Soal Istri Jenderal Polisi Yang Menampar Petugas Bandara Manado

Joice Waraow saat menampar petugas bandara

 

 

 

Oleh: Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI

 

 

 

Jakarta, Kamis 6 Juli 2017 (KATAKAMI) — Indonesia tersentak saat membaca berita bahwa seorang istri Jenderal Polisi menampar petugas bandara di Manado.

Petugas bandara yang digampari itu bernama Elisabet Wehantow.

Mengutip pemberitaan dari VIVANEWS, dituliskan sebagai berikut:

 

Elisabet Wehantow, petugas Avsec Bandar Udara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, mengaku telah berlaku sopan kepada Joice Warouw, istri jenderal polisi yang melakukan penamparan ke wajahnya.

Menurut Elisabet, saat kejadian penamparan, dia mengaku sudah melaksanakan tugasnya sesuai prosedur yang berlaku dan secara profesional. Bahkan dia terkejut ketika tamparan tangan Joice mendarat di wajahnya.

“Kalau menurut saya, saya sudah melakukan seperti yang sesuai prosedur, kalau mungkin ibunya kurang senang, saya juga kurang tahu. Tapi saya bisa pastikan bahwa sikap saya waktu itu, sangat-sangat profesional memperlakukan selayaknya penumpang,” kata Elisabet saat memberikan keterangan resmi di Bandara Sam Ratulangi, Kamis, 6 Juli 2017.

Elisabet mengatakan, dalam melaksanakan tugas memeriksa penumpang, dia tak pernah membeda-bedakan status sosial orang yang akan diperiksanya, termasuk terhadap Joice

“Saya tidak menganggap dia penumpang ini dengan status sosialnya yang pasti semua penumpang berhak kami periksa,” kata Elisabet.

Elisabet menuturkan, dia akan terus memproses kasus itu melalui jalur hukum meski Joice diketahui merupakan istri dari pejabat di Lemhanas.

“Tetap diusut, saya serahkan pada pihak yang berwenang,” katanya.

Seperti diketahui, penamparan itu terekam dalam sebuah video berdurasi singkat, dalam rekaman itu terlihat jelas Joice sedang marah kepada korban dan menampar wajah korban dengan tangannya.

Penamparan terjadi kemarin, Rabu, 5 Juli 2017, sekira pukul 07.46 WITA di tempat pemeriksaan Walk Through Metal Detector (WTMD)  di Security Check Point (SCP) 2 bandara.

Saat itu Joice dan anaknya hendak terbang menuju Jakarta dengan menumpangi pesawat Batik Air ID6275. Tapi ketika melewati WTMD, alarm berbunyi.

 

Karena itulah korban dan petugas lainnya meminta Joice agar kembali untuk dilakukan pemeriksaan ulang. Joice juga diminta untuk melepaskan jam tangan, karena sesuai prosedur yang berlaku bahan yang mengandung unsur logam wajib dilepaskan untuk dilakukan pemeriksaan, demikian diberitakan VIVANEWS.

 

 

 

 

Foto atas saat Sonya Depari ditilang. Foto bawah saat Sonya Depari telah berdamai dengan sang polwan.

 

 

Lalu apa yang bisa saya ulas dari kasus ini?

Mari saya ajak anda mengingat sebuah peristiwa yang terjadi tahun 2016 lalu.

Tahun 2016 lalu, Perwira Unit Patwal Satuan Lalulintas Polresta Medan, Inspektur Dua (Ipda) Perida Panjaitan, dimaki-maki oleh seorang siswi SMA.

Akpol tahun 2013 itu dimaki-maki siswi sekolah berinisial Sonya Ekarina Depari.

Sonya adalah keponakan dari Deputi Pemberantasan Narkoba Badan Narkotika Nasional (BNN), Inspektur Jenderal Arman Depari.

Tapi saat memaki-maki polwan itu, Sonya mencatut nama Irjen Arman Depari sebagai ayah kandungnya.

Aksi Sonya Ekarina br Sembiring Depari itu terekam dalam kamera awak media di Medan yang kemudian beredar luas di masyarakat.

Dalam aksinya, Sonya tidak sendiri.

Dia bersama beberapa temannya menumpang mobil Brio bernomor polisi BK 1528 IG, dan disetop oleh Polwan berpangkat inspektur dua yang tengah mengatur lalu lintas Kota Medan, Rabu 6 April 2016.

Sang Polwan, Ipda Perida, berupaya memperingatkan para siswi tersebut karena melanggar lalu lintas.

Namun, salah seorang di antara siswi itu tidak terima, dan malah balik memarahi Perida sambil menunjuk-nunjuk dan mengancam sang Polwan.

Usai berdebat, Polwan tersebut tidak menilang Sonya dan kawan-kawannya.

Sebaliknya dia mempersilakan para siswa kembali ke mobil dan meminta mereka pulang dan tidak berkonvoi.

 

 

 

 

 

 

 

Peristiwa di Medan inilah, yang agak sepadan perbandingannya dengan kasus yang terjadi kemarin pagi di Bandara Sam Ratulangi Manado.

Bedanya adalah, Sonya Depari hanya perang mulut dengan polwan.

Sedangkan Joice Warouw, yang merupakan istri dari Brigjen Pol. Johan Sumampouw yang saat ini berdinas di Lemhanas, terjadi aksi kekerasan fisik yaitu menampar wajah petugas bandara.

Tahun lalu, saat Irjen Arman Depari tahu bahwa namanya telah dicatut oleh keponakannya sendiri, dan kelakuan keponakannya memang sangat memalukan, Irjen Arman Depari justru berinisiatif meminta maaf kepada rakyat Indonesia melalui media massa.

Tindakan Irjen Arman Depari ini sangat saya puji dan sangat saya apresiasi.

Artinya, kesalahan diakui.

Dan atas nama keluarga, mereka meminta maaf kepada sang polwan, juga kepada rakyat Indonesia.

Irjen Arman Depari bersikap kesatria.

Padahal Irjen Arman Depari tidak bersalah samasekali.

Sonya itu bukan anaknya tapi nama Irjen Arman Depari diaku sebagai ayahnya.

Tapi agar jangan berkepanjangan berita berita di media, Irjen Arman Depari meminta maaf kepada masyarakat Indonesia melalui media.

Sehingga nama baik korps, baik itu Polri maupun BNN, tidak ternodai.

 

 

 

 

Kapolri Tito Karnavian

 

 

 

Tapi kini, apa yang terjadi?

Sudah masuk pada hari kedua, tak ada samasekali permintaan maaf dari Polri, Lemhanas, Ny Tri Tito Karnavian sebagai Ketua Umum Bhayangkari dan khususnya dari Keluarga Brigjen Pol Johan Sumampouw.

Yang terjadi malah sebaiknya.

Joice Warouw malah melaporkan petugas bandara yang sudah digamparinya itu.

Hei Polri, Ibu Joice itu salah !

Bagaimana sih?

Mengapa Polri harus meminta maaf?

Sebab Brigjen Johan Sumampouw adalah perwira tinggi Polri aktif.

Mengapa Lemhanas harus meminta maaf?

Sebab Brigjen Johan Sumampouw saat ini sedang ditugaskan Mabes Polri ke Lemhanas. Dan yang memimpin Lemhanas saat inipun, Perwira Tinggi Polri bintang 3 yaitu Komjen Pol Arief Wachyunadi.

Mengapa istri Kapolri, Ny Tri Tito Karnavian harus minta maaf? Atau paling tidak berinisiatif meminta Ibu Joice Warouw meminta maaf kepada korban.

Hei Ibu Tito, anda itu Ketua Umum Bhayangkari. Dan yang menggampar petugas bandara adalah ibu bhayangkari.

Dan mengapa Keluarga Brigjen Johan Sumampouw harus meminta maaf?

Harus dong.

Istri anda seperti preman yang sangat bar bar menggampari petugas bandara.

Kita semua patut kecewa pada kepemimpinan Kapolri Jenderal Tito Karmavian dan Mabes Polri.

Kasus ini seakan mau ditutup-tutupi.

Yang bersalah malah membuat laporan polisi.

Copot Kapolda Sulut kalau tidak bisa menegakkan hukum secara baik dan benar.

Dan silahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengundurkan diri jika tak mampu memimpin.

Tindakan bar bar dari istri seorang jenderal dan terkesan sengaja ditutup-tutupi oleh Mabes Polri bukanlah cerminan motto Promoter yang dikampanyekan Kapolri.

Promoter adalah Profesional, Modern, Terpercaya.

Tindakan main gampar begitu, apa pantas disebut modern?

Yang bersalah malah petentengan.

Yang menjadi korban, tidak dibela.

Saya mengecam aksi kekerasan keluarga besar Polri.

Bikin malu.

Shame on you, Ibu Joice Warouw !!! (***)




MS



Advertisements

About KATAKAMI.COM

Hello Friends. Thanks for visit. My name is Mega Simarmata in Jakarta, Indonesia

Comments are closed.

%d bloggers like this: