maria kepada Santa Bernadette.

Dari Lourdes, kami berpisah tujuan, saya kembali ke Indonesia.

Kedua orang tua saya melanjutkan perjalanan ke Amerika Serikat dan tinggal disana selama beberapa bulan.

Sewaktu di Lourdes juga sama.

Mau dimanapun ibu saya berdoa, ia selalu menyebut nama dari kelima anaknya.

Begitu juga yang dilakukan ibu saya sewaktu kami berdoa di hadapan Grotto, gua penampakan Bunda Maria.

Yang berkesan untuk saya adalah sebuah kejadian yang sangat spontan dan lugu luar biasa dari ibu saya.

Persis ketika kami sudah berada di bandara Lourdes untuk terbang ke Paris, ibu saya mengatakan pada saya bahwa ia lupa mendoakan seorang sepupunya yang sakit.

Saya katakan, “Tapi kita sudah di airport Ma. Sudah bukan di depan Grotto“.

Dengan bahasa Batak yang sangat kental, ibu saya menjawab sangat lugu sekali.

Beliau katakan tidak apa apa walau sudah berada di airport sebab Tuhan pasti mendengar doa dimanapun kita berada.

Lalu mulailah ibu saya berdoa dengan tutur bahasa yang sangat jujur.

Beliau selalu berbicara dan berdoa dalam bahasa Batak.

Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, begini doa ibu saya:
Bapa kami yang ada di surga. Kami sudah mau pulang dari Tanah Terberkati Lourdes di Perancis ini.Saya lupa mendoakan Si Rusti. Saya doakanlah di airport ini. Berkatilah si Rusti, semua keluarganya, supaya mereka semua sehat dan bahagia.Jagalah kami. Anakku si Mega ini. Supaya jadi wartawan yang hebat. Supaya dia yang akan mengurus saya kalau tua dan kalau sakit. Terimakasih Tuhan. Didalam nama anakMu Yesus, saya berdoa. AMIN.

Saya duduk di sebelah ibu saya mendengar beliau berdoa seperti itu.

Itu adalah doa ibu saya di Lourdes tahun 2001.

 

 

Rusli Aminah Pasaribu

Rusli Aminah Pasaribu

 

 

 

Sepuluh tahun kemudian, yaitu tanggal 18 November 2011, saya mulai mengurus ibu saya yang sakit.

Beliau mengidap sakit dimensia dan osteoporosis.

Dimensia membuat ibu saya kehilangan banyak memori atau ingatan.

Tapi satu hal yang tak pernah beliau lupakan bahwa saya adalah anaknya bernama Mega yang berprofesi sebagai wartawan.

Kepada siapapun ibu saya berbicara dalam sakit dimensianya, yang selalu diceritakan adalah anaknya yang bernama Mega adalah wartawan.

Beliau bangga sekali memiliki seorang anak perempuan yang bekerja sebagai seorang wartawan.

Dimensia tidak menghalangi ibu saya berdoa.

Dan semua isi doanya sangat lucu isinya.

Tapi saya yakin, Tuhan maha baik dan selalu tersentuh mendengar doa doa dari seorang ibu yang berdoa dari dalam hatinya walau dalam keadaan sakit.

Pernah satu saya mendengar ibu saya berdoa sebelum makan seperti ini:

Ya Bapa kami yang ada di surga. Suami saya sudah pensiun dari pekerjaannya. Kami sudah tua. Berkatilah anak anak kami. Berkati cucu cucu kami. Saya mau makan dulu sekarang. Semoga kalian di surga juga sedang makan. Jagalah kami. Amin.

 

 

 

 

 

 

Selalu ada yang lucu bila mendengar seorang penderita dimensia seperti ibu saya bila berdoa dan berbicara.

Berturut-turut sejak tahun 2011, 2012 dan 2013, saya selalu melewatkan natal, paskah dan ulangtahun saya bersama ibu saya.

Memeluknya.

Tidur di pelukannya.

Ke gereja bersama.

Semua kenangan ini terpatri kuat dalam hati dan jiwa saya.

 

 

 

Ilustrasi gambar

Ilustrasi gambar

 

 

 

Ibu saya meninggal dunia, Sabtu 4 Oktober 2014 di Rumah Sakit Suyoto, Jakarta.

Bulan Agustus 2014, beliau sempat diopname 3 minggu di rumah sakit.

Masuk lagi ke rumah sakit di bulan September, sehari sebelum beliau berulang tahun.

Ibu saya masuk ke rumah sakit tanggal 11 September 2012.

Tanggal 12 September, beliau berulang tahun.

Suhu badannya demam tinggi saat saya menggendongnya dengan kedua tangan saya untuk dibawa ke rumah sakit.

Saya selalu tidur di samping tempat tidurnya di rumah sakit manapun beliau dirawat.

Saya ingin ibu saya tahu bahwa selalu ada saya disampingnya menjaga.

Empat tahun saya mengurus ibu saya yang sakit.

Memandikannya pagi dan sore.

Membantunya buang air besar dan buang air kecil karena beliau tidak bisa lagi melakukannya sendiri.

Membuka, memasangkan dan membersihkan pampersnya.

Menuntun sampai membopong badannya untuk bisa ke kamar mandi menjelang kematiannya.

Menyisir rambutnya.

Menyuapi dan memberinya makan di pagi, siang dan sore hari.

Membawanya ke dokter.

Semua saya lakukan sendiri dengan tangan saya sendiri sebagai bakti saya kepada seorang wanita yang sangat mulia.

Dan wanita itu bernama IBU.

Ia memiliki 5 orang anak.

Saya adalah anak paling kecil, bungsu dari 5 bersaudara.

 

 

 

 

 

 

 

Tapi ibu saya memilih saya untuk mengurus dan menjaganya hingga akhir hayat.

Ibu saya meninggal dunia di hari Sabtu siang tanggal 4 Oktober 2014.

Jenazahnya dibawa ke Pulau Samosir dan dimakamkan disana, di pemakamam keluarga kami di tepi Danau Toba.

Beliau sering datang dalam mimpi saya untuk memyampaikan sesuatu.

Suaranya terdengar jelas.

Merindukannya adalah sesuatu yang terus saya rasakan hingga saat ini.

Natal adalah sesuatu yang membuka luka penuh kepedihan yang belum sembuh dalam jiwa saya.

Natal kali ini adalah natal ketiga yang saya lewati tanpa ibu saya, yaitu Natal 2014, Natal 2015 dan Natal 2016.

Tak pernah putus dan tak pernah berhenti saya mendoakannya.

Tak pernah putus dan tak pernah berhenti saya mencintainya.

Tak pernah putus dan tak pernah berhenti saya merindukannya.

Tak pernah putus dan tak pernah berhenti saya mengenang kebaikannya.

Menutup tulisan ini.

Saya hanya ingin menyampaikan setulus hati saya:

“Mama. Selamat Ibu. Dan Selamat Natal. Aku rindu, Mama. Rindu serindu rindunya. Tetap doakan aku dari surga ya Mama”.

Apa yang menjadi teladan yang saya dapat dari ibu saya sepanjang hidupnya, mengingatkan saya pada sebuah kalimat indah yang pernah dikatakan oleh Mantan Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln;

“I remember my mother’s prayers and they have always followed me. They have clung to me all my life”.  (*****)

 

MS

Advertisements

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: