​Kepada Kapolda Metro, Kapolri Dan Jaksa Agung, Masukkan Pasal 340 dan 351 Kasus Pulomas

Jaksa Agung HM Prasetyo dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian

Jaksa Agung HM Prasetyo dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian

 

 

 

Oleh: Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI

 

 

 

Jakarta, Kamis 19 Januari 2017 (KATAKAMI) — Hari ini jajaran Polda Metro Jaya melakukan rekonstruksi kasus pembunuhan sadis Pulomas.

Penyidik Kepolisian Resort Metro Jakarta Timur menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan sadis yang menyebabkan enam orang meninggal dunia di Pulomas, Jakarta Timur, Rabu (19/1).

Dalam rekonstruksi tersebut, satu pelaku bernama Yus Pane dibawa untuk menjalani 90 adegan dalam rekonstruksi tersebut.

 

 

Rekonstruksi Kasus Pulomas

Rekonstruksi Kasus Pulomas

 

 

 

 

“Hari ini kami gelar rekonstruksi perampokan Pulomas di lokasi, total adegan ada 90. Rekon melibatkan salah satu pelaku, Yus Pane. Sedang dua pelaku lainnya pakai peran pengganti,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, Kamis (19/1/2017).

Dua pelaku lainnya, kata dia, tak ikut dilibatkan lantaran masih dalam proses pemulihan di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur akibat ditembak polisi karena melawan saat hendak ditangkap.

Begitu juga dengan korban, hanya pembantu saja yang ikut menjalani adegan rekonstruksi.

Meski anggota korban ikut hadir dalam rekonstruksi tersebut, yakni keluarga mantan istri kedua Dodi Triono dan orangtua korban.

Namun, semua adegan korban diisi oleh peran pengganti.

“Zanette tak hadir, yang lain diundang untuk menyaksikan jalannya rekonstruksi,” tuturnya.

Adapun materi rekonstruksi dengan prarekonstruksi masih sama saja meski ada sejumlah tambahan adegan.

Adapun adegan yang dilakukan pada rekonstruksi ini, dilakukan sejak para tersangka melakukan pertemuan dan melakukan perencanaan perampokan diseputaran PPulomas, Jakarta Timur, pelaksanaan perampokan di rumah korban.

Hingga perginya tersangka dari rumah korban sambil membawa barang rampokannya.

“Di rumah korban ada 75 adegan, sisanya saat tersangka membuang golok dan menitipkan senjata di Depok, menjual handphone, dan menyiapkan alat perampokannya di Cisarua, Bogor,” tutur dia.

“Untuk penyekapan ada di adegan ke 33, disusul dengan adegan mngambil barang-barang korban. Kasus ini murni perampokan dan tak ada indikasi keterlibatan keluarga. Tersangka pun residivis dengan kasus yang sama,” ungkapnya.

Argo menambahkan, dalam rekonstruksi itu, hadir pula pengacara korban dan Jaksa Penuntut Umum yang bakal menerima berkas kasus perampokan itu dan yang menangani kasusnya.

 

 

 

Almarhum Dodi Triono, Almarhum Gemma, Zanette Kalilla dan Almarhum Diona

Almarhum Dodi Triono, Almarhum Gemma, Zanette Kalilla dan Almarhum Diona

 

 

 

Apa yang bisa saya ulas dari perkembangan kasus Pulomas ini?

Yang paling utama adalah apresiasi terhadap kerja keras jajaran kepolisian dalam menangani kasus ini.

Dan ada satu hal yang membuat saya lebih salut kepada jajaran kepolisian karena beberapa hari lalu, korban selamat dalam kasus ini (Zanette) di izinkan bertemu langsung dengan ketiga pelaku yang saat ini ditahan di Polres Jakarta Timur.

Zanette ingin bertemu dengan para pembunuh keluarganya untuk bertanya apa salah keluarga mereka sehingga ayahnya, kakaknya dan adiknya dibunuh secara sadis.

Anak tuna rungu ini menjerit histeris sangkin tak kuat menahan amarah melihat wajah para pembunuh keluarganya.

Nah, yang kali ini perlu disampaikan kepada jajaran kepolisian dan kejaksaan adalah pasal yang akan diberikan kepada para pelaku harus berlapis.

Tak lama lagi, setelah rekonstruksi selesai dan polisi sudah rampung melakukan penyidikan, kasus ini akan dilimpahkan ke Kejaksaan.
Maka kepada para penyidik dan jaksa penuntut umum, perlu di ingatkan dan diberi masukan agar pasal pasal yang digunakan harus sangat maksimal sesuai dengan kekejaman para pelaku.

Tidak cukup hanya pasal perampokan, pasal penyekapan dan pasal pembunuhan (tanpa kata berencana).

 

 

 

Alm. DIONA

Alm. DIONA

 

 

 

 

Polisi dan Jaksa harus masukkan Pasal 340 Pembunuhan Berencana dengan tuntutan maksimal PIDANA MATI.

Kemudian masukkan juga Pasal 351 ayat 3 tentang Penganiayaan Berakibat Kematian dengan tuntutan maksimal PIDANA KURUNGAN 7 TAHUN.

Mengapa harus ada Pasal 340 Pembunuhan Berencana?

Mereka berempat sudah melakukan survei lokasi terhadap rumah korban sejak 3 hari sebelumnya.

Mereka begitu rapi berbagi tugas dan sudah tahu “dimana” seluruh penghuni rumah harus diamankan setelah dirampok yaitu dikurung di kamar mandi sempit.

Mereka sudah tahu denah rumah sehingga seluruh aksi hanya membutuhkan waktu belasan menit.

Kalau Yus Pane mengatakan bahwa mereka tidak menduga bahwa ke 11 korban akan banyak yang bermatian bila dikurung di kamar mandi maka mulut Yus Pane ini perlu disobek-sobek pakai parang dan dijahit pakai kawat yang di ikat menggunakan paku beton.

Jaha on Yus Pane:

Baba ni amam. Alang te i. Di pamate ho halak. Di dok ho dang di boto ho manang aha? Sip baba mi. Begu attuk. Hatop ma ho mate. Si bolis ma goarmu bah. 

 

 

 

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Muhammad Iriawan, didampingi Direktur Reskrimum Kombes Rudi Heriyanto dan pejabat PMJ menggelar jumpa pers kasus pembunuham Pulomas

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Muhammad Iriawan, didampingi Direktur Reskrimum Kombes Rudi Heriyanto dan pejabat PMJ menggelar jumpa pers kasus pembunuham Pulomas

 

 

 

 

Penyidik harus ingat ini :

Ke 11 korban dikurung dalam kamar mandi sempit, dikunci dari luar, dan blower udara yang menjadi saluran oksigen ke dalam kamar mandi dimatikan oleh pelaku.

Kejahatan mereka ini seperti kejahatan NAZI.

Orang dimasukkan ke dalam ruangan gas beracun untuk mati perlahan lahan.

Dalam kasus Pulomas, ke 11 korban dimasukkan dalam kamar mandi ukuran 1,5 meter dan sengaja tidak diberi oksigen.

Gagang pintu dipatahkan Alm Dodi Triono karena ia sadar ke 11 orang dalam kamar mandi, mereka semua yang disekap, BUTUH OKSIGEN.

Saksi Ahli yang dapat dicari untuk bicara dalam kasus ini bisa menjelaskan ada unsur kesengajaan membunuh disaat blower oksigen dimatikan oleh pelaku.

Poinnya disitu.

 

 

 

Alm Diona dan Alm Gemma

Alm Diona dan Alm Gemma

 

 

 

Kemudian, dari CCTV, dapat disaksikan saat Yus Pane memukuli kepala Almarhum Diona Arika (masih berusia 16 tahun sehingga sesuai Undang Undang yang berlaku di Indonesia maka Diona masih masuk anak dibawah umur).

Kepala Diona dipukuli pakai pistol berulang kali.

Kemudian anak ini diseret paksa dari lantai atas ke lantai bawah.

Anak dibawah umur bernama Diona ini mengalami tindak penganiayaan berat yang berujung pada kematian.

Anak ini menjerit dan berteriak histeris sepanjang penyekapan karena tak kuat menahan luka dan perih di sekujur badannya.

Sehingga Zanette sempat di gigit oleh Diona agar sang adik jangan ikut mati.

Diona sadar bahwa ajal sudah akan menjemputnya.

Diona katakan ia sudah tidak kuat menahan sakit, luka dan perih di sekujur badannya.

Tak lama kemudian Diona mati.

Walau anak ini sudah mati, ia berhak mendapat keadilan.

Yus Pane khususnya, harus dikenakan pasal pasal tambahan, utamanya Pasal 340 tentang pembunuhan berencana dan pasal 351 tentang penganiayaan yang berujung pada kematian.

 

 

 

Saphira, Zanette dan Gemma

Saphira, Zanette dan Gemma

 

 

 

Jadi inilah yang penting disampaikan.

Utamanya kepada:

Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Rudi Heriyanto.

Kapolda Metro Jaya Irjen Muhammad Iriawan.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Dan Jaksa Agung HM Prasetyo.

Beri keadilan kepada korban dan keluarganya seadil-adilnya.

Ini bukan kasus perampokan biasa.

Ini adalah kasus pembunuhan berencana yang mengandung unsur kekerasan, terutama kekerasan terhadap anak dan wanita.

Diatas semua itu, kasus Pulomas adalah kejahatan terhadap kemanusiaan.

Atau dalam bahasa Inggris disebut:

“Crimes Against Humanity”.

Jaksa Penuntut Umum, anda semua sudah melihat bagaimana kerja keras yang sangat hebat dari jajaran kepolisian mengungkap kasus sadis ini.

Maka bapak bapak JPU di Kejaksaan yang akan menangani kasus Pulomas, jangan letoi dan jangan masuk angin saat nanti menangani kasus ini pasca pelimpahan tahap 2 dari kepolisian.

Cantumkan dalam tuntutan anda nanti di persidangan bahwa ketiga pelaku dituntut dengan “PIDANA MATI”.

Titik.  (****)

 

 

 

MS

 

Advertisements

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: