​Kaleidoskop Kepolisian Indonesia Di Tahun 2016

Kapolri Tito Karnavian

Kapolri Tito Karnavian

 

 

 

 

Oleh: Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI

 

 

 

Jakarta, Sabtu 24 Desember 2016 (KATAKAMI) —- Tahun 2016 hanya tinggal seminggu lagi. Pekan depan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian akan merilis Catatan Akhir Tahun Polri di tahun 2016 ini.

Sebagai salah seorang wartawati yang paling senior di jajaran Polri saat ini, saya akan menyusun sebuah kaleidoskop atas apa yang cukup menarik di jajaran Polri di tahun 2016.

Tak semua hal akan saya sorot.

Saya hanya akan memilih beberapa poin penting yang menjadi catatan keberhasilan dan kekurangan Polri.

Keberhasilan pertama di tahun 2016 ini adalah suksesnya suksesi pergantian kepemimpinan Polri dari Jenderal Polisi Badrodin Haiti kepada Komjen Tito Karnavian yang saat itu menjabat sebagai Kepala BNPT.

Inilah pergantian Kapolri yang terbaik dalam sejarah Polri.

Kekompakan ditampakkan.

Gap antara senior dan junior ditiadakan.

Calon Kapolri Tito Karnavian masuk ke ruang Fit And Proper Test Komisi III dengan didampingi oleh para seniornya.

Polri hebat luar biasa.

 

 

9

Komjen Pol Budi Gunawan

Komjen Pol Budi Gunawan

 

 

Negara ini mencatat kesalahan saat Wakapolri Komjen Budi Gunawan dipromosi menjadi Kepala Badan Intelijen Negara dengan pangkat jenderal bintang 4 aktif sampai saat ini.

Sangat memalukan negara sengaja mengkondisikan dan membiarkan terdapat 2 orang jenderal bintang 4 aktif dari jajaran Polri, hanya karena barter politik PDIP dan tiket sebagai calon gubernur untuk Ahok.

Ujung-ujugnya Ahok malah kena masalah hukum.

Sementara Budi Gunawan sudah melenggang kangkung enak enakan jadi Kepala BIN dengan pangkat jenderal bintang 4 aktif.

Harusnya hanya boleh ada 1 jenderal bintang 4 aktif si Polri yaitu Kapolri.

Ini mengingatkan pada ambisi liar Kepala BNN Komjen Gories Mere saat ia masih menjabat beberapa tahun silam.

Ia sempat bermimpi ingin menjadi jenderal bintang 4 aktif dalam kapasitasnya sebagai Kepala BNN.

Keinginan Gories Mere agar ada pasal yang bisa mengatur Kepala BNN harus Jenderal Bintang 4 aktif, gagal masuk ke dalam draft Undang Undang Narkotika.

 

 

 

 

Kapolri Tito Karnavian

Kapolri Tito Karnavian

 

 

 

Sejak Tito menjadi Kapolri, banyak sekali hal positif yang dilakukan.

Ke dalam internal Polri, Tito disegani (bahkan oleh kalangan seniornya) karena cara Tito merangkul dan memimpin sungguh santun tapi penuh wibawa.

Tito juga mampu bekerjasama dengan institusi lain.

Hal lain yang perlu saya ulas dan saya anggap sebagai kelalaian negara pada Polri adalah tidak adanya perhatian Pemerintah memberikan satu gedung khusus untuk jajaran Bareskrim.

Gedung lama Bareskrim di dalam Komplek Mabes Polri sudah harus direnovasi tahun 2016 ini.

Sehingga jajaran Bareskrim, harus menumpang dan terpencar-pencar di berbagai lokasi.

Ada yang menumpang di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Ada yang menumpang di Kantor Ombusman Kuningan Jakarta Selatan.

Ada yang menumpang di Kantor Dinas Perhubungan Tanah Abang.

Puslabfor Polri mengungsi ke Wilayah Kalimalang Jakarta Timur.

Lalu para tahanan Bareskrim di titipkan ke rutan Polda Metro Jaya dan Polsek Gambir.

 

 

 

Dharma Pongrekun

Dharma Pongrekun

 

 

 

Tahun 2016 ini adalah tahun nyungsep bagi jajaran Direktorat Narkoba Bareskrim atas kecobohan Komjen Budi Gunawan sepanjang beliau menjabat sebagai Wakapolri.

Berturut-turut di tahun 2016 ini, Budi Gunawan mempromosikan dan menempatkan orang-orangnya untuk menjadi Direktur Narkoba Bareskrim (padahal tidak pernah bertugas dan tidak punya pengalaman samasekali di bidang narkoba).

Mereka adalah Brigjen Antam Novambar dan Brigjen Dharma Pongrekun.

Inilah dua orang yang membuat Ditektorat Narkoba Bareskrim menjadi nyungsep tak berprestasi sepanjang 2016.

Saya apresiasi keputusan Kapolri Tito menyelamatkan Direktorat Narkoba Bareskrim untuk kembali dipimpin oleh orang yang tepat.

Kapolri Tito menunjuk Brigjen Eko Daniyanto sebagai Direktur Narkoba Bareskrim yang baru menggantikan Brigjen Dharma Pongrekun yang selama 5 bulan nyasar tak tahu harus berbuat apa di jajaran Narkoba.

Brigjen Eko Daniyanto, adalah reserse terhebat ketiga di jajaran kepolisian yang masih aktif saat ini.

Dua reserse lainnya yang sangat hebat menangani narkoba dan sungguh berpengalaman adalah Irjen Arman Depari dan Brigjen Anjan Pramuka.

Arman dan Anjan saat ini bertugas di Badan Narkotika Nasional.

Di jajaran Polri, Eko Daniyanto yang saat ini teratas sebagai yang terhebat sebab yang dua lagi ada di BNN.

Eko menjadi yang teratas sebagai yang terhebat dalam artian ia memang sudah sangat berpengalaman dan berprestasi menangani narkoba sepanjang bertugas di Polda Metro Jaya.

Eko adalah Mantan Direktur Narkoba Polda Metro Jaya.

Eko memiliki tugas yang cukup berat untuk bagaimana ia bisa memotivasi dan memompa lagi semangat anggota-anggotanya di jajaran Direktorat IV Narkoba Bareskrim agar bangkit kembali memerangi narkoba dengan penuh prestasi.

 

 

 

 

 

Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto

Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto

 

 

Bareskrim patut diapresiasi sejak dipimpin oleh Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto.

Ari Dono memiliki gaya kepemimpinan yang sangat enak caranya dalam memberikan arahan, memberikan perintah dan mendengar laporan bawahan.

Ari Dono menempatkan sebuah layar monitor sangat besar di ruang kerjanya atas bantuan dari Jajaran IT Polri untuk memudahan komunikasi dan rapat-rapat penting didalam internal Bareskrim melalui video conference.

Video conference ini mau tak mau memang harus dilakukan Kabareskrim karena saat ini kantor Bareskrim terpencar-pencar.

 

 

 

Irjen Boy Rafli Amar dan Kapolri Tito Karnavian

Irjen Boy Rafli Amar dan Kapolri Tito Karnavian

 

 

Saya apresiasi jajaran Humas Polri yang dipimpin saat ini oleh Kadiv Humas Irjen Pol Boy Rafli Amar.

Boy sosok polisi yang begitu profesional, santun, sangat cerdas dan sungguh punya integritas.

Tak heran jika Boy termasuk yang sangat dipercaya oleh Kapolri Tito.

Boy memiliki skuad Humas yang sangat bagus karena didalam Humas Polri terdapat nama Rikwanto dan Martinus Sitompul. Keduanya polisi-polisi hebat di bidang kehumasan.

 

 

 

 

 

 

Saya apresiasi jajaran Propam Polri yang saat ini dipimpin Irjen Pol Idham Azis.

Propam menjadi lebih berwibawa, lebih militan, lebih profesional dan lebih cekatan dibawah kepemimpinan Irjen Pol. Idham Azis.

Saya sudah pernah mengulas khusus tentang Propam Polri ini.

Background Idham Azis sebagai alumni dari jajaran Densus 88 Anti Teror Polri, memudahkan ia bekerjasama dan menjadi bawahan Kapolri Tito yang juga merupakan alumni Densus 88 Anti Teror Polri.

Sehingga Kapolri merasa klop bekerjasama dengan orang yang ia yakini sangat cakap menjalankan  tugas penting sebagai Kadiv Propam Polri.

 

 

 

Irjen Muhammad Iriawan

Irjen Muhammad Iriawan

 

 

 

Saya apresiasi jajaran Polri, khususnya Polda Metro Jaya, dalam menangani berbagai aksi unjuk rasa.

Pendekatan yang santun dan persuasif terus menerus dilakukan Polda Metro Jaya dan Polda Polda lain di Indonesia.

Khusus Kapolda Metro Jaya Muhammad Iriawan.

Beliau aktif turun ke lapangan.

Gesit, tegas, profesional dan berintegritas tinggi.

Saya sekali lagi secara khusus ingi  mengapresiasi leadership atau gaya kepemimpinan Kapolri Tito yang tegas, santun, profesional dan berintegritas tinggi dalam memimpin anak buahnya.

Tito tak segan mencopot bawahan manapun yang payah dan tak cakap dalam bertugas.

Tapi Tito bisa dengan cermat memberikan kepercayaan dan promosi jabatan kepada siapapun yang dianggapnya pantas untuk dinaikkan pangkat dan jabatannya.

 

 

 

B Irjen Raja Erizman

B
Irjen Raja Erizman

 

 

Salah satu yang saya apresiasi adalah pengangkatan Irjen Raja Erizman sebagai Kepala Divisi Hukum Polri.

Selama 6 tahun, Raja tak mendapat promosi karena dianggap bermasalah dalam kasus Gayus Tambunan di tahun 2010.

Padahal saat kasus Gayus Tambunan terjadi, Raja Erizman baru mulai menjabat sebagai Direktur Eksus Bareskrim dua hari setelah proses pelimpahan kedua dalam kasus Gayus Tambunan.

Yang dimaksud dengan proses perlimpahan tahap kedua adalah tanggung jawab hukum penyidik Bareskrim menangani kasus tertentu sudah selesai. Selanjutnya tersangka dan semua barang bukti diserabkan kepada Pihak Jaksa Penuntut Umum di Kejaksaan Agung.

Dua hari setelah Gayus Tambunan diserahkan kepada Pihak Kejaksaan Agung melalui proses pelimpahan tahap kedua itu, barulah Raja Erizman masuk ke Bareskrim.

Oleh karena semua barang bukti sudah diserahkan penyidik Bareskrim kepada Kejaksaan Agung pada proses pelimpahan tahap  kedua, maka berkas berkas lain yang bukan menjadi barang bukti tapi masih ada di Bareskrim, harus dikembalikan.

Salah satunya adalah beberapa surat pemblokiran rekening atas nama Gayus Tambunan di sejumlah bank.

Surat pemblokiran ini memang tidak termasuk dalam barang bukti kasus Gayus sehingga penyidik wajib mengembalikan kepada bank masing-masing.

Surat pemblokiran ini dikembalikan Bareskrim kepada bank masing-masing karena sudah tidak dibutuhkan sebagai bukti hukum.

Oleh karena itu, Raja malah dianggap terlibat dalam kasus Gayus.

Padahal ia belum bertugas di Bareskrim sepanjang Gayus disidik Bareskrim.

Sidang DKP Polri memvonis Raja bersalah dengan uraian kesalahan merusak citra Polri dan hukumannya tidak boleh bertugas selama 1 tahun di Bareskrim.

Tidak jelas citra bagaimana yang dirusak.

Karena kasus itu ramai disorot media maka Raja ikut dikorbankan agar seolah Polri tegas.

Satu rupiahpun Raja tidak menerima uang dari Gayus.

Tudak ada unsur pidana korupsi yang dilakukan Raja.

 

 

 

 

Kapolri Tito Karnavian

Kapolri Tito Karnavian

 

 

 

Selanjutnya melalui kaleidoskop ini, tentu yang harus diapresiasi adalah kerja keras dan kerja hebat Densus 88 Anti Teror.

Lanjutkan terus tugas tugas kalian.

Tetap semangat !

Di bagian akhir tulisan ini, yang akan dicermati dalam catatan akhir tahun Kapolri adalah pengembalian uang negara yang berhasil dilakukan jajaran Polri dalam penanganan kasus kasus Korupsi sepanjang tahun 2016.

Terutama berapa angka pengembalian uang negara yang sudah masuk ke dalam kas negara.

Dalam tradisi penyampaian catatan akhir tahun, 3 institusi penegak hukum akan sama sama merilis berapa jumlah pengembalian uang negara yang berhasil mereka lakukan sepanjang tahun yang sedang berlangsung yaitu 2016.

Ketiga institusi penegak hukum itu adalah KPK, Polri dan Kejaksaan Agung.

Maka ini penting untuk menjadi masukan bagi masing-masing institusi untuk menjadi tolak ukur dan semagat pemberantasan korupsi di tahun 2017 mendatang.

Singkat kata, Polri harus tetap profesional dan semakin profesional.

Apa yang masing kurang, bisa diperbaiki di tahun 2017.

Apa yang sudah baik dan menjadi prestasi Polri tahun ini, bisa ditingkatkan lagi.

Maju terus Kepolisian Indonesia !!! (****)

 

 

 

 

 

 

MS

Advertisements

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: